DETIKMERDEKA – Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Prof. Arief Anshory Yusuf, menilai Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok yang memiliki pola pikir welfarist, yaitu pemimpin yang mengutamakan kesejahteraan rakyat dalam setiap kebijakan.
Dalam wawancara dengan program Cuap Cuap Cuan CNBC Indonesia yang dikutip pada Kamis, 10 Juli 2025, Arief menyebutkan pendekatan Prabowo berbeda dengan tokoh-tokoh dunia yang dikenal populis atau liberal.
“Saya boleh bilang dia welfarist, walaupun saya tidak tahu istilah itu secara formal ada atau tidak. Tapi itu yang saya lihat dari sikap dan arah kebijakannya,” kata Arief.
Penilaiannya ini didasarkan pada berbagai pertemuan resmi antara Dewan Ekonomi Nasional dengan Presiden Prabowo.
Prof Arief mengaku terkesan dengan keterlibatan langsung Prabowo dalam setiap diskusi ekonomi, menunjukkan kepedulian yang besar terhadap persoalan-persoalan rakyat.
“Dalam setiap diskusi, beliau sangat aktif dan peduli terhadap masalah ekonomi. Bahkan banyak kebijakan yang muncul langsung dari pemikiran beliau,” ujarnya.
Arief menjelaskan Prabowo sangat fokus pada isu-isu pangan dan ketahanan pangan, yang menurutnya menjadi prioritas utama sang presiden.
“Kalau melihat apa yang jadi kekhawatiran utama beliau, itu soal makanan. Makanya program ketahanan pangan dan MBG (Makan Bergizi Gratis) menjadi prioritas utama,” lanjutnya.
Meski disebut sebagai welfarist yang biasanya lebih berpihak ke rakyat dan kurang memihak korporasi, Prabowo justru dinilai unik karena juga memperkuat peran korporasi melalui pembentukan BPI Danantara—perusahaan negara yang berfungsi sebagai pemberi modal untuk proyek strategis.
“Di satu sisi dia pro people, tapi di sisi lain dia membentuk korporasi. Ini menarik dan agak berbeda dari pendekatan ekonomi yang biasa kita kenal. Saya rasa ini perlu dikaji lebih dalam oleh para ekonom,” kata Arief.
Arief juga mencontohkan keberanian Prabowo dalam menyampaikan ide-ide kebijakan secara spontan. Salah satunya saat Forum Sarasehan Ekonomi April lalu, di mana Prabowo tiba-tiba menyuarakan perlunya deregulasi ekonomi.
“Banyak yang bertanya, ide ini dari siapa? Tapi kami sebagai anggota DEN menyaksikan langsung—itu datang dari beliau sendiri,” tegasnya.
Menurut Arief, pola pikir Prabowo menunjukkan bahwa ia bukan hanya seorang pemimpin politik, tetapi juga seorang pemikir kebijakan ekonomi yang aktif dan punya perhatian besar terhadap kesejahteraan rakyat.
“Cara berpikirnya tentang ekonomi bukan semata populis atau liberal, tapi fokus pada upaya membangun kesejahteraan jangka panjang,” pungkas prof Arief.[]






