DETIKMERDEKA – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Semarang, Jawa Tengah, setelah muncul dugaan keracunan yang menimpa ratusan penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BGN Sudaryono mengatakan penghentian sementara dilakukan hingga proses investigasi selesai. Selain menghentikan operasional dapur, BGN juga memberikan surat peringatan kepada pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan layanan.
“Jadi, dapurnya di-suspend (sambil) menunggu (hasil) investigasi. Jadi, kemudian SPPG-nya juga kita beri surat peringatan. Jadi di-suspend ini kan ada mitra, ada yayasan, ada SPPG, ada yang di situ kita beri sanksi termasuk Korcam dan ke atas ini kami beri peringatan,” kata Sudaryono dalam akun TikTok pribadinya.
Menurut Sudaryono, hasil investigasi diperkirakan baru dapat diketahui dalam lima hingga tujuh hari kerja. Pemeriksaan dilakukan bersama instansi terkait, termasuk Dinas Kesehatan, untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Hasil investigasi awal menunjukkan dugaan sementara mengarah pada beberapa bahan makanan, seperti daun singkong dan bumbu rendang. Selain itu, waktu memasak yang terlalu lama sebelum makanan didistribusikan juga diduga menjadi faktor yang perlu didalami.
“Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain, kita lagi cek minta dari Dinas Kesehatan untuk dicek lab-nya. Kita butuh waktu paling tidak ya 7 hari, 5 hari kerja,” ucap dia.
Sudaryono menjelaskan dugaan tersebut muncul setelah membandingkan distribusi makanan ke sekolah lain yang dilayani SPPG yang sama. Sekolah lain tidak mengalami kasus serupa karena makanan diterima lebih awal.
“Jadi, dari mulai jam 9 (malam) sudah mulai masak. Itu kemudian diberikan sekitar jam 9 atau jam 10 (pagi). Jadi ini cukup lama, karena yang dikasih makan bukan hanya SMK Negeri 6 tapi juga beberapa sekolah yang lain. Nah, sekolah yang lain itu dikasikannya lebih pagi. Jadi, kondisi makanannya masih fresh, masih baik,” beber dia.
BGN menegaskan seluruh dugaan tersebut masih menunggu hasil uji laboratorium. Pemerintah belum menetapkan penyebab pasti sebelum seluruh proses investigasi selesai.
Sudaryono juga mengunjungi para korban yang menjalani perawatan di RS Permata Medika, RS Bhakti Wira Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum di Kota Semarang pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Ia memastikan kondisi korban terus membaik.
“Ada sekitar 700-an sekian, kemudian sebagian itu kemudian ada yang mual, ada yang buang air dan seterusnya. Dari sekitar 700-an itu yang dirawat, yang dirawat 13. Ada yang di rumah sakit, ada yang di puskesmas. Alhamdulillah tadi sudah kita tengok kondisinya sudah baik,” ujar Sudaryono.
Kasus ini bermula setelah 707 orang yang terdiri atas 693 siswa dan 14 guru SMKN 6 Semarang mengalami gejala yang diduga sebagai keracunan makanan setelah menyantap menu MBG pada Jumat, 31 Juli 2026.
Sebanyak 698 orang mendapat penanganan medis di lingkungan sekolah. Sembilan orang lainnya dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut.
Hasil penelusuran sementara menunjukkan bahan baku makanan diterima secara bertahap pada Rabu, 29 Juli 2026. Bahan yang diterima meliputi bumbu, buah, daging ayam, tahu, dan sayuran. Pengiriman berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga 17.30 WIB.
Seluruh bahan kemudian disimpan di gudang basah dan lemari pembeku sesuai jenisnya. Persiapan makanan dimulai pada pukul 18.55 WIB dengan pencucian bahan, pengukusan tahu, dan marinasi ayam selama sekitar satu jam. Ayam kemudian digoreng hingga selesai sekitar pukul 23.50 WIB.
Proses memasak berlanjut pada Kamis, 30 Juli 2026 mulai pukul 00.30 WIB. Petugas memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran sebelum seluruh menu menjalani uji organoleptik, pemeriksaan gramasi, serta penilaian oleh ahli gizi sekitar pukul 04.00 WIB.
Makanan kemudian dikemas dan didistribusikan ke sekolah dalam dua tahap. Pengiriman pertama dilakukan pukul 06.00 WIB, sedangkan tahap kedua sekitar pukul 08.10 WIB.
BGN menyatakan evaluasi terhadap standar operasional seluruh SPPG akan terus dilakukan. Langkah tersebut diambil untuk memastikan keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis serta mencegah kejadian serupa terulang.[]






