DETIKMERDEKA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai membutuhkan pengelolaan yang disiplin dan tidak memberi ruang bagi kelalaian. Karena itu, langkah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menindak jajaran yang dianggap tidak menjalankan tugas secara profesional mendapat dukungan dari LBH Tani Nusantara.
Ketua Umum LBH Tani Nusantara, Itho Simamora, mengatakan ketegasan tersebut menunjukkan bahwa Program MBG tidak boleh dijalankan asal selesai.
Menurutnya, setiap orang yang terlibat harus bekerja serius karena program ini menyangkut kebutuhan gizi jutaan anak Indonesia sekaligus menyangkut nasib petani sebagai pemasok bahan pangan.
“MBG bukan sekadar program makan gratis. Program ini menjadi harapan anak-anak Indonesia untuk mendapatkan asupan gizi yang baik, sekaligus membuka pasar bagi hasil panen petani. Karena itu, pengelolaannya harus benar-benar disiplin,” kata Itho dalam pernyataan tertulis yang diterima detikmerdeka.
Ia menilai langkah Sudaryono melakukan evaluasi internal menjadi pesan yang jelas bagi seluruh jajaran BGN. Siapa pun yang lalai harus siap menerima konsekuensi.
Menurut Itho, kepemimpinan tidak hanya dinilai dari banyaknya kebijakan yang dibuat. Pemimpin juga harus berani mengambil keputusan ketika menemukan pelanggaran di internal organisasi.
Salah satu langkah yang menjadi perhatian publik terkait keputusan Sudaryono memindahkan tugas seorang Koordinator Wilayah (Korwil) yang kedapatan tidak fokus mengikuti rapat karena menggunakan telepon genggam saat pengarahan berlangsung. Keputusan itu diambil langsung di hadapan jajaran BGN sebagai bentuk penegakan disiplin internal.
Ketegasan serupa juga terlihat saat BGN menangani kasus dugaan keracunan massal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah. Sebanyak 707 siswa dan guru mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi pada 31 Juli 2026.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BGN langsung menghentikan sementara operasional SPPG Karangturi sambil menunggu hasil investigasi. BGN juga mengeluarkan surat peringatan kepada pengelola SPPG, yayasan mitra, Koordinator Camat (Korcam), hingga pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam rantai pelaksanaan program.
Sudaryono menegaskan penghentian operasional dilakukan agar proses investigasi berjalan menyeluruh dan menjadi bahan evaluasi untuk mencegah kejadian serupa.
Selain itu, BGN juga melakukan evaluasi terhadap sejumlah pegawai yang dinilai tidak menjalankan tugas sesuai standar operasional. Dalam beberapa kesempatan, Sudaryono menegaskan tidak akan ragu memberikan sanksi, termasuk pencopotan jabatan maupun pemberhentian pegawai yang terbukti lalai atau melanggar aturan dalam pelaksanaan Program MBG.
Menurut LBH Tani Nusantara, langkah tersebut menunjukkan bahwa pembenahan di tubuh BGN tidak hanya sebatas pernyataan, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata. Penegakan disiplin dinilai menjadi syarat penting agar program yang melibatkan anggaran besar dan menyasar jutaan penerima manfaat dapat berjalan dengan baik.
“Ketegasan seperti ini merupakan pesan yang sangat jelas bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak boleh dijalankan secara asal-asalan. Seluruh jajaran harus memiliki integritas, kedisiplinan, dan keseriusan karena program ini menyangkut masa depan jutaan anak Indonesia,” ujar Itho.
Itho yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia mengatakan keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kualitas orang-orang yang menjalankan program tersebut.
Menurutnya, disiplin aparatur akan berdampak langsung pada kualitas pelayanan, ketepatan distribusi, keamanan pangan, hingga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.
Ia juga menilai langkah BGN memperketat pengawasan dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan merupakan bagian dari upaya membangun lembaga yang profesional dan akuntabel.
“Kalau ada yang bekerja tidak sesuai aturan, ya harus dievaluasi. Kalau ada yang lalai, harus diberi sanksi. Justru seperti itulah cara membangun lembaga yang kuat dan dipercaya masyarakat,” katanya.
Itho menambahkan, keberhasilan Program MBG juga akan berdampak langsung kepada petani. Semakin baik tata kelola program, semakin besar peluang hasil pertanian lokal diserap sebagai bahan baku dapur MBG.
Karena itu, ia berharap pembenahan yang dilakukan BGN terus dilanjutkan agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.
“LBH Tani Nusantara siap mendukung setiap upaya perbaikan tata kelola BGN demi memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai tujuan, memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, serta menjadi salah satu fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.






