DEIKMERDEKA – Anggota DPD RI asal Papua, Pdt. David Harold Waromi, menggagas program kesehatan masyarakat untuk memperluas akses deteksi dini kanker payudara bagi perempuan di berbagai daerah.
Gagasan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara David Waromi dan Dr. Shabeer Nellikode yang mewakili Universal Prognostics Global di Gedung DPD RI, Jakarta, pada Minggu, 6 September 2026.
Kerja sama tersebut menetapkan Waromi sebagai pelopor sekaligus penggerak program AiBCD Champions. Program itu dirancang untuk menyediakan pemeriksaan awal kanker payudara secara gratis, tanpa radiasi, dan lebih mudah dijangkau masyarakat.
AiBCD merupakan singkatan dari AI-Based Breast Cancer Detection atau deteksi kanker payudara berbasis kecerdasan buatan.
Program tersebut juga dilengkapi edukasi kesehatan perempuan. Materinya mencakup kesadaran melakukan pemeriksaan payudara sendiri serta langkah yang perlu dilakukan jika ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Pdt. David Harold Waromi mengatakan masih banyak perempuan datang ke fasilitas kesehatan ketika kanker payudara sudah berada pada stadium lanjut. Akses terhadap pemeriksaan dini menjadi salah satu persoalan yang perlu diperluas.
“Masih banyak perempuan Indonesia yang datang untuk mendapatkan penanganan kanker payudara ketika penyakitnya sudah berada pada stadium lanjut. Salah satu penyebabnya adalah akses terhadap skrining dini yang belum menjangkau semua perempuan,” kata Pdt. David Harold Waromi.
Menurut Pdt. David Harold Waromi yang juga Ketua DPW Tani Merdeka Indonesia Provinsi Papua, AiBCD Champions diharapkan dapat mendekatkan layanan skrining kepada perempuan yang belum pernah menjalani pemeriksaan.
“Melalui AiBCD Champions, kami ingin membantu mengisi kesenjangan tersebut dengan membawa skrining lebih dekat ke masyarakat. Saya siap menjadi pelopor agar para senator lainnya dapat ikut mengambil bagian dan membawa kepedulian yang sama kepada perempuan di daerah masing-masing,” ujarnya.
Rendahnya cakupan deteksi dini menjadi salah satu alasan program tersebut dikembangkan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip dalam keterangan program, sebanyak 90,3 persen perempuan berusia 15 tahun ke atas belum pernah menjalani pemeriksaan deteksi dini kanker payudara.
Kondisi tersebut menjadi tantangan karena kanker payudara masih banyak ditemukan ketika pasien sudah berada pada stadium lanjut. Deteksi dini dibutuhkan untuk menemukan kondisi yang perlu diperiksa lebih lanjut sedini mungkin.
Akses layanan juga belum merata. Mamografi tetap memiliki peran penting dalam pemeriksaan diagnostik kanker payudara, tetapi ketersediaan alatnya belum sama di setiap daerah dan cenderung berada di fasilitas kesehatan tertentu.
Perangkat mamografi juga tidak mudah dipindahkan. Kondisi tersebut menjadi kendala bagi masyarakat yang tinggal jauh dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan dengan layanan diagnostik lengkap.
AiBCD Champions mencoba menjawab persoalan akses tersebut dengan membawa pemeriksaan awal lebih dekat ke masyarakat.
AiBCD menggunakan teknologi pencitraan termal dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan mamografi, ultrasonografi (USG), atau biopsi. AiBCD ditempatkan sebagai pemeriksaan awal untuk membantu mengidentifikasi perempuan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Teknologi AiBCD didukung Thermalytix, solusi skrining payudara yang menggabungkan pencitraan termal beresolusi tinggi dan kecerdasan buatan.
Sistem menganalisis pola suhu pada area payudara untuk menemukan pola yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Hasil analisis kemudian disusun dalam laporan kuantitatif yang dapat ditinjau tenaga kesehatan.
Pemeriksaan dilakukan tanpa sentuhan, tanpa radiasi, dan tanpa kompresi. Karakter tersebut diharapkan membuat pemeriksaan lebih nyaman bagi peserta.
