Sistem Sosial Masyarakat Laut: Orang Laut-Bajak Laut dan Raja Laut

Makalah berjudul Sistem Sosial Masyarakat Laut: Orang Laut-Bajak Laut dan Raja Laut, Penulis: Irfhan Ade Saputra – Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang (UIN IB Padang). Mahasiswa dibawah bimbingan Dosen Prof. Dr. Sudarman, MA.

BAB I: PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Masyarakat laut adalah kelompok manusia yang hidup dan berinteraksi erat dengan lingkungan laut. Mereka sering kali tinggal di daerah pesisir atau pulau-pulau kecil, di mana laut menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka. Kehidupan masyarakat laut sangat dipengaruhi oleh sumber daya laut yang melimpah, seperti ikan, kerang, dan berbagai hasil laut lainnya. 

Sejak zaman dahulu, masyarakat laut telah mengembangkan berbagai tradisi dan budaya yang unik. Tradisi ini mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari cara menangkap ikan, membangun perahu, hingga upacara adat yang berkaitan dengan laut. 

Tradisi-tradisi ini tidak hanya mencerminkan cara hidup mereka, tetapi juga menunjukkan hubungan yang mendalam antara manusia dan laut.

Salah satu tradisi yang menonjol dalam masyarakat laut adalah upacara adat yang berkaitan dengan laut. Upacara ini sering kali dilakukan untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan hasil tangkapan yang melimpah. 

Misalnya, beberapa masyarakat laut mengadakan upacara syukuran setelah mendapatkan hasil tangkapan yang besar, sebagai bentuk rasa syukur kepada dewa laut atau roh leluhur. 

Selain upacara adat, masyarakat laut juga memiliki kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal ini mencakup pengetahuan tentang ekosistem laut, teknik menangkap ikan yang berkelanjutan, dan cara menjaga kelestarian lingkungan laut. 

Pengetahuan ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut dan memastikan keberlanjutan sumber daya laut bagi generasi mendatang.

Namun, masyarakat laut juga menghadapi berbagai tantangan. Perubahan iklim, penangkapan ikan berlebihan, dan pembangunan di daerah pesisir merupakan beberapa ancaman yang dapat merusak ekosistem laut dan mengganggu kehidupan masyarakat laut. 

Oleh karena itu, penting untuk melestarikan tradisi dan kearifan lokal mereka sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan laut. Dalam menghadapi tantangan tersebut, masyarakat laut sering kali menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Mereka terus berinovasi dalam teknik menangkap ikan, membangun perahu, dan mengelola sumber daya laut. Kemampuan adaptasi ini menunjukkan bahwa tradisi dan kearifan lokal masyarakat laut memiliki nilai yang sangat penting dalam menghadapi perubahan zaman. 

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa itu masyarakat laut (orang laut, bajak laut dan raja)?
  3. Bagaimana tradisi kehidupan masyarakat laut?

BAB II: PEMBAHASAN

  1. Masyarakat Laut (Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut)
  2. Masyarakat Laut

Masyarakat laut, kelompok manusia yang hidup dan bergantung pada laut, memiliki karakteristik unik yang berbeda dari masyarakat daratan. Kehidupan mereka dibentuk oleh karakteristik laut yang dinamis dan penuh tantangan, seperti pasang surut, arus laut, dan badai. Kehidupan mereka diwarnai oleh ketergantungan yang kuat terhadap laut sebagai sumber kehidupan, mata pencaharian, dan bahkan sumber spiritual. Ketergantungan pada laut menjadi ciri utama masyarakat laut.

Laut adalah sumber makanan, air minum, bahan bangunan, dan sumber mata pencaharian bagi mereka.  Mereka menggantungkan hidup pada kegiatan maritim, seperti menangkap ikan, menyelam, membudidayakan laut, dan berlayar. Laut bukan hanya sumber daya alam, tetapi juga tempat spiritual yang dihormati dan dijaga.

Masyarakat laut memiliki keterampilan maritim yang tinggi, yang diwariskan turun temurun, mereka memiliki pengetahuan tentang arus laut, arah angin, dan bintang, yang memungkinkannya untuk belayar dengan aman. Mereka juga ahli dalam teknik menangkap ikan, memperbaiki perahu, dan mengolah hasil laut. 

