Saat Kemanusiaan Digantikan Uang
DETIKMERDEKA.COM- Manusia dibunuh dengan motif uang. Manusia kehilangan nyawa karena begal juga ujung-ujungnya uang
Martabat manusia hilang karena uang. Seni melacur lintas sektor juga dikarenakan uang. Seiring perkembangan zaman, uang semakin menampakkan jati dirinya, nyaris menjadi tuhan. Ia mampu mengatur berbagai postur kehidupan manusia
Dalam kehidupan yang serba canggih kekinian, uang bukan lagi sebatas alat tukar, dan bukan pula sebagai kebutuhan memenuhi hasrat hedonis atau mentereng, melampaui dari itu uang menjadi jalan mulus dalam menggerakkan sistem yang menjadikan umat manusia pengecut dari generasi ke generasi
Semangat menuhankan uang satu tarikan nafas dengan semangat feodalisme, kolonialisme, diktator, koruptif dan lainnya yang serumpun dengannya. Nilai-nilai kemanusiaan secara bertahap cepat terus digantikan oleh nilai-nilai materil.
Transformasi kehidupan manusia sedemikian mengalir begitu saja seperti seolah-olah tidak ada yang salah dengan perilaku kehidupan manusia
Hal tersebut tidak saja terjadi di dunia dagang, melainkan terus berdampak di berbagai sektor pelayanan publik dan misi pencerdasan generasi, baik itu dunia pendidikan, jabatan publik hingga dunia altruisme/filantropi
Dengan kondisi dan situasi sedemikian pula, sejarah heroik kemanusiaan yang pernah ada berpotensi besar digeser atau digantikan dengan sejarah baru manusia. Sejarah yang memanusiakan manusia digantikan dengan sejarah manusia yang menyengsarakan manusia
Kesadaran manusia sebagai barang pun semakin nyata. Nyawa manusia tampak makin hari seperti tak berharga. Nyawa manusia nyaris seperti nyawa ayam sayur atau nyamuk yang pada situasi tertentu dapat dibunuh begitu saja
Memang dalam sejarah Indonesia tidak dapat dilepaskan oleh fakta adanya pembunuhan manusia, baik yang berdalih perang, perampokan, penculikan, penganiayaan, politik hingga wabah penyakit
Namun demikian, sejarah kelam ini jarang diangkat dalam dunia pendidikan nasional, sehingga tragisnya praktik pembunuhan akhir-akhir ini tampak semakin parah
Padahal, dulu maupun saat ini, praktik pembunuhan itu selalu ada. Mungkin inilah yang disebut sejarah mungkin berulang. Sejarah pembunuhan manusia dengan alasan materil. Sejarah menggantikan manusia dengan uang. Artinya, uang atau harta lebih berharga dari pada nilai kemanusiaan
Nasib kemanusiaan semakin terancam diperparah lagi dengan adanya perangkat algoritma/AI yang terus menggantikan peran manusia dalam menjalani aktivitasnya. Keinginan umat manusia untuk terus menempa nilai-kemanusiaannya tidak berbanding lurus dengan nilai yang menuhankan uang, harta dan jabatan
Pragmatisme manusia meningkat, keteladanan dan ketulusan manusia terjun bebas
Bagaimanakah situasi menghadapi kehidupan di era yang sedemikian? Tentu jawabannya adalah kebenaran akan selalu menang meskipun itu kapan akan terjadi. Selama keyakinan terhadap nilai-nilai ketuhanan dan keteguhan dalam beragama masih kuat, selama itu pula upaya memanusiakan manusia tersebut masih berlanjut meskipun tantangannya semakin besar
Langkah awal untuk mewujudkan penguatan semesta memanusiakan manusia tersebut, atau menghindari budaya yang menggantikan kemanusiaan dengan uang adalah dengan cara mengembalikan praktik-praktik pencerdasan melalui pendidikan yang memerdekakan manusia harus terus digalakkan
Ibarat pepatah, setiap pada yang ditanam, pasti ada ilalang yang ikut tumbuh. Artinya, tantangan pendidikan yang memanusiakan manusia mesti terus dikobarkan meskipun tren pendidikan hari ini makin mengarah pada feodalisme dan kolonialisme secara elite di tengah dominasi kekuasaan tidak mengarah pada pembelaannya terhadap aspirasi kemanusiaan rakyat Indonesia
Tanpa memprioritaskan nilai-nilai kemanusiaan melalui semangat pendidikan di alam terkembang ini, selama ini pula manusia tidak berharga dalam sistem sosial. Tolak ukur martabat manusia akan selalu dinilai dari aspek materil yang selalu menjadikan manusia-manusia semakin haus dengan material tersebut
Fakta inilah mungkin ada yang mengatakan generasi atau mentalitas Komunis itu masih ada dan akan selalu ada. Demikian pula mentalitas borjuis itu juga akan selalu ada. Apapun zamannya, di manapun daerahnya, umat manusia barangkali akan selalu dijepit oleh dua arus yang menjadikan manusia hidup jauh dari tujuan penciptaannya
Bukankah manusia diciptakan untuk saling menebarkan manfaat bagi sesama umat manusia lainnya? Lantas mengapa dunia menampakkan cara kerjanya bahwa kehidupan umat manusia semakin munafik dengan sesama manusia? Bahkan manusia sendiri menjadikan kehidupannya lebih rendah dari benda, dan lebih buruk dari hewan.
Sehingga, dapatkah kita menggolongkan diri kita berada di bagian kelompok manusia yang mana?
Oleh : Zulfata
(Direktur Sekolah Kita Menulis/SKM dan penulis
buku “Membaca Indonesia: dari Kekuasaan, oleh dan untuk Kekuasaan)