Penyelenggara menegaskan hasil AiBCD bukan diagnosis kanker. Teknologi tersebut hanya menjadi alat skrining dan triase awal.
Peserta yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut akan diarahkan melalui jalur rujukan klinis. Diagnosis tetap membutuhkan pemeriksaan medis yang sesuai.
Salah satu karakter AiBCD adalah perangkatnya dapat dibawa ke berbagai lokasi. Pemeriksaan dapat dilakukan di puskesmas, fasilitas komunitas, lingkungan kerja, pabrik, hingga balai desa.
Model tersebut membuat layanan kesehatan lebih proaktif. Masyarakat tidak selalu harus datang ke rumah sakit atau pusat diagnostik untuk menjalani pemeriksaan awal.
Shabeer Nellikode mengatakan pemeriksaan dapat dilakukan dengan cepat dan tidak membutuhkan ruangan besar. Aspek privasi peserta juga menjadi perhatian dalam pelaksanaannya.
“Deteksi dini seharusnya tidak bergantung pada seberapa dekat seseorang dengan rumah sakit rujukan,” kata Dr. Shabeer Nellikode, pendiri Universal Prognostics Global dan PT Universal Prognostics Nusantara.
Menurut Shabeer, teknologi AiBCD dikembangkan agar dapat digunakan secara praktis di lapangan dan mendukung kegiatan skrining dalam jangkauan yang lebih luas.
“Tugas kami adalah memastikan setiap kegiatan skrining berjalan sesuai standar medis, mulai dari penggunaan perangkat dan pelaksanaan pemeriksaan hingga konseling, rujukan, dan komunikasi dengan peserta,” ujarnya.
Penyelenggara menilai pendekatan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Pemeriksaan awal perlu terhubung dengan edukasi, konseling, dan rujukan agar peserta mengetahui langkah berikutnya ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian.
Program AiBCD Champions akan menyediakan skrining payudara secara gratis bagi perempuan yang memenuhi kriteria pemeriksaan.
Setiap kegiatan juga akan disertai edukasi mengenai kesehatan payudara. Peserta akan mendapatkan informasi tentang pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI serta tindakan yang perlu dilakukan jika hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang perlu dievaluasi.
Peserta yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan akan diarahkan ke fasilitas kesehatan melalui jalur rujukan klinis yang telah disepakati.
Skema tersebut membuat program tidak berhenti pada skrining. Ada rangkaian lanjutan yang menghubungkan pemeriksaan awal dengan layanan kesehatan.
Kegiatan perdana AiBCD Champions akan dilaksanakan di lokasi yang disepakati para pihak setelah penandatanganan MoU.
Program itu terbuka untuk diperluas ke daerah lain dengan melibatkan anggota DPD RI yang bersedia menyelenggarakan kegiatan serupa di wilayah masing-masing.
Pdt. David Harold Waromi berperan dalam mengoordinasikan pengembangan program tersebut. Ia juga mendorong agar isu kesehatan perempuan mendapat perhatian lebih besar di daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses layanan.
Pdt. David Harold Waromi menilai pemeriksaan dini perlu didekatkan kepada masyarakat, terutama perempuan yang tinggal jauh dari pusat pelayanan kesehatan.
Kegiatan sosialisasi AiBCD juga akan segera dilaksanakan di Papua untuk memberikan edukasi kepada perempuan mengenai deteksi dini kanker payudara.
Program selanjutnya akan dikembangkan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk anggota DPD RI dari daerah lain. Perluasan tersebut diharapkan membuat lebih banyak perempuan memiliki akses terhadap pemeriksaan awal.
AiBCD tetap ditempatkan sebagai alat skrining dan triase awal. Peserta yang memperoleh hasil yang membutuhkan perhatian medis tetap harus menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode diagnostik yang sesuai.
Bagi Pdt. David Harold Waromi, perluasan akses menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan masyarakat. Perempuan di daerah, termasuk wilayah yang jauh dari rumah sakit rujukan, diharapkan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan deteksi dini.[]






