Negosiasi AS–Iran Masih Buntu, Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Menurun Tajam

DETIKMERDEKA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran ingin segera mencapai kesepakatan dengan Washington. Namun, pemerintah Teheran menegaskan tidak akan membuka perundingan sebelum persyaratan yang diajukannya dipenuhi.

Melalui unggahan di Truth Social pada Senin, Trump mengklaim Iran ingin mencapai kesepakatan “dengan cepat dan sungguh-sungguh”. Ia juga menegaskan bahwa keputusan untuk memulai dialog dengan Teheran berada di tangannya.

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan sikap Iran. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan negaranya belum bersedia kembali ke meja perundingan.

“Kami tidak akan bernegosiasi sampai syarat-syarat Iran dipenuhi,” kata Rezaei dalam pernyataan yang dipublikasikan media pemerintah Iran, sebagaimana diberitakan Al Jazeera.

Belum tercapainya kesepakatan turut berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia. Berdasarkan data awal pelacakan kapal yang dikutip Al Jazeera, jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi kawasan tersebut turun menjadi kurang dari 10 kapal per hari selama akhir pekan.

Angka itu berada jauh di bawah rata-rata pergerakan kapal dalam 10 hari sebelumnya, yakni sekitar 14 kapal per hari. Pembatasan lalu lintas terjadi di tengah tingginya risiko keamanan akibat konflik dan perselisihan antara Washington dan Teheran.

Ketegangan kedua negara juga terlihat dalam perbedaan keterangan mengenai insiden yang menimpa El Gaia, kapal tanker minyak berukuran besar berbendera Panama.

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyebut El Gaia meledak dan terbakar setelah menabrak ranjau laut. Menurut IRGC, kapal tersebut ketika itu berusaha melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang dinyatakan terlarang di bagian selatan perairan.

Upaya pemadaman dilaporkan tidak berhasil hingga api melalap seluruh bagian kapal. Keterangan tersebut disampaikan melalui Sepah News, kantor berita resmi milik IRGC.

Komando Pusat Amerika Serikat memberikan keterangan berbeda. Militer AS membantah kapal tersebut rusak akibat ranjau laut dan menyatakan El Gaia telah dihantam rudal Iran pada bulan sebelumnya. Serangan itu, menurut pihak AS, membuat kapal tanker tersebut tidak lagi dapat dioperasikan.

Di tengah perbedaan klaim tersebut, Misi Pencarian Fakta Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Iran menyerukan penghentian permusuhan. Seluruh pihak yang terlibat juga diminta mematuhi ketentuan hukum internasional secara ketat, terutama mengenai perlindungan terhadap warga sipil.

Seruan itu disampaikan setelah terjadinya rangkaian serangan udara AS di wilayah selatan Iran. Salah satu serangan dilaporkan menghantam sebuah rumah di Kota Kuhestak, Provinsi Hormozgan, pada 1 September.

“Meskipun bersikeras bahwa militernya tidak menargetkan warga sipil, pada 1 September, serangan udara AS menghantam sebuah rumah di Kota Kuhestak, Provinsi Hormozgan, tempat perayaan pernikahan dilaporkan sedang berlangsung,” demikian pernyataan misi pencarian fakta PBB yang dimuat dalam situs Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Informasi tersebut, menurut misi PBB, diperoleh dari laporan dan keterangan yang dinilai dapat dipercaya. PBB mendesak penghentian serangan untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban sekaligus membuka ruang bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.