DETIKMERDEKA – Rusia dan Ukraina kembali saling melancarkan serangan berskala besar pada Minggu (20/7). Moskow mengklaim berhasil menguasai sebuah permukiman di wilayah Dnipropetrovsk, sementara Kyiv mengonfirmasi serangan jarak jauh terhadap sejumlah fasilitas energi strategis di dalam wilayah Rusia serta kapal tanker minyak di Laut Hitam. Dilansir dari CGTN, eskalasi terbaru ini menunjukkan konflik kedua negara masih terus meningkat.
Dikutip dari CGTN, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pasukannya telah merebut Vilne, sebuah permukiman yang berada di bagian timur wilayah Dnipropetrovsk. Dalam laporan harian medan perang, Rusia juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap 149 lokasi di berbagai wilayah Ukraina sepanjang hari.
Kementerian Pertahanan Rusia menyebut operasi tersebut melibatkan rudal anti-kapal Oniks, rudal jelajah yang diluncurkan dari udara, serta amunisi jelajah. Sasaran serangan meliputi infrastruktur penting, kawasan pelabuhan, fasilitas pesisir, hingga kapal-kapal militer Ukraina yang terdeteksi di wilayah operasi.
Menurut laporan CGTN, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa negaranya melakukan serangan jarak jauh ke sejumlah target strategis di Rusia. Ia mengatakan Dinas Keamanan Ukraina (SBU) menyerang tiga depot minyak utama di wilayah Stavropol, sementara militer Ukraina menghantam fasilitas penyimpanan bahan bakar lainnya di kawasan yang sama.
Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa pasukan Ukraina berhasil melancarkan serangan presisi terhadap tiga kapal tanker minyak Rusia yang beroperasi di kawasan Laut Hitam. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya Ukraina untuk mengganggu jalur logistik energi Rusia.
Sebelumnya otoritas Ukraina melaporkan bahwa Rusia meluncurkan serangan rudal besar-besaran pada malam hari dengan menembakkan lebih dari 40 rudal berbagai jenis. Sebagian besar rudal tersebut diarahkan ke Kyiv, ibu kota Ukraina, yang kembali menjadi sasaran utama dalam gelombang serangan terbaru.
Berdasarkan laporan CGTN, rangkaian serangan yang saling berbalas ini menunjukkan meningkatnya intensitas konflik udara antara kedua negara. Para analis menilai pola serangan timbal balik tersebut menjadi indikator eskalasi baru dalam perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung sejak 24 Februari 2022.
Dalam beberapa pekan terakhir Ukraina meningkatkan operasi serangan jarak jauh yang menargetkan infrastruktur minyak mentah dan bahan bakar Rusia dengan tujuan mengganggu rantai pasok logistik militer Moskow. Sebagai respons, pemerintah Rusia memberlakukan larangan sementara ekspor diesel hingga 31 Juli guna menjaga ketersediaan pasokan energi di dalam negeri.
Dilansir dari CGTN, Rusia juga memperbesar intensitas serangan rudal balistik ke Kyiv dan sejumlah kota besar lainnya di Ukraina dalam beberapa pekan terakhir. Perkembangan tersebut terjadi ketika Ukraina menghadapi keterbatasan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat yang dinilai mengurangi kemampuannya dalam mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Rusia.





