DETIKMERDEKA – Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam seiring kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap pasar energi global yang sebelumnya telah terguncang akibat gangguan pasokan. Hal itu dilaporkan Al Jazeera berdasarkan data dari sejumlah lembaga pemantau maritim.
Laporan Al Jazeera menyebutkan, sejak Selasa (8/7), tidak ada kapal berukuran besar yang melintasi jalur pelayaran yang dikoordinasikan Amerika Serikat sambil mengaktifkan sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS). Sementara itu, lalu lintas kapal yang dapat dilacak melalui jalur pelayaran di dekat wilayah Oman dilaporkan nyaris terhenti.
Berdasarkan data Lloyd’s List Intelligence yang dikutip Al Jazeera, tidak ada kapal dengan bobot di atas 10.000 deadweight ton (dwt) yang melintasi jalur yang dikenal sebagai Southern Highway dengan AIS aktif sejak 7 Juli. Meski demikian, sedikitnya dua kapal diyakini tetap melintasi rute tersebut tanpa menyalakan sinyal identifikasi.
Platform intelijen maritim Windward, sebagaimana dikutip Al Jazeera, juga mencatat penurunan drastis aktivitas pelayaran. Pada Rabu hingga Kamis pagi, hanya lima kapal yang terdeteksi melintasi Selat Hormuz, jauh lebih sedikit dibandingkan 45 kapal yang tercatat melintas pada Senin.
Sebelum pecahnya perang pada akhir Februari, sekitar 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Jalur tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu koridor distribusi energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) dalam penilaian ancaman terbarunya yang dirilis Kamis menyatakan bahwa penurunan volume lalu lintas pelayaran mencerminkan meningkatnya kehati-hatian perusahaan pelayaran di tengah situasi keamanan yang terus memburuk.
Direktur Eksekutif Yokosuka Council on Asia Pacific Studies, John Bradford, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ancaman terbesar bukan hanya gangguan jangka pendek, melainkan perubahan strategi jangka panjang dari industri pelayaran global.
“Risiko besarnya adalah, seiring krisis berkepanjangan dan dinamika berhenti-mulai menjadi hal yang lumrah, industri pelayaran mungkin mulai mengambil keputusan yang lebih berkelanjutan untuk memprioritaskan pelabuhan dan rute lain,” ujar Bradford.
Ia menambahkan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menyerang kapal-kapal yang beroperasi di sepanjang Teluk Persia, Selat Hormuz, hingga Teluk Oman.
“Hal itu membuat seluruh pengiriman regional berisiko,” kata Bradford.






