DETIKMERDEKA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia harus memanfaatkan situasi global yang penuh ketidakpastian sebagai momentum untuk memperkuat kemandirian nasional. Menurutnya, berbagai gejolak internasional, mulai dari konflik geopolitik hingga gangguan rantai pasok global, menjadi pengingat penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada pihak lain.
Dalam wawancara dengan The Economist, Prabowo menilai dunia saat ini sedang menghadapi kondisi yang tidak menentu akibat meningkatnya konflik dan ketegangan geopolitik yang berdampak pada sektor energi, pangan, hingga keuangan global.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah memilih fokus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui berbagai langkah strategis yang bertujuan meningkatkan ketahanan negara dalam jangka panjang.
“Masa-masa yang penuh ketidakpastian seperti ini menuntut akal sehat. Akal sehat untuk mendukung dan memajukan rakyat maupun perekonomian kita,” ujar Prabowo.
Presiden menjelaskan, pemerintah telah melakukan sejumlah pembenahan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Langkah tersebut antara lain melalui efisiensi anggaran negara lebih dari Rp300 triliun, penguatan sistem perpajakan berbasis digital, perbaikan tata kelola ekspor, pemberantasan penyelundupan, serta menjaga disiplin fiskal dan defisit anggaran.
Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat ketahanan energi sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian nasional. Berbagai program yang sedang dijalankan mencakup implementasi bahan bakar B50, pengembangan energi baru dan terbarukan, pembangunan kilang minyak baru, hingga peningkatan cadangan energi strategis nasional.
Prabowo menilai berbagai langkah tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Di tengah tekanan ekonomi global, Indonesia tetap mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
“Indonesia tetap tangguh. Pada kuartal pertama tahun 2026, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di antara negara-negara G20 setelah India. Defisit anggaran kami tetap berada di bawah 3 persen dari PDB, sementara rasio utang terhadap PDB jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara maju,” jelasnya.
Menurut Prabowo, perjalanan menuju Indonesia yang lebih mandiri tentu tidak akan mudah. Namun, ia menegaskan bahwa setiap transformasi besar selalu menghadapi tantangan dan hambatan.
Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan berbagai reformasi agar Indonesia mampu memaksimalkan seluruh potensinya sebagai negara besar dengan sumber daya yang melimpah.
“Kami bertekad agar negara ini tidak lagi didefinisikan oleh keraguan, ketergantungan, atau kinerja yang kurang memuaskan,” pungkas Prabowo.