Keterampilan ini menjadi bagian penting dari kehidupan mereka dan diwariskan dari generasi ke generasi. Struktur sosial masyarakat laut cenderung kolektif dan egaliter. Mereka menekankan pentingnya gotong royong dan saling membantu dalam menjalankan kegiatan maritim. Struktur sosial mereka bersifat egaliter, dengan penekanan pada kesetaraan dan kerjasama antar anggota masyarakat. Keputusan penting dalam masyarakat laut biasanya diambil bersama melalui musyawarah.

Sistem kepercayaan masyarakat laut tertanam kuat dalam kehidupan mereka. Mereka memiliki kepercayaan terhadap kekuatan alam, terutama kekuatan laut, yang dianggap memiliki kekuatan yang bisa membahayakan jika tidak dihormati.  

Mereka juga percaya adanya dewa laut atau roh leluhur yang menguasai laut. Keyakinan ini tercermin dalam berbagai ritual dan upacara yang mereka lakukan untuk memohon keselamatan di laut, kelimpahan hasil laut, dan penghormatan kepada roh leluhur.

  1. Bajak Laut

Bajak laut (lanun) sering di identikkan dengan pirata (bahasa Spanyol, Portugis, dan Italia), pirate (bahasa Inggris dan Perancis), piraat atau zeerover (bahasa Belanda), pirat atau Seerauber (bahasa Jerman). Pengertian pirata berbeda dengan korsario (bahasa Perancis corsair; Inggris corsair atau privateer; Spanyol, Portugis dan Italia corsario; Belanda corsair atau kaper. Seorang korsario melakukan tindakan kekerasan dilaut dengan membawa kewenangan negara (lettre de marque) ketika terjadi peperangan antar dua negara. 

Perbedaan antara pirata dan korsario sangat tipis karena korsario bermotif politik sedangkan pirata berada dalam tataran kriminal. Pirata merupakan fenomena yang terjadi di Laut Tengah jauh sebelum ada korsario yang dikenal sejak abad ke 15. 

Ada korsario berwajah pirata dan ada pirata yang berperangai sebagai korsario (Lapian 1987:217-218). Bajak laut mencakup kedua pengertian tersebut. Bajak laut adalah orang yang melakukan kekerasaan dilaut tanpa mendapat wewenang dari pemerintahanya untuk melakukan tindakan itu Pirata communis hostis omnium (Bajak laut musuh bersama ummat manusia).

Munculnya bajak laut menurut pemikiran kaum evolusionis merupakan kelanjutan dari perburuan, tingkat ekonomi yang palingawal. Perburuan bagi masyarakat bahari berupa penangkapan ikan yang selanjutnya berkembang pada penangkapan segala sesuatu yang ditemukan di laut yang luas.  Wilayah laut dianggap sebagai tempat berusaha yang bebas, seperti halnya daerah hutan bagi masyarakat darat yang mengembara dihutan untuk mengumpulkan makanan. Masing-masing orang atau kelompok yang berusaha merasa bebas untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Perkembangan peradaban yang lebih tinggi melihat tindakan pengambilan secara bebas di laut dinyatakan sebagai perompakan, bajaklaut. Konstruksi yang lain adalah evolusi ekonomi, yaitu tahapan awal dari perdagangan (Lapian1987). 

Perdagangan terjadi karena ada kebutuhan barang yang tidak dipunyai sehinggah arus diperoleh dari pihak yang mempunyainya. Pemenuhan kebutuhan itu dilakukan dengan tukar menukar dan pada masyarakat yang lebih maju diperoleh dengan jalan jual beli. Ketika pertukaran berlangsung secara tidak seimbang maka terjadilah perampasan yang di laut dilakukan oleh bajak laut dan perang. 

