DETIKMERDEKA – Presiden Prabowo Subianto menyebutkan pembentukan bank emas menjadi salah satu capaian pemerintah dalam hampir dua tahun terakhir.
Menurutnya, lembaga tersebut telah mengelola 153 ton emas dengan nilai sekitar US$20 miliar hanya dalam waktu satu tahun.
Pernyataan itu disampaikan Presiden saat memberikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 20 Juli 2026.
Presiden Prabowo mengatakan, pemerintah terus mendorong penguatan sektor ekonomi melalui berbagai kebijakan strategis. Salah satunya adalah pembentukan bank emas yang disebut menjadi tonggak baru dalam pengelolaan cadangan emas nasional.
“Pemerintah sekarang, pemerintahan kita telah mencapai prestasi-prestasi yang sudah saya singgung tadi,” kata Presiden Prabowo.
Menurut Presiden Prabowo, Indonesia untuk pertama kalinya memiliki lembaga yang mampu mengelola cadangan emas dalam jumlah besar. Keberadaan bank emas dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat sistem keuangan dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.
“Salah satu juga yang telah kita berhasil mendirikan bank emas. Untuk pertama kali dalam sejarah bangsa Indonesia sudah mengelola 153 ton emas. Ini nilainya berapa? US$20 miliar,” ujarnya.
Presiden menilai capaian tersebut menunjukkan potensi ekonomi Indonesia yang terus berkembang. Pengelolaan emas dalam jumlah besar juga dinilai dapat menjadi salah satu sumber kekuatan ekonomi nasional pada masa mendatang.
“Dalam satu tahun bank yang kita dirikan sudah mengelola emas senilai US$20 miliar. Ini juga kekuatan ekonomi dan saya percaya ini juga akan meningkat,” katanya.
Presiden Prabowo juga mengajak masyarakat melihat berbagai capaian pemerintah secara lebih menyeluruh. Menurut dia, sejumlah kemajuan yang diraih selama ini layak mendapat perhatian dan dapat diukur secara terbuka.
“Kita ternyata diam-diam telah mencapai prestasi-prestasi. Saya kira boleh dicek, bank mana yang mengelola 153 ton emas dalam satu tahun,” ucap Presiden Prabowo.
Sidang Kabinet Paripurna tersebut dihadiri para menteri Kabinet Merah Putih dan pimpinan lembaga negara. Forum itu membahas evaluasi pelaksanaan program pemerintah sekaligus langkah percepatan berbagai agenda strategis di bidang ekonomi, pangan, energi, dan pembangunan nasional.[]






