Buka Diklat Ke IV Tani Merdeka Indonesia di Medan, Don Muzakir: Program Presiden Prabowo Harus Dikawal hingga Tingkat Desa

DETIKMERDEKA – DPN Tani Merdeka Indonesia memperkuat kapasitas organisasi di tingkat daerah untuk mengawal program Presiden Prabowo Subianto. Langkah itu dilakukan melalui Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) ke IV Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sumatera Utara, Medan, mulai Minggu, 26 Juli 2026.

Diklat ini berlangsung selama tiga hari dan diikuti sekitar 210 pengurus DPD Tani Merdeka Indonesia dari Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Ketua Umum DPN Tani Merdeka Indonesia Don Muzakir mengatakan target swasembada pangan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah. Menurutnya, keberhasilan program juga ditentukan oleh kesiapan organisasi petani yang bekerja langsung di lapangan.

“Kita tidak ingin Tani Merdeka Indonesia hanya menjadi organisasi yang besar di atas kertas. Setelah mengikuti pelatihan ini, seluruh peserta harus kembali ke daerah masing-masing dan bekerja bersama petani. Mereka harus mampu mengawal seluruh program prioritas Presiden Prabowo Subianto, memperkuat organisasi sampai ke desa, serta memastikan manfaat setiap kebijakan benar-benar dirasakan petani,” kata Don Muzakir saat membuka Diklat ke IV di Medan.

Ia menilai pengurus daerah harus menjadi jembatan antara pemerintah dan petani. Peran itu dinilai penting agar berbagai persoalan di lapangan dapat segera diketahui dan dicarikan solusi.

Don Muzakir mengatakan organisasi petani juga harus mampu menjawab tantangan sektor pertanian yang terus berkembang, mulai dari produktivitas, distribusi pupuk, akses teknologi, hingga penguatan kelembagaan petani.

“Diklat ini kami siapkan untuk memperkuat kualitas kader. Kami ingin setelah mengikuti pelatihan ini, seluruh peserta kembali ke daerah masing-masing dengan bekal pengetahuan yang lebih baik, terutama dalam memahami visi Presiden Prabowo Subianto mengenai swasembada pangan. Selain itu, peserta juga dibekali materi tentang penanganan konflik, penguatan organisasi, hingga peran sosial di tengah masyarakat,” ujarnya.

Selama pelatihan, peserta mendapat materi mengenai kepemimpinan organisasi, strategi pendampingan petani, penguatan ekonomi berbasis pertanian, penyelesaian konflik sosial, serta berbagai kebijakan pemerintah di sektor pangan.

Menurut Don Muzakir, materi tersebut disusun agar seluruh pengurus memiliki pemahaman yang sama dalam mengawal program pemerintah di bidang pertanian.

“Diklat ini menjadi bagian dari upaya menyinergikan program Tani Merdeka Indonesia dengan kebijakan pemerintah. Kami ingin seluruh pengurus menjadi penggerak di daerah, mampu memperkuat akar rumput, serta hadir memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi petani,” katanya.

Selain itu Don Muzakir juga menegaskan bahwa Tani Merdeka Indonesia akan ikut mengawal pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar berjalan sesuai tujuan pemerintah.

Menurutnya, keberhasilan MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi peluang besar bagi petani, peternak, dan nelayan untuk memasok bahan pangan dalam negeri.

“Program Makan Bergizi Gratis harus terus berlangsung dengan baik karena manfaatnya sangat besar bagi masyarakat. Program ini bukan hanya memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang baik, tetapi juga membuka pasar bagi hasil pertanian, peternakan, dan perikanan dalam negeri. Kami akan ikut mengawal agar program prioritas Presiden Prabowo ini berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberi manfaat nyata bagi petani serta masyarakat,” kata Don Muzakir.

Menurut Don Muzakir, keberhasilan Program MBG akan memperkuat ekosistem pangan nasional. Kebutuhan bahan baku yang besar harus dipenuhi dari produksi petani dalam negeri sehingga mampu meningkatkan permintaan hasil panen, memperkuat pendapatan petani, dan mendukung target swasembada pangan yang sedang dijalankan pemerintah. Oleh karena itu, Tani Merdeka Indonesia akan terus mengawal pelaksanaan MBG agar berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

Rencananya Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Tani Merdeka Indonesia akan hadir pada penutupan Diklat nantinya.

Kehadiran Sudaryono dinilai relevan karena Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan pasokan bahan pangan yang berkelanjutan. Kondisi itu membuka peluang lebih besar bagi petani lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok pangan nasional.

Diklat Angkatan IV ini, Tani Merdeka Indonesia menargetkan lahirnya kader-kader yang mampu memperkuat organisasi di tingkat desa, mendampingi petani, sekaligus mengawal pelaksanaan program ketahanan pangan dan swasembada pangan secara langsung di lapangan.[]