Perang dilakukan dengan bajak laut, terlebih ketika kekuatan angkatan laut dianggap tidak memadai untuk menghadapi musuh. Contoh dalam kasus ini adalah Perang Kemerdekaan Belanda melawan Spanyol selama 80 tahun lamanya, Belanda bekerja sama dengan kelompok yang dikenal sebagai Watergeuzen (Bahasa Inggris sea-beggars, Perancis mengenal laguerre decourse (perang korsario) yang telah membantu pemerintah Perancis dalam perang-perang nya pada abad XVII dan XVIII yang menjad ikan pelabuhan St. Malo sebagai pangkalan kapal korsario. Perang kemerdekaan Amerika Latin pada abad XIX menggunakan corsario sinsurgentes (korasario pemberontak). Mexico, Kuba, dan Venezuela merupakan operasi bajak laut sekaligus basis pemberontak dan pejuang kemerdekaan melawan kekuatan kolonial Spanyol.

  1. Raja Laut (contoh yang diambil dalam pola masyarakat maritim sriwijaya)

Subbagian ini akan membahas hubungan struktur politis Sriwijaya dalam kaitannya dengan keberadaan raja laut di sana. Konteks struktur politis juga dibahas di sini karena menurut teori A.B. Lapian, keberadaan raja laut di Kepulauan Sulu disebabkan oleh kekuasaan yang diberikan oleh Sultan kepada salah satu aparatur pemerintahan yang memberinya gelar raja laut. 

Sebagaimana disebutkan dalam pendahuluan, definisi raja laut menurut pendapat Lapian adalah pemimpin sah kekuatan laut. Dalam hal ini, raja laut di Sulu dipegang oleh salah satu Datu Kesultanan. Sistem datu tidak hanya ada di Kesultanan Sulu tetapi juga di Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian, hubungan antara datu dan raja laut di Sriwijaya perlu diselidiki juga. Namun, sebelum itu, perlu dipahami konsep kedatuan terlebih dahulu. Perlu diketahui bahwa sistem kedatuan di Kerajaan Sriwijaya dan di Kesultanan Sulu berbeda. 

Konsep kedatuan di Kesultanan Sulu lebih mirip gubernur yang merangkap menteri. Setiap datu memiliki pengikut di daerahnya masing-masing dan setiap datu mengemban tugas negara. 

Misalnya, Datu Maharaja-Laila mengemban tugas setingkat menteri koordinator, Datu Muluk Bandarasa sebagai syahbandar pelabuhan, dan Datu Amir Bahar sebagai raja laut Kesultanan Sulu yang memimpin seluruh kekuatan bahari Laut Sulu. Datu Amir Bahar akan menghadapi semua kekuatan bahari eksternal yang mengancam kedaulatan Laut Sulu.

Meskipun demikian, pemerintahan Kesultanan Sulu memiliki struktur politis yang terfragmentasi. Artinya, setiap datu memiliki rakyatnya sendiri dan, jika datu tidak setuju dengan Sultan, ia dapat bebas melawan Sultan dan mendirikan wilayah administrasinya sendiri dan dapat dianggap sebagai raja lokal oleh para pengikutnya. Mengenai konteks raja laut di Sulu, dapat disimpulkan bahwa gelar Raja Laut di Kesultanan Sulu diperoleh karena campur tangan Sultan dalam rangka mempertahankan kedaulatan laut dan juga untuk menghimpun kekuatan bahari di seluruh Kesultanan.

  1. Tradisi Masyarakat Laut

Masyarakat laut memiliki tradisi yang unik dan kaya, dibentuk oleh hubungan erat mereka dengan laut. Tradisi ini mencerminkan adaptasi mereka terhadap lingkungan laut yang dinamis dan penuh tantangan. Ritual dan upacara menjadi bagian penting dari kehidupan mereka, sebagai bentuk penghormatan dan permohonan kepada kekuatan alam, khususnya laut.

  1. Upacara Pelayaran

Upacara pelayaran adalah upacara yang dilakukan sebelum belayar, upacara ini merupakan salah satu tradisi penting yang bertujuan untuk memohon keselamatan, kelimpahan hasil laut dan menghormati roh leluhur yang mendiami laut. Mereka juga memiliki upacara pemburuan, yang dilakukan sebelum menangkap ikan atau melakukan pemburuan di laut, sebagai bentuk permohonan keberhasilan dan penghormatan kepada roh laut.

