Presiden Kuba Tuding AS Lakukan “Genosida” melalui Tekanan Ekonomi

DETIKMERDEKA – Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menuduh Amerika Serikat (AS) menjalankan kebijakan yang ia sebut sebagai bentuk “genosida” terhadap rakyat Kuba melalui tekanan ekonomi yang berkepanjangan. Pernyataan itu disampaikan saat peringatan 73 tahun dimulainya Revolusi Kuba di Provinsi Pinar del Rio, Minggu (27/7) waktu setempat.

Mengutip Al Jazeera, Diaz-Canel menilai berbagai kebijakan Washington, termasuk embargo minyak dan sanksi ekonomi, telah memperburuk kondisi kehidupan masyarakat Kuba. Menurutnya, tekanan tersebut bukan sekadar langkah politik, melainkan upaya sistematis untuk melemahkan negara itu.

“Saya mengecam bahwa Kuba adalah korban dari genosida yang direncanakan dengan kejam,” ujar Diaz-Canel dalam pidatonya pada peringatan pemberontakan 1953 melawan rezim mantan diktator Fulgencio Batista.

Presiden Kuba itu juga menuduh Amerika Serikat melakukan “pencekikan ekonomi” yang berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Ia menyebut kebijakan tersebut telah menyebabkan krisis energi berkepanjangan, menghambat kegiatan industri, hingga memicu kelangkaan air bersih dan obat-obatan.

Berdasarkan laporan Al Jazeera, embargo minyak yang diberlakukan Washington sejak 29 Januari disebut menjadi salah satu faktor yang memicu pemadaman listrik hingga lebih dari 20 jam per hari di berbagai wilayah Kuba. Kondisi itu memaksa banyak perusahaan mengurangi jam operasional, sementara sektor industri mengalami perlambatan produksi.

Situasi ekonomi yang memburuk juga berdampak pada sektor bisnis dan investasi. Sejumlah perusahaan internasional, termasuk Visa, Mastercard, jaringan hotel Melia asal Spanyol, serta maskapai Air Canada dan Air France, dilaporkan menghentikan operasinya di Kuba di tengah ketidakpastian ekonomi.

Dalam pidatonya, Diaz-Canel menegaskan bahwa negaranya sedang menghadapi perjuangan yang menurutnya bersifat historis.

“Saat ini Kuba sedang melancarkan pertempuran bersejarah melawan tembok kebijakan genosida yang bertujuan mencekik seluruh rakyat demi menguasai negara,” katanya.

Hubungan Kuba dan Amerika Serikat memang telah lama diwarnai ketegangan, namun kembali memburuk setelah Presiden Donald Trump kembali menjabat. Menurut Al Jazeera, Trump sebelumnya menyatakan akan “mengambil alih” Kuba setelah Amerika Serikat menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang dikenal sebagai sekutu dekat Havana.

Tekanan terhadap Kuba juga datang melalui jalur diplomatik dan hukum. Pekan lalu, Departemen Luar Negeri AS merilis laporan yang menuduh pemerintah Kuba mengoperasikan jaringan spionase dan pengaruh di Amerika Serikat serta sejumlah negara Amerika Latin.

Selain itu, pada Mei lalu, pemerintah AS mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro atas dugaan keterlibatan dalam insiden penembakan dua pesawat sipil milik kelompok pengasingan asal Miami pada 1996. Pemerintah Kuba membantah seluruh tuduhan tersebut dan mengecam sikap Washington sebagai bentuk eskalasi politik.

Pejabat Kuba sebelumnya juga menyatakan bahwa dialog antara Havana dan Washington praktis terhenti sejak beberapa bulan terakhir. Sementara itu, dalam peringatan Revolusi Kuba tahun ini, Raul Castro yang kini berusia 95 tahun tidak terlihat menghadiri upacara tersebut.

Revolusi Kuba sendiri dipimpin oleh Fidel Castro bersama adiknya, Raul Castro, yang berhasil menggulingkan pemerintahan Fulgencio Batista pada 1959 dan mengakhiri rezim yang didukung Amerika Serikat saat itu.