DETIKMERDEKA – Menjelang pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 pada 2026, mayoritas responden dari berbagai negara menilai pengaruh kelompok tersebut dalam percaturan internasional semakin kuat. Temuan itu berasal dari survei CGTN terhadap 12.250 responden berusia 18 tahun ke atas di 41 negara.
Lebih dari enam dari sepuluh responden menilai BRICS semakin berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir. Sebanyak 63 persen responden juga memberikan penilaian positif terhadap kontribusi BRICS dalam memperbaiki sistem tata kelola global. Tingkat persetujuan bahkan melampaui 60 persen di 25 dari 41 negara yang menjadi lokasi survei.
Responden terutama mengapresiasi peran BRICS dalam membantu negara berkembang mendorong pemulihan ekonomi global dan pertumbuhan perdagangan. Selain itu, kelompok tersebut dinilai ikut memperkuat suara negara-negara berkembang dalam reformasi tata kelola global serta mendukung perdagangan internasional di tengah meningkatnya proteksionisme dan penerapan sanksi sepihak.
KTT BRICS ke-18 digelar setelah kelompok tersebut menyelesaikan dua putaran perluasan keanggotaan dan membentuk mekanisme negara mitra. Setelah perluasan, BRICS terdiri atas 11 anggota penuh dan 10 negara mitra yang tersebar di Asia, Afrika, Amerika Latin, serta Timur Tengah.
Sebanyak 61,6 persen responden berpandangan bahwa kerja sama dalam BRICS yang diperluas dapat mendorong terbentuknya tatanan internasional yang lebih adil dan setara. Dukungan tertinggi berasal dari kelompok usia 25–34 tahun dengan angka 66,6 persen. Tingkat persetujuan di negara-negara Global South juga tercatat 26,4 poin persentase lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju.
Di sektor keuangan, Bank Pembangunan Baru atau New Development Bank telah menyetujui 139 proyek dengan nilai pinjaman mencapai 42,9 miliar dolar AS. Negara-negara BRICS juga terus menjajaki penggunaan mata uang lokal dalam transaksi serta pengembangan sistem pembayaran lintas batas.
Upaya tersebut mendapat penilaian positif dari 65,6 persen responden. Mereka menilai penggunaan mata uang lokal dan pengembangan sistem moneter yang lebih beragam dapat memperkuat posisi negara-negara Global South dalam tata kelola keuangan dunia. Pandangan serupa juga disampaikan oleh lebih dari separuh responden di negara-negara maju.
China, sebagai salah satu negara pendiri BRICS, menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat kerja sama di dalam kelompok tersebut. Berdasarkan data Administrasi Umum Bea Cukai China, nilai perdagangan barang antara China dan negara anggota serta mitra BRICS mencapai 6,11 triliun yuan pada semester pertama 2025. Nilai tersebut setara dengan 28,1 persen dari keseluruhan perdagangan luar negeri China.
Dalam survei itu, responden mengidentifikasi tiga kontribusi utama China terhadap BRICS, yakni membuka peluang melalui pasar domestiknya yang besar, berperan dalam pendirian Bank Pembangunan Baru untuk mendanai proyek infrastruktur, serta menawarkan gagasan untuk memperkuat kerja sama dan tata kelola global.
CGTN menyebut survei tersebut melibatkan masyarakat umum dari sejumlah negara maju dan negara Global South. Komposisi sampel disesuaikan dengan distribusi penduduk masing-masing negara berdasarkan usia dan jenis kelamin.






