Korban Tewas Gempa M 7,8 di Filipina Bertambah Jadi 30 Orang, Puluhan Ribu Warga Mengungsi

DETIKMERDEKA – Jumlah korban jiwa akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,8 yang mengguncang wilayah selatan Filipina, pada Senin, 8 Juni 2026, bertambah menjadi tiga orang. Gempa kuat tersebut juga memicu peringatan tsunami di sejumlah negara di kawasan Pasifik.

Gempa berpusat di lepas pantai dekat Kota General Santos, Filipina selatan. Guncangan kuat dirasakan di berbagai wilayah dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan.

Kawasan General Santos yang dihuni sekitar 720.000 penduduk menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup parah. Warga berhamburan keluar rumah dan bangunan untuk menyelamatkan diri saat gempa terjadi.

Situasi semakin mencekam setelah serangkaian gempa susulan berkekuatan besar kembali mengguncang wilayah tersebut sekitar dua jam setelah gempa utama.

Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan dampak kerusakan yang ditimbulkan. Rekaman yang telah diverifikasi AFP menunjukkan sebuah pusat perbelanjaan yang di dalamnya terdapat restoran cepat saji Jollibee runtuh hingga menjadi puing-puing.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan. Sebuah gedung sekolah dilaporkan ambruk akibat guncangan. Beruntung, bangunan tersebut tidak sedang digunakan saat kejadian.

“Ya Tuhan, ini benar-benar runtuh! Gedung ini benar-benar runtuh!” teriak seorang warga dalam rekaman saat gedung sekolah tersebut roboh.

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (Pacific Tsunami Warning Center/PTWC) sempat mengeluarkan peringatan potensi tsunami. Gelombang tsunami diperkirakan dapat terjadi dalam waktu tiga jam setelah gempa di wilayah pesisir Filipina, Indonesia, Palau, Taiwan, dan Papua Nugini.

Petugas kepolisian mulai mendata korban dan kerusakan di sejumlah lokasi terdampak.

Mayor Polisi Roland Catoburan mengatakan dua korban meninggal dunia akibat tertimpa tembok yang runtuh di Alabel, sebuah kota yang berada dekat dengan General Santos.

Sementara itu, Sersan Kepala Robert Dagon dari Kepolisian General Santos mengonfirmasi satu korban meninggal lainnya. Empat warga juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat gempa.

“Banyak bangunan yang terdampak, tetapi kami belum bisa memberikan rincian karena masih fokus pada operasi penyelamatan yang sedang berlangsung,” ujar Dagon kepada AFP.

Pemerintah Filipina langsung mengambil langkah darurat setelah menerima laporan kerusakan dan korban.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., memerintahkan penghentian sementara kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak di Pulau Mindanao. Pemerintah juga meminta warga yang tinggal di kawasan pesisir segera meninggalkan rumah dan menuju tempat yang lebih aman.

“Pindah ke tempat yang lebih tinggi sekarang. Jangan menunggu. Hidup Anda lebih penting daripada apa pun yang tertinggal,” tegas Marcos.

Proses evakuasi dilakukan secara besar-besaran. Ribuan warga meninggalkan kawasan pantai untuk menghindari risiko gelombang tsunami maupun gempa susulan.

Kota Kiamba yang berada tidak jauh dari pusat gempa menjadi salah satu wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar. Sekitar 50.000 warga telah dievakuasi ke sejumlah lokasi yang dianggap aman.

Kepala Penanggulangan Bencana Regional, Agripino Dacera, mengatakan sebagian besar penduduk telah mengikuti instruksi evakuasi.

“Hingga saat ini, 80 persen penduduk telah mengungsi. Seluruh desa di sepanjang garis pantai telah diperintahkan menuju pusat-pusat evakuasi,” katanya.

Aktivitas transportasi udara di wilayah terdampak juga terganggu. Otoritas setempat menutup operasional Bandara General Santos untuk sementara waktu guna memastikan keselamatan masyarakat dan mendukung proses penanganan darurat.

Tim penyelamat masih melakukan pencarian korban di sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan parah. Petugas juga terus melakukan pendataan terhadap bangunan yang terdampak gempa.

Pemerintah Filipina mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Sejumlah wilayah di Pulau Mindanao hingga kini masih berada dalam status siaga sambil menunggu hasil evaluasi lebih lanjut dari otoritas kebencanaan setempat.