DETIKMERDEKA – Alex Saab, pengusaha Kolombia-Venezuela yang dikenal sebagai sekutu dekat mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, mengaku bersalah atas konspirasi pencucian uang di pengadilan federal Amerika Serikat, Selasa (15/9/2026). Al Jazeera melaporkan perkara tersebut berkaitan dengan suap dan penyimpangan kontrak pengadaan pangan serta obat-obatan di Venezuela.
Di hadapan Hakim Distrik AS Kathleen Williams di Miami, mantan menteri perindustrian Venezuela itu mengakui telah mengatur pembayaran suap kepada pejabat setempat. Cara tersebut memungkinkan perusahaan yang diam-diam ia kendalikan memenangkan kontrak pemerintah.
Menurut Departemen Kehakiman AS, sebagaimana dikutip Al Jazeera, sebagian kontrak itu terkait dengan CLAP, program penyaluran makanan bersubsidi bagi warga Venezuela di tengah krisis ekonomi. Jaksa menyebut Saab dan rekan-rekannya menggunakan perusahaan kedok, faktur palsu, serta dokumen pengiriman yang dimanipulasi untuk mengambil dana yang semestinya digunakan bagi kepentingan publik. Dana itu kemudian dicuci melalui perusahaan di luar negeri, termasuk di AS.
Al Jazeera juga melaporkan pengakuan Saab bahwa ia memanfaatkan hubungannya dengan pejabat Venezuela untuk memperoleh akses terhadap minyak milik perusahaan negara PDVSA. Minyak tersebut kemudian dijual dengan keterangan yang menyesatkan ketika sanksi AS menekan keuangan Venezuela.
Saab mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi pencucian uang dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Dalam kesepakatan dengan jaksa, ia bersedia menyerahkan hasil kejahatan senilai US$195 juta dan bekerja sama dalam penyelidikan federal yang masih berjalan. Menurut Al Jazeera, jaksa akan merekomendasikan hukuman pada batas bawah rentang yang berlaku, sementara tanggal pembacaan putusan hukuman belum ditetapkan.
Perkara ini merupakan kali kedua Saab menghadapi penuntutan di AS. Al Jazeera mencatat ia ditangkap di Tanjung Verde pada 2020 dan kemudian diekstradisi. Pada Desember 2023, pemerintahan Presiden AS saat itu, Joe Biden, memberinya keringanan hukum sebagai bagian dari pertukaran tahanan dengan Venezuela. Dakwaan baru diajukan pada Januari 2026, sebelum Saab dikirim kembali ke AS pada Mei.
Jaksa AS Jason Reding Quiñones, seperti dikutip Al Jazeera, menyatakan kasus tersebut menunjukkan bahwa kekayaan dan kedekatan dengan pemegang kekuasaan tidak membuat seseorang berada di luar jangkauan hukum AS.






