Trump Klaim Iran Ingin Segera Bersepakat, Teheran Tetap Ajukan Syarat

DETIKMERDEKA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran ingin segera mencapai kesepakatan dengan Washington. Namun, pejabat keamanan Iran menegaskan bahwa perundingan belum akan berlangsung sebelum syarat yang diajukan Teheran dipenuhi. Perbedaan sikap itu muncul ketika lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih terbatas.

Menurut laporan CGTN, Trump menyampaikan klaim tersebut melalui unggahan di Truth Social pada Senin, 14 September 2026. Ia mengatakan Iran ingin membuat kesepakatan “dengan cepat dan sungguh-sungguh”, seraya menyatakan bahwa keputusan untuk membuka dialog berada di tangannya.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan sikap berbeda. Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, ia mengatakan negaranya tidak akan bernegosiasi sampai syarat-syarat Iran dipenuhi. Belum ada tanda dalam laporan tersebut bahwa kedua pihak telah menyepakati waktu untuk kembali berunding.

Di tengah kebuntuan itu, data awal pelacakan kapal yang dikutip CGTN menunjukkan jumlah kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun hingga kurang dari 10 kapal per hari selama akhir pekan. Angka tersebut berada di bawah rata-rata 14 kapal per hari dalam 10 hari sebelumnya.

Ketegangan juga terlihat dari perbedaan keterangan mengenai kapal tanker minyak El Gaia. Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), melalui Sepah News, menyatakan kapal itu meledak dan terbakar setelah menabrak ranjau laut saat melewati jalur yang disebutnya terlarang di bagian selatan Selat Hormuz. Menurut IRGC, upaya memadamkan api gagal.

Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah penjelasan Iran. Menurut CENTCOM, kapal berbendera Panama tersebut terkena rudal Iran pada bulan sebelumnya dan sejak itu tidak dapat beroperasi. Penyebab kebakaran yang diperselisihkan kedua pihak itu belum dapat dipastikan secara independen dari keterangan dalam laporan CGTN.

Sementara itu, Misi Pencarian Fakta Independen PBB tentang Iran menyerukan penghentian permusuhan dan meminta semua pihak mematuhi hukum internasional. Misi tersebut menyebut telah memperoleh laporan dan informasi yang dinilainya kredibel bahwa serangan udara AS pada 1 September menghantam sebuah rumah di Kuhestak, Provinsi Hormozgan, ketika perayaan pernikahan dilaporkan sedang berlangsung. PBB menekankan kewajiban semua pihak untuk melindungi warga sipil selama konflik.