AS Kembali Gempur Iran, Teheran Balas Serang Pangkalan Militer AS di Kawasan Teluk

DETIKMERDEKA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru ke sejumlah wilayah Iran pada Senin dini hari, yang langsung dibalas Teheran dengan menyerang beberapa target militer AS di kawasan Teluk. Menurut laporan Al Jazeera, eskalasi terbaru ini semakin memperburuk kondisi gencatan senjata yang sebelumnya sudah berada dalam situasi rapuh.

Mengutip pernyataan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang dilaporkan Al Jazeera, operasi militer tersebut menyasar puluhan target di berbagai wilayah Iran. Sasaran serangan meliputi sistem pertahanan udara, radar pantai, fasilitas rudal dan drone, hingga armada kapal cepat milik Iran.

Masih menurut Al Jazeera, dalam operasi tersebut militer AS mengerahkan pesawat tempur, kapal perang, drone serang satu arah, serta untuk pertama kalinya menggunakan drone serang laut. Washington menyatakan operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal internasional yang melintasi Selat Hormuz.

Sementara itu, pejabat Iran mengatakan serangan AS menghantam delapan kota di Provinsi Khuzestan. Al Jazeera melaporkan sedikitnya satu petugas keamanan tewas dan empat orang lainnya terluka setelah sebuah stasiun air di Kota Mahshahr terkena dampak serangan.

Beberapa jam kemudian, Iran melancarkan serangan balasan. Berdasarkan laporan Al Jazeera, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang sejumlah instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk radar pengawasan udara di Bahrain, sistem radar pendeteksi kapal di Oman, serta pangkalan rudal Angkatan Darat AS di Kuwait.

IRGC juga mengklaim serangan di Kuwait menghancurkan dua peluncur rudal beserta fasilitas penyimpanan di sekitarnya. Namun hingga kini belum ada konfirmasi independen dari pihak Amerika Serikat mengenai klaim tersebut, sebagaimana dicatat Al Jazeera.

Dampak eskalasi ini langsung terasa di kawasan. Menurut Al Jazeera, pemerintah Bahrain mengeluarkan peringatan kepada masyarakat agar tetap tenang dan segera menuju lokasi perlindungan yang aman. Sementara itu, otoritas Yordania mengaku berhasil mencegat empat rudal yang memasuki wilayah udaranya dari arah Iran.

Serangan terbaru ini terjadi hanya dua hari setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer lain yang menghantam sekitar 140 target di Iran. Al Jazeera menyebut serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas aksi IRGC terhadap pelayaran komersial dan keputusan Teheran menutup Selat Hormuz.

Rangkaian aksi saling serang tersebut semakin mengancam keberlangsungan Nota Kesepahaman antara Washington dan Teheran yang disepakati pada pertengahan Juni lalu. Menurut Al Jazeera, kesepakatan itu sebelumnya memperpanjang gencatan senjata yang berlaku sejak April sekaligus membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Kesepakatan tersebut juga menjadi dasar dimulainya kembali pembicaraan mengenai berbagai isu strategis, termasuk program nuklir Iran. Namun hingga kini, kendali atas Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik perselisihan utama antara kedua negara.

Al Jazeera melaporkan bahwa Amerika Serikat berupaya menjaga jalur perdagangan energi global tetap terbuka guna menekan harga minyak dan gas dunia, terutama menjelang pemilu paruh waktu di AS. Di sisi lain, Iran tetap bersikeras bahwa kapal-kapal asing harus melintasi jalur yang berada dekat dengan garis pantainya sebagai bentuk penegasan kedaulatan atas kawasan tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Iran juga dilaporkan beberapa kali menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur pelayaran di dekat pantai Oman. Berdasarkan data pelayaran Kpler yang dikutip Al Jazeera, lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada Senin turun ke level terendah dalam lima pekan terakhir.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan gencatan senjata telah berakhir. Namun, menurut Al Jazeera, pada Jumat lalu Trump mengatakan Washington dan Teheran sepakat untuk melanjutkan perundingan, meski perkembangan terbaru menunjukkan ketegangan kedua negara kembali meningkat.