DETIKMERDEKA – Seekor kucing yang pernah dianggap sebagai hewan biasa ternyata menyimpan fakta mengejutkan. Hewan tersebut belakangan diketahui merupakan spesies baru yang belum pernah dikenali dunia ilmu pengetahuan.
Cerita itu bermula pada 2016. Paola Nogales-Ascarrunz, ahli biologi sekaligus National Geographic Explorer yang bekerja di Bolivia, mendapat telepon dari sebuah suaka satwa liar setempat.
Pengelola suaka baru menerima seekor kucing yang mereka sebut sebagai “kucing aneh”.
Seekor warga menemukan kucing itu ketika masih berupa anak kucing di sebuah jalan dekat kawasan hutan. Warga tersebut membawanya pulang karena mengira hewan itu kucing domestik.
Setelah sekitar satu tahun memeliharanya, warga tersebut menyadari bahwa kucing itu merupakan satwa liar. Ia kemudian memutuskan menyerahkannya kepada suaka agar mendapat perawatan yang lebih sesuai.
Nogales-Ascarrunz yang saat itu menjadi ilmuwan utama sekaligus pendiri Bolivian Felids Research Program langsung tertarik ketika melihatnya.
Kucing itu memiliki wajah kecil dan sedikit berkerut. Telinganya pendek dan bulat. Kumisnya panjang. Tubuhnya juga dipenuhi pola tutul yang menyerupai macan tutul.
Ukuran tubuhnya terlihat lebih kecil dibandingkan kucing rumahan. Penampilannya membuat Nogales-Ascarrunz penasaran.
Ia kemudian mendatangi kucing tersebut di Senda Verde Wildlife Sanctuary yang berada di kawasan lereng subtropis Pegunungan Andes, Bolivia.
“Saya mengambil seratus foto kucing itu,” kenang Nogales-Ascarrunz. “Saya sangat terpesona.”
Saat itu, Nogales-Ascarrunz belum tahu bahwa kucing tersebut akan membawa penemuan besar.
Penelitian yang terbit di jurnal *Current Biology* pada September 2026 memastikan hewan tersebut merupakan spesies baru. Nama ilmiahnya **Leopardus tilcayo**. Penemuan ini menjadi penamaan dan deskripsi spesies kucing liar baru pertama dalam lebih dari satu abad.
Penemuan tersebut menarik karena bukan sekadar pengesahan terhadap spesies yang pernah diusulkan sebelumnya. Temuan ini juga bukan kasus subspesies yang kemudian dinaikkan statusnya menjadi spesies.
Para ilmuwan benar-benar menemukan garis keturunan kucing yang sebelumnya belum dikenali sebagai spesies tersendiri.
Saat pertama kali melihatnya, Nogales-Ascarrunz mengira kucing tersebut merupakan bagian dari spesies Leopardus tigrinus.
Kucing tersebut dikenal dengan sejumlah nama, seperti tigrina, oncilla, tigrillo, atau little spotted cat. Spesies itu pertama kali dideskripsikan pada 1775 berdasarkan ilustrasi seekor hewan yang ditemukan di Guyana Prancis.
Leopardus tigrinus kemudian dianggap hidup di sejumlah wilayah Amerika Tengah dan Amerika Selatan, termasuk Bolivia.
Perbedaan mulai terlihat ketika Nogales-Ascarrunz menyiapkan buku kecil mengenai spesies kucing di Bolivia pada 2019.
Kucing yang ia foto ternyata tidak sepenuhnya mirip dengan gambar referensi dalam buku panduan dari Brasil. Pola roset pada tubuhnya terlihat jauh lebih besar.
“Ini sangat berbeda,” pikirnya.
Kecurigaan tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa kucing itu merupakan spesies baru. Nogales-Ascarrunz membutuhkan data yang lebih kuat.
Beberapa tahun kemudian, kemampuan analisis genetiknya berkembang. Ia bisa memeriksa genom kucing misterius tersebut dengan tingkat ketelitian yang lebih tinggi.
Bersama Eduardo Eizirik, ahli genetika dari Pontifical Catholic University of Rio Grande do Sul di Brasil, serta Jonas Lescroart dari University of Antwerp yang menjadi penulis utama penelitian bersama, Nogales-Ascarrunz membandingkan posisi hewan itu dalam pohon kekerabatan keluarga kucing.
Hasilnya menunjukkan bahwa kucing tersebut memiliki garis evolusi tersendiri.
Tim peneliti kemudian mengusulkan nama **Leopardus tilcayo**. Nama itu diambil dari sebutan yang digunakan masyarakat setempat.
