DETIKMERDEKA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan implementasi biodiesel B50 menjadi langkah konkret pemerintah untuk mempercepat terwujudnya swasembada energi nasional.
Program tersebut bagian dari visi Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pemanfaatan sumber daya dalam negeri sebagai penopang kemandirian energi.
Menurut Sudaryono yang juga Ketua Dewan Pembina Tani Merdeka Indonesia, kebijakan B50 menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak hanya berperan dalam menjaga ketahanan pangan, tetapi juga mampu menjadi penyangga ketahanan energi nasional.
“Presiden ingin segala sesuatunya best fast result. Programnya besar, dikerjakan dengan cepat, dan memberikan dampak nyata. Potensi swasembada pangan harus diwujudkan menjadi kenyataan. Potensi swasembada energi juga harus diwujudkan menjadi kenyataan,” kata Sudaryono dalam keterangannya di Jakarta, pada Senin, 20 Juli 2026.
Ia menjelaskan, program biodiesel B50 dan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan menjadi contoh penerapan pendekatan best fast result (BFR) yang diusung Presiden Prabowo. Pendekatan tersebut menekankan pelaksanaan program strategis secara cepat dengan hasil yang bisa langsung dirasakan masyarakat.
Menurut Sudaryono, Presiden Prabowo memiliki visi membangun Indonesia yang lebih mandiri dengan memanfaatkan seluruh potensi nasional. Potensi itu mencakup sumber daya alam, lahan pertanian, hingga energi yang tersedia di dalam negeri.
Program B50, kata dia, menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia mampu mengoptimalkan sektor pertanian untuk memperkuat ketahanan energi. Kebijakan tersebut juga mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar diesel.
Melalui skema B50, separuh kebutuhan biodiesel dipenuhi dari minyak sawit yang diproduksi petani Indonesia. Sementara separuh lainnya berasal dari minyak bumi dalam negeri.
“Dengan B50, Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar diesel atau solar. Sebanyak 50 persen berasal dari minyak bumi dalam negeri dan 50 persen di antaranya berasal dari minyak sawit yang dihasilkan petani Indonesia,” ujar Sudaryono.
Ia menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa negara agraris seperti Indonesia memiliki kemampuan memanfaatkan kekayaan alam dan hasil kerja petani untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
“Ini menunjukkan negara agraris seperti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam dan kerja keras petaninya untuk mencapai swasembada energi,” tutur Sudaryono.
Sudaryono menambahkan, keberhasilan itu tidak terlepas dari penguatan sektor pangan yang lebih dulu dilakukan pemerintah. Pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting bahwa setiap negara akan mengutamakan kebutuhan rakyatnya sendiri.
Kondisi tersebut, menurut dia, mendorong Indonesia untuk memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Setelah itu, pemerintah mulai memperluas langkah menuju kemandirian energi.
“Saat pandemi kita merasakan sulitnya memperoleh beras dari negara lain. Dari pengalaman itulah kita bekerja keras hingga akhirnya Indonesia mencapai swasembada pangan. Sekarang kita melangkah lebih jauh dengan memperkuat swasembada energi,” ujarnya.
Sudaryono mengatakan pendekatan best fast result menjadi salah satu cara pemerintah menjalankan berbagai program prioritas nasional. Pemerintah ingin setiap kebijakan segera dieksekusi sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih cepat oleh masyarakat.
Ia menegaskan, berbagai potensi yang dimiliki Indonesia tidak boleh berhenti sebagai rencana atau wacana. Potensi tersebut harus diwujudkan melalui kebijakan yang cepat, terukur, dan memberikan hasil nyata.
“Kalau programnya besar tetapi terlalu lama dikerjakan, manfaatnya juga terlambat dirasakan. Karena itu Presiden selalu mendorong agar setiap kebijakan dieksekusi cepat dengan hasil terbaik sehingga manfaatnya segera diterima masyarakat,” jelas Sudaryono.[]






