DETIKMERDEKA – Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, komando militer utama Iran, pada Rabu mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Iran menegaskan akan memblokir seluruh ekspor minyak dari kawasan Asia Barat dan menyerang infrastruktur minyak, gas, listrik, serta fasilitas ekonomi di kawasan apabila Washington melancarkan serangan terhadap infrastruktur Iran. Informasi tersebut dilaporkan oleh media China, CGTN, yang mengutip pernyataan media Iran.
Pernyataan itu muncul sebagai respons atas ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut negaranya siap menyerang jembatan maupun pembangkit listrik di Iran, sebagaimana dilaporkan CGTN.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu, Trump mengatakan bahwa setiap serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz akan dibalas dengan serangan terhadap “SATU JEMBATAN ATAU PEMBANGKIT LISTRIK”, termasuk fasilitas yang berada di sekitar maupun di dalam wilayah Teheran, ibu kota Iran.
Sementara itu, eskalasi konflik di kawasan masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda mereda. Menurut laporan CGTN, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melaksanakan serangan udara ke-12 secara berturut-turut terhadap Iran pada Rabu.
“Misi ini akan terus melemahkan kemampuan Iran untuk mengancam pelaut sipil dan kapal komersial yang melintasi perairan regional,” demikian pernyataan CENTCOM.
Di tengah meningkatnya ketegangan, aktivitas pelayaran komersial di Selat Hormuz dan Selat Bab al-Mandab mengalami penurunan tajam. CGTN melaporkan Iran bersama sejumlah negara di kawasan memperketat pengawasan di kedua jalur pelayaran strategis tersebut, sehingga kapal-kapal komersial menghadapi ketidakpastian keamanan saat melintas.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga merupakan negosiator utama negara itu, turut menyampaikan peringatan melalui akun X pada Rabu malam. Ia menegaskan bahwa “persamaan perang ini jelas: semuanya atau tidak sama sekali!”
Ghalibaf kemudian menulis, “Di wilayah di mana kita tidak menjual minyak, tidak akan ada yang menjual minyak. Jika keamanan kita tidak terjamin, tidak ada infrastruktur yang akan aman, dan keamanan selat tersebut tidak akan terjamin tanpa kehadiran pasukan Amerika. Kami telah berulang kali mengatakan bahwa situasi di selat tersebut tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang.”
Mengutip data Kpler, platform analitik yang memantau pengiriman maritim secara real time, CGTN melaporkan lalu lintas kapal di kedua selat tersebut merosot pada Selasa. Jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun 31 persen dibandingkan hari sebelumnya menjadi sembilan kapal, sedangkan lalu lintas di Selat Bab al-Mandab berkurang 34 persen menjadi 29 kapal di tengah memburuknya kondisi keamanan.
Berkurangnya aktivitas pelayaran tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak hingga mencapai 95 dolar AS per barel, yang merupakan level tertinggi dalam enam pekan terakhir, menurut laporan CGTN.
Selain mengguncang pasar energi global, konflik yang terus berlangsung juga menyebabkan bertambahnya korban jiwa di kedua belah pihak. Berdasarkan laporan CGTN, Departemen Pertahanan Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 18 personel militer AS tewas sejak serangan dimulai pada Februari, sementara sekitar 500 lainnya mengalami luka-luka. Di pihak Iran, Kementerian Kesehatan Iran menyebut sedikitnya 53 orang tewas akibat serangan Amerika Serikat sejak 27 Juni, termasuk tiga anak.