“Kami bertanya kepada masyarakat setempat, ‘Mengapa kalian menyebutnya tilcayo?’” kata Nogales-Ascarrunz, yang juga berasal dari Bolivia.
“Dan mereka menjawab, ‘Saya tidak tahu! Kakek saya menyebutnya tilcayo, jadi saya menyebutnya tilcayo.’”
Nama tilcayo sejauh ini tidak diketahui memiliki arti khusus dalam bahasa Spanyol maupun bahasa Quechua yang digunakan di Bolivia.
Para ilmuwan baru dapat memastikan keberadaan L. tilcayo di ekoregion hutan Yungas, Bolivia. Kawasan tersebut berada di lereng timur Pegunungan Andes dan dikenal sebagai wilayah hutan pegunungan yang lembap dan sering tertutup awan.
Banyak hal mengenai kehidupan kucing ini masih belum diketahui. Para peneliti belum memiliki gambaran lengkap mengenai makanan, predator, pola perkembangbiakan, dan kebiasaan hariannya.
“Begitu banyak hal mendasar yang belum diketahui,” kata Nogales-Ascarrunz, yang menjadi salah satu penulis utama penelitian tersebut.
Data sementara menunjukkan kucing ini kemungkinan aktif pada malam hari. Sisa-sisa hewan pengerat yang ditemukan dalam sampel kotorannya juga mengindikasikan bahwa mamalia kecil tersebut mungkin menjadi bagian dari makanannya.
Keterbatasan data juga membuat gambaran mengenai jumlah populasi satwa tersebut belum jelas. Peneliti saat ini baru memiliki informasi dari sedikit individu hidup dan sejumlah rekaman kamera jebak.
Penemuan L. tilcayo bukan hanya menambah satu nama baru dalam daftar kucing liar.
Penelitian tersebut juga mengubah pemahaman ilmuwan mengenai kelompok tiger cat. Hewan-hewan yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata memiliki keragaman genetik yang jauh lebih besar.
Tim peneliti membandingkan genom lengkap 38 individu dari genus Leopardus. Analisis tersebut menunjukkan bahwa kelompok tiger cat sebenarnya terdiri atas lima spesies yang berbeda secara genetik.
L. tilcayo diketahui telah berevolusi secara terpisah dari kelompok tiger cat lainnya sekitar 1,4 juta tahun lalu. Jarak evolusi tersebut menunjukkan bahwa perbedaannya bukan sekadar variasi fisik dalam satu spesies.
“Penemuan satu lagi spesies tiger cat merupakan kabar yang mengejutkan. Namun, hasil penelitian ini secara mendalam mengubah cara para ahli kucing kecil mengelompokkan spesies dalam genus Leopardus,” kata James Sanderson, pendiri sekaligus direktur Small Wild Cat Conservation Foundation. Sanderson tidak terlibat sebagai penulis dalam penelitian tersebut.
Penelitian tersebut juga memberikan bukti mengenai subspesies baru tiger cat di Peru, yaitu **Leopardus tigrinus antisuyo**.
Sanderson menilai temuan itu juga membuka kemungkinan bahwa margay, yang selama ini dianggap sebagai satu spesies dengan persebaran luas dari Meksiko hingga Argentina, mungkin terdiri atas beberapa spesies.
“Studi ini mengisyaratkan bahwa, setelah berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar satu juta tahun lalu, terdapat empat spesies margay yang berbeda,” kata Sanderson melalui email.
Sanderson juga merupakan anggota IUCN Cat Specialist Group.
Eizirik mengatakan penelitian yang lebih terfokus terhadap genetika margay masih diperlukan sebelum kesimpulan tersebut dapat dibuat.
Kucing liar berukuran kecil menjadi kelompok yang cukup sulit dipelajari. Banyak spesies memiliki bentuk tubuh dan pola bulu yang mirip.
Kelompok tiger cat bahkan dikenal sebagai spesies kriptik. Artinya, perbedaannya tidak selalu mudah dikenali hanya melalui penampilan fisik. Analisis genetik akhirnya menjadi salah satu alat penting untuk membedakan garis keturunan tersebut.
Perbedaan fisik seperti panjang ekor, ukuran roset, dan bentuk gigi tetap menjadi petunjuk. Namun, analisis genom dapat menemukan perbedaan evolusi yang tidak terlihat oleh mata.
“Kami sudah mempelajari tiger cat selama sekitar 25 tahun, mencoba memahami keseluruhan genus Leopardus,” kata Eizirik.
Semakin jauh para ilmuwan meneliti genom kelompok tersebut, semakin banyak variasi tersembunyi yang ditemukan.
