Pasar Rakyat Dipersiapkan Untuk di Bumi Hanguskan

Pasar Rakyat Dipersiapkan Untuk di Bumi Hanguskan

DETIKMERDEKA.COM- APPSI sebagai asosiasi yang menaungi dan membela kepentingan pedagang pasar rakyat / tradisIonal terus berupaya untuk aktif melakukan monitoring, setiap terjadi hal hal yang sekiranya merugikan pasar, pedagang pasar dan rakyat.

Kotekstasi muara apa yang terjadi di oasar rakyat akan langsung berdampak pada rakyat kebanyakan, karena rakyat Indonesia kebanyakan mempunyai keterbatasan daya beli dan kedua penduduk kita kebanyakan berada di desa desa, yang secara konkret menggantungkan pemenuhan kebutuhan sehari harinya diperoleh dari warung tetangga atau pasar rakyat / tradisional.

Berkaitan dengan itu, dan dalam konteks terjadinya gejolak dua bahan pokok penting, APPSI melakukan monitoring langsung ke pasar pasar khususnya pasar pasar yang ada di Jawa Barat.

Ada beberapa temuan yang kami anggap sebagai anomali, yaitu kenaikan beras yang telah berlangsung hampir 3 bulan masih belum ada upaya untuk melakukan stabilisasi pasokan guna menekan harga beras di lapangan.

Hasil kunjungan ke beberapa pasar pasokan beras operasi pasar Bulog sangat minim, dan kalaupun ada, bukan dari Bulog langsung, tetapi dari Pihak ke 3 dengan harga jual kepada para pedagang sudah di atas HET yang ditentukan. 

Harga beli pedagang beras Bulog di beberapa pasar diketahui berkisar antara Rp 9.400 sampai Rp 10.400 per kg kemasan 50 kg. Dengan demikian, target penurunan harga beras sangat tidak mungkin bisa dicapai pada HET Rp 9.450 per kg, karena beras operasi Bulog saja selain minim pasokan juga pedagang membeli sudah di atas HET. 

Kondisi ini sangat memberatkan rakyat kecil yang berpenghasilan harian, dimana membeli beras hanya untuk makan sehari sampai dua hari saja, karena rakyat kecil membeli beras jumlahnya tidak banyak yang tidak lebih dari 2 kg setiap pembelian. Dan sekarang harus merogoh kantong lebih dalam lagi lantaran beras yang terjangkau tidak ada di pasaran.

Di lain pihak, Bulog sebagai institusi yang memperoleh penugasan dari negara malah mengalokasikan dan menargetkan distribusi ke ritel ritel moderen. Ini sebuah kebijakan yang tidak berempati pada rakyat kecil umumnya, dan pedagang pasar khususnya, bahkan menyakiti hati para pedagang pasar

Kebijakan ini selain merugikan rakyat kecil, ditenggarai akan membunuh keberadaan pasar, dan pedagang pasar sebagai salah satu infrastruktur ekonomi nasional yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Kondisi kelangkaan komoditas di pasar, selain beras, juga terjadi pada “Minyakita” yang terlanjur melekat sebagai minyak murah di mata rakyat. Migor “Minyakita” Sangat sulit diperoleh oleh masyarakat. Padahal sudah hampir memasuki bulan ke 3, sama halnya dengan belum ada tanda tanda pasokan akan normal kembali, sehingga rakyat dan UMKM belum bisa membeli kembali minyak goreng dengan harga terjangkau.

Mencermati temuan temuan tersebut, kami mendesak Bulog dan Badan Pangan Nasional untuk secepatnya melakukan langkah strategis dengan melakukan “prioritas supply” ke pasar pasar rakyat, sebagai bagian dari stabilisasi harga yang telah memberatkan rakyat kecil dalam beberapa bulan ini

Oleh : H. Nandang Sudrajat (Sekjen DPP PAPERA)