DETIKMERDEKA – Ketegangan di Selat Taiwan bukan hanya persoalan antara Beijing, Taipei, dan Washington. Jika konflik bersenjata benar-benar pecah, dampaknya diperkirakan akan menjalar ke berbagai negara serta mengguncang perdagangan dan perekonomian dunia.
Direktur American Institute in Taiwan (AIT), Raymond Greene, bahkan memperingatkan bahwa kerusakan ekonomi akibat konflik di kawasan tersebut berpotensi melampaui dampak Perang Dunia II. Pernyataan itu disampaikan Greene dalam sebuah forum pertahanan di Taipei, Rabu, seperti dilansir Al Jazeera.
Peringatan tersebut tidak terlepas dari posisi Taiwan dalam rantai pasok global. Stabilitas Selat Taiwan menjadi kepentingan banyak negara karena kawasan itu merupakan salah satu jalur penting perdagangan internasional. Taiwan juga memiliki posisi strategis dalam industri teknologi dunia.
Menurut laporan Al Jazeera, Greene menilai menjaga perdamaian di Selat Taiwan menjadi salah satu agenda internasional yang paling mendesak. Konflik tidak hanya berisiko menimbulkan korban jiwa, tetapi juga dapat mengganggu arus barang, investasi, energi, dan produksi berbagai industri.
Pernyataan Greene disampaikan beberapa minggu sebelum Presiden Tiongkok Xi Jinping diperkirakan berkunjung ke Washington untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pertemuan tersebut dinilai dapat menjadi ruang penting bagi kedua negara untuk meredakan ketegangan.
Greene berharap pertemuan tingkat tinggi AS–Tiongkok dapat memperkuat stabilitas strategis yang berlandaskan keadilan dan hubungan timbal balik. Dialog langsung dinilai penting untuk mencegah kesalahpahaman maupun kesalahan perhitungan yang dapat memicu konflik lebih luas.
Dilansir Al Jazeera, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump menempatkan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik sebagai salah satu prioritas utama. Upaya tersebut dilakukan melalui diplomasi tingkat tinggi, penguatan kehadiran AS, serta peningkatan kemitraan dengan negara-negara di Asia Pasifik.
Washington juga terus mendukung Taiwan untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya. Meski tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taipei, Amerika Serikat selama ini menjadi pendukung internasional sekaligus pemasok persenjataan utama bagi pulau tersebut.
Di sisi lain, Tiongkok menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Pemerintah Taiwan di bawah Presiden William Lai Ching-te menolak klaim Beijing tersebut dan terus mendorong modernisasi militernya sebagai langkah menghadapi potensi ancaman.
Pemerintah Taiwan telah menyiapkan anggaran pertahanan tahun depan lebih dari 1 triliun dolar Taiwan atau sekitar 31,76 miliar dolar AS. Berdasarkan laporan Al Jazeera, angka tersebut menjadi belanja pertahanan Taiwan yang untuk pertama kalinya menembus level 1 triliun dolar Taiwan.
Peningkatan anggaran itu menunjukkan bahwa ketegangan di Selat Taiwan tidak lagi dipandang sebagai risiko yang jauh. Bagi dunia, perdamaian di kawasan tersebut bukan hanya perkara keamanan, melainkan juga menyangkut kelangsungan perdagangan, industri teknologi, dan stabilitas ekonomi global.