Pada 2013, penelitian menunjukkan bahwa Leopardus tigrinus yang sebelumnya dianggap sebagai satu kelompok ternyata terdiri atas dua spesies berbeda.
Pemahaman itu kembali berkembang pada 2024 setelah peneliti mengusulkan adanya garis keturunan lain yang secara genetik berbeda.
Penelitian terbaru kini menunjukkan adanya lima spesies tiger cat.
“Apa yang dulu kita anggap sebagai satu spesies, mulai kita lihat sebenarnya merupakan sebuah kompleks spesies,” kata Eizirik.
Perubahan klasifikasi semacam itu tidak mudah dilakukan pada kelompok kucing besar seperti genus Panthera. Kucing liar kecil justru lebih sulit dibedakan dan masih relatif sedikit diteliti.
Hewan-hewan tersebut juga dikenal sulit ditemui. Rekaman kamera jebak pun belum tentu cukup untuk menentukan identitas spesies secara akurat.
Salah satu contohnya ditemukan pada spesimen museum yang diteliti tim. Hewan tersebut awalnya dianggap sebagai margay, salah satu jenis kucing kecil bertutul.
Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan spesimen itu merupakan tiger cat atau L. tigrinus. Salah satu petunjuknya berasal dari arah pertumbuhan rambut pada bagian tengkuk.
Teknologi genom kemudian memungkinkan para ilmuwan melihat perbedaan yang tidak dapat ditemukan hanya melalui foto atau pengamatan lapangan.
Penambahan spesies baru juga membawa konsekuensi bagi upaya konservasi.
Salah satu faktor penting dalam menentukan status konservasi suatu satwa adalah luas persebaran dan ukuran populasinya.
“Jika Anda menganggap tiger cat sebagai satu spesies yang sama dari Brasil bagian selatan hingga Kosta Rika, Anda akan menemukan bahwa spesies tersebut tidak terancam punah,” kata Eizirik.
“Tetapi jika kita menemukan bahwa itu bukan satu spesies, melainkan lima spesies, masing-masing harus dinilai secara terpisah.”
Pembagian tersebut membuat gambaran mengenai kondisi setiap populasi menjadi lebih spesifik.
Menurut Sanderson, jumlah spesies yang lebih banyak berarti setiap populasi bisa memiliki wilayah persebaran yang lebih kecil.
“Ketika tiga spesies menjadi lima spesies, setiap populasinya menjadi lebih kecil,” katanya. “Karena itu, upaya konservasi harus ditingkatkan, mungkin secara mendesak, tergantung pada perkiraan jumlah populasinya.”
Para ilmuwan sampai sekarang belum mengetahui secara pasti berapa banyak tilcayo yang hidup di alam liar.
Keterbatasan data tersebut menjadi tantangan berikutnya. Peneliti perlu mengetahui persebaran, jumlah populasi, habitat, serta ancaman yang dihadapi sebelum status konservasi spesies dapat dinilai secara lebih jelas.
Yungas sendiri merupakan salah satu ekosistem yang menghadapi tekanan. Deforestasi, perluasan pertanian, kebakaran yang disebabkan manusia, dan aktivitas pertambangan mengancam kawasan tersebut.
Sanderson menilai temuan L. tilcayo kemungkinan baru menjadi awal.
“Bukan hal yang berlebihan untuk membayangkan bahwa metode yang lebih baik yang digunakan dalam penelitian ini akan mengungkap spesies baru kucing liar berukuran kecil di Afrika dan Asia,” katanya.
Terlepas dari persoalan genetika dan taksonomi, Nogales-Ascarrunz tidak ingin kehilangan rasa kagum terhadap penemuan tersebut.
“Dunia kita sangat kompleks,” katanya. “Terkadang kita berpikir bahwa sebagian besar sudah diketahui, bahwa tidak banyak lagi yang bisa ditemukan. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.”
Penemuan spesies baru memang semakin sering terjadi dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian besar temuan berkaitan dengan serangga, mikroorganisme, dan organisme berukuran kecil yang mudah luput dari perhatian.
Penemuan L. tilcayo menunjukkan bahwa mamalia yang jauh lebih mudah dikenali pun ternyata masih menyimpan misteri.
Seekor kucing liar yang sempat dianggap kucing biasa bahkan mampu membuka cabang baru dalam pohon kekerabatan keluarga kucing.
“Bahkan di antara kucing, masih ada hal-hal di luar sana yang belum dideskripsikan, yang belum ditemukan manusia,” kata Nogales-Ascarrunz.
“Jadi, mari kita keluar, menemukan mereka, dan melindungi mereka.”