  1. Tarung Laut

Tarung laut adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir sebagai bentuk rasa syukur atas hasil laut yang melimpah. Dalam tradisi ini, sesaji berupa makanan, hasil bumi, dan kadang – kadang hewan ternak dilarung atau dihanyutkan ke laut sebagai persembahan kepada roh laut atau dewa laut. Tujuan dari Larung Laut adalah untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan hasil tangkapan yang melimpah di masa mendatang. Upacara ini biasanya diiringi dengan doa-doa dan ritual adat yang melibatkan seluruh komunitas. Selain itu, Larung Laut juga menjadi ajang untuk mempererat hubungan sosial antarwarga dan menjaga kelestarian budaya lokal.

  1. Tradisi Perahu

Bagi masyarkat laut, perahu bukan hanya alat transportasi tetapi juga symbol, status, kebanggaan, dan identitas budaya. Tradisi pembuatan perahu melibatkan ritual khusus, seperti pemilihan kayu dengan doa dan upacara adat untuk keberkahan. Perawatan perahu ini dilakukan dengan teliti, sering disertai tradisi untuk menjaga keawetannya. Perahu juga dihias atau diberi nama dengan makna simbolis, mencerminkan hubungan spiritual dan kearifan lokal masyarakat laut. Tradisi ini memperkuat keterampilan sekaligus melestarikan warisan budaya mereka.

  1. Selamatan perahu (syukuran sampa)

Selamatkan perahu adalah kebiasaan, kepercayaan dan adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyangnya. Tradisi selamatan Perahu ini adalah suatu kebiasaan turun temurun yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Desa Bugis dan ditaati serta yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Bugis itu sendiri waupun ada pandangan yang berbeda-beda antara masyarakat yang hidupnya tergantung sebagai nelayan dengan para tokoh adat, akan tetapi tradisi selamatan perahu (syukuran sampa) tetap dilakukan karena mayoritas masyarakat desa bugis sebagai nelayan dan kepercayaan melakukan tradisi selamatan perahu sangat kuat, karena kepercayaan masyarakat Bugis selamatan perahu adalah doa biar perahu tersebut akan membawah rezeki dan tidak akan mendapatkan musibah, Selamatan perahu ini dilakukan sehari semalam.

  1. Tantangan Masyarakat Laut

Masyarakat laut, yang hidup selaras dengan laut dan menggantungkan hidup pada kekayaannya, kini menghadapi berbagai tantangan yang mengancam kelangsungan hidup mereka. Tantangan ini berasal dari berbagai faktor, mulai dari perubahan iklim yang mengancam lingkungan laut hingga eksploitasi sumber daya laut yang tidak terkendali.

  1. Pencemaran Laut

Pencemaran laut menjadi ancaman serius lainnya. Limbah industri dan rumah tangga, bahan kimia, dan sampah plastik yang dibuang ke laut mencemari air laut, merusak ekosistem, dan mengancam kesehatan masyarakat laut. Tumpahan minyak dari kapal tanker atau kebocoran dari rig minyak juga merusak ekosistem laut dan mengancam mata pencaharian mereka. Penangkapan ikan yang berlebihan dan penggunaan alat tangkap yang merusak mengancam kelestarian populasi ikan dan mengurangi hasil tangkapan. Penghancuran terumbu karang dan ekosistem laut lainnya juga berdampak pada kehidupan masyarakat laut. Konflik antar nelayan semakin meningkat akibat penurunan populasi ikan dan perebutan area penangkapan.

  1. Perubahan iklim

Perubahan iklim menjadi salah satu ancaman terbesar bagi masyarakat laut. Naiknya permukaan air laut merusak pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir tempat tinggal mereka. Perubahan pola cuaca ekstrem, seperti badai dan gelombang tinggi, juga mengancam keselamatan mereka dan mengurangi hasil tangkapan ikan. Peningkatan suhu laut dan keasaman juga mengancam ekosistem laut, mengurangi populasi ikan, dan mengganggu kehidupan masyarakat laut.

