DETIKMERDEKA – Tim dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengungkap kondisi terbaru Febiona Purba, siswi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang menjadi korban dugaan gangguan kesehatan Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Agustus 2026 lalu.
Febiona dirujuk ke RSCM sejak Sabtu, 12 September 2026 bersama Agnesia Paruliana Silitonga. Agnesia juga merupakan korban dugaan keracunan MBG dan sebelumnya disebut mengalami gangguan fungsi ginjal.
Direktur Medik dan Keperawatan RSCM Dr. Renan Sukmawan, mengatakan kondisi kedua pasien sejak awal datang tidak membutuhkan perawatan intensif. Keduanya dirawat di ruang rawat biasa dan masih dapat berkomunikasi dengan baik.
“Jadi perawatannya di ruang rawat biasa, kira-kira gitu ya. Pasien dapat berkomunikasi dan kemudian kontak baik. Kedua adik kita ini sudah kita rawat dan alhamdulillah saya ingin menyampaikan bahwa hari ini kondisi sudah saya rasa sih sudah baik dan jauh lebih baik,” kata Renan dalam konferensi pers di RSCM, pada Rabu, 16 September 2026.
Renan mengatakan tim dokter kini berfokus pada proses pemulihan keduanya. RSCM berharap Febiona dan Agnesia segera dapat kembali ke rumah dan bersekolah sambil menjalani perawatan lanjutan.
“Insya Allah segera kami rencanakan rawat jalan, ya. Supaya adik-adik kita, anak-anak kita ini cepat sekolah kembali. Dan saya kira ini tugas kita di RSCM ini untuk menangani sebaik-baiknya perawatan dan segala hal yang diperlukan sampai nanti persiapan untuk rawat jalannya,” ucap Renan.
Dokter Bantah Febiona Hilang Ingatan
RSCM juga membantah dugaan Febiona mengalami hilang ingatan hingga 70 persen setelah insiden keracunan MBG.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSCM, Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, mengatakan pemeriksaan menunjukkan ingatan Febiona baik. Pemeriksaan dilakukan melalui wawancara klinis dan elektroensefalografi (EEG).
“Yang jelas pada saat saya periksa saat ini, ananda (Febiona) ingatannya sangat baik, ya. Memori jangka pendek maupun jangka panjangnya. Dan juga pemeriksaan elektroensefalografi juga tidak menunjukkan gangguan apa pun,” ujar Handry.
Handry juga menjelaskan soal diagnosis awal yang sempat mengarah pada dugaan gangguan fungsi saraf pusat. Hasil evaluasi tidak menemukan masalah pada organ otak Febiona.
Menurutnya, kondisi yang dialami Febiona lebih mengarah pada kejadian yang menyerupai kejang. Namun, kondisi tersebut bukan epilepsi.
“Diagnosis dari neurologi anak adalah paroksismal non-epileptiform event, ya. Jadi bahasa awamnya adalah suatu serangan tiba-tiba yang bukan merupakan suatu kejang sebetulnya, dan juga bukan problem organ dari otak itu sendiri,” jelasnya.
Tim RSCM juga memeriksa kondisi psikologis Febiona. Rujukan medis awal sebelumnya menduga Febiona mengalami kondisi psikotik setelah insiden keracunan massal tersebut.
Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja RSCM, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, mengatakan pemeriksaan klinis tidak mendukung dugaan gangguan psikotik. Menurut dia, gejala yang ditemukan lebih mengarah pada serangan panik akibat tekanan yang dialami Febiona.
“Ketika kami telusuri di sini, kelihatannya kondisi itu (gangguan psikotik) kurang mendukung. Yang pasti mendukung adalah adanya beberapa serangan panik dalam waktu satu bulan ini. Sehingga ketika dia mengalami tekanan yang besar, lalu kepanikan itu muncul, lalu diduga sebagai sesuatu yang seperti psikotik,” papar Tjhin.
Tjhin mengatakan kondisi kognitif Febiona saat ini baik dan stabil. Ia juga dapat menceritakan kembali kejadian serta kondisi tubuh yang dirasakan.
“Dia tahu dia di mana, dia tanggal berapa, hari apa, siapa, dia semuanya tahu. Jadi saya tidak melihat adanya disorientasi atau ada masalah pada memori kerjanya,” ucapnya.
Kondisi Febiona dan Agnesia kini berangsur membaik. Keduanya ditempatkan di ruang perawatan VIP standar Kencana RSCM untuk mendukung kenyamanan selama menjalani perawatan.
RSCM memproyeksikan keduanya dapat kembali ke rumah pada akhir pekan. Setelah itu, kondisi mereka akan dipantau melalui koordinasi dengan dokter yang menangani di Sumatera Utara.
Renan mengatakan dukungan lingkungan juga dibutuhkan agar kedua pasien bisa kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Ia meminta masyarakat dan media memberi ruang kepada Febiona dan Agnesia setelah keluar dari rumah sakit.
“Kita mengajak semua pihak ya untuk memberi kesempatan anak-anak, adik-adik kita ini untuk tenang kembali. Tidak diwawancara atau apa di media dan sebagainya sehingga bisa kembali (beraktivitas). Karena dengan usia remaja seperti ini, menjadi pusat perhatian juga bisa menjadi hal yang tidak nyaman dari segi psikiatris,” tutup Renan.
RSCM akan melanjutkan koordinasi dengan dokter di Sumatera Utara setelah kedua pasien dipulangkan.[]