  1. Eksploitasi Sumber Daya Laut yang Berlebihan

Eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan adalah fenomena di mana negara- negara, dalam upaya untuk memenuhi permintaan konsumen dan industri mereka sendiri, cenderung mengeksploitasi sumber daya laut tanpa memadai mempertimbangkan dampaknya pada keberlanjutan ekosistem laut. Ini mencakup aktivitas seperti penangkapan ikan yang berlebihan, ekstraksi mineral dan energi, serta pencemaran laut. Dalam prosesnya, seringkali terjadi ketidakseimbangan antara pengambilan sumber daya dan kemampuan alam untuk memperbarui dan mempertahankan ekosistem laut yang sehat. Efek dari eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan dapat sangat merusak. Salah satu dampak yang paling nyata adalah penurunan populasi ikan.

BAB III: PENUTUP

  1. Kesimpulan

Masyarakat laut merupakan kelompok manusia yang memiliki hubungan erat dengan laut, yang menjadi sumber kehidupan, mata pencaharian, dan spiritualitas mereka. Kehidupan mereka ditandai oleh ketergantungan yang kuat terhadap sumber daya laut, serta keterampilan maritim yang tinggi yang diwariskan secara turun-temurun. Struktur sosial mereka bersifat kolektif dan egaliter, dengan penekanan pada gotong royong dan musyawarah dalam pengambilan keputusan. Tradisi dan ritual, seperti upacara pelayaran, tarung laut, dan selamatan perahu, mencerminkan penghormatan mereka terhadap kekuatan alam dan menjaga kelestarian budaya lokal.

Namun, masyarakat laut kini menghadapi berbagai tantangan serius, termasuk pencemaran laut, perubahan iklim, dan eksploitasi sumber daya laut yang berlebihan. Pencemaran yang disebabkan oleh limbah dan aktivitas industri mengancam ekosistem laut dan kesehatan mereka. Perubahan iklim, dengan dampak seperti naiknya permukaan air laut dan cuaca ekstrem, juga mengancam keselamatan dan hasil tangkapan mereka. Selain itu, eksploitasi sumber daya laut yang tidak terkendali mengakibatkan penurunan populasi ikan dan kerusakan ekosistem. Oleh karena itu, penting untuk melindungi dan mendukung masyarakat laut agar mereka dapat terus menjalani kehidupan yang berkelanjutan dan harmonis dengan lingkungan laut yang mereka huni.

DAFTAR PUSTAKA

B. P. Aritonang, “Kearifan Lokal Masyarakat Laut: Menghadapi Tantangan Global,” Jurnal Kebudayaan Maritim 5, no. 1 (2020): 48

Bustami, Abd Latif. “Folklor Kangean: Suatu Kajian Cerita Bajak Laut (Lanun) Sebagai Sumber Sejarah Kawasan.” Bahasa Dan Seni 32.2 (2003): 267-285.

Dian, dkk, Tradisi Selamatkan Perahu Masyarakat Pesisir Di Desa Bugis Kecamatan Sape Kebupaten Bima, Historis: Jurnal Kajian, Penelitian & Pengembangan Pendidikan Sejarah, http://journal.ummat.ac.id/index.php/historis, p-ISSN 2549-7332 | e-ISSN 2614-1167Vol. 6, No. 2, Desember 2022. 

M Arief Rahman, dkk, Economic, Security and Environmental Impacts of the Decline of Maritime Glory, Jurnal Kemaritiman: Indonesian Journal of Maritime 4 (2) (2023). 

Mulyanto, Heru. “Orang Laut–Bajak Laut–Raja Laut: Teori Adrian B. Lapian Dalam Pola Masyarakat Maritim Kerajaan Sriwijaya.” Paradigma: Jurnal Kajian Budaya 15.1: 5.

N. Siregar, “Tradisi dan Kepercayaan Masyarakat Pesisir: Tantangan dan Peluang,” dalam Masyarakat Pesisir dan Pengelolaan Sumber Daya Laut, diedit oleh R. K. Sudiarja (Jakarta: Penerbit Ombak, 2021), 104

Sariwardhani W. Ronggosegoro, Musalam, Adat Istiadat Budaya Spiritual Komunitas Suku Jawa (Kejawen) (Cilacap: Kelompok Studi Jawanology Cilacap, 1990). 

Sitepu MJ R Dahuri, Ginting Sp, Rais J, Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir Dan Lautan Secara Terpadu (Jakarta: Pradnya Paramita, 1996). 

 

Baca Juga: Bukan Sekadar Teknologi,Transformasi Digital Butuh Mindset Lintas Generasi