Setelah Mimpi SBY
DETIKMERDEKA.COM- “Saya bermimpi, di suatu hari Pak Jokowi datang ke rumah saya di Cikeas untuk kemudian bersama-sama menjemput Ibu Megawati di kediamannya. Selanjutnya kami bertiga menuju Stasiun Gambir….”
Barangkali, dari berbagai mimpi yang dialami oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berbeda dengan mimpi yang ia publis melalui media sosial twitter dengan akun @SBYudhoyono. Dalam suasana politik pilpres 2024 yang semakin panas, barangkali bukan tanpa alasan atau sebab saat SBY termimpikan oleh hal tersebut atau lebih menempuh untuk mempublisnya ke ruang publik
Tak heran, ada banyak mata yang membaca cerita mimpi SBY tersebut. Tidak sedikit tafsiran politik yang diuraikan dari makna yang tersurat maupun yang tersirat dari mimpi SBY itu. Yang jelas, ada beberapa nama yang pernah menduduki jabatan presiden RI, seperti Megawati, Jokowi, bahkan di akhir cerita itu juga menyebut nama Soekarno.
Dalam komunikasi politik, tafsiran mimpi tidak saja dapat dimaknai sebagai bunga tidur, dan tidak pula dapat dimaknai sebagai angan-angan atau harapan kosong. Jauh dari itu, ada suatu maksud atau pertanda politik yang ingin ditonjolkan oleh seorang yang menceritakan mimpinya tersebut, terlebih yang bermimpi adalah seorang yang pernah menjadi presiden RI dua periode.
Terkait mimpi SBY, saat membaca cerita mimpi tersebut secara kasat mata, dari situ terlihat seolah-olah ada harapan kebersamaan yang diinginkan oleh SBY bersama Megawati dan Jokowi
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perhelatan lobi dan kompromi koalisi politik pada pilpres 2024, Partainya SBY (Demokrat) masih berada di luar koalisi partainya Megawati (PDI-P). Dari posisi ini pula, upaya jalinan silaturahmi politik antara Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Puan Maharani tampak akrab setelah nama AHY masuk dalam bursanya cawapres Ganjar Pranowo. Sehingga muncul ungkapan saat pertemuan Puan dan AHY adalah pertemuan kakak dan adik, dan Puan dan AHY pun dalam konferensi persnya mengakui hubungan yang sedemikian
Mencermati korelasi antara cerita mimpi SBY dengan pertemuan Puan-AHY, serta rekam jejak politik SBY dengan Megawati, dan kemudian posisi Jokowi sebagai Presiden RI yang kemudian partainya SBY mengalami serangan semacam “kudeta” oleh seseorang yang berada dalam kekuasaan Jokowi. Di tambah lagi dengan adanya keinginan untuk menarik partai Demokrat untuk tidak mendukung bakal calon presiden tertentu pada pilpres 2024
Dalam konteks ada udang di balik batu terkait berbagai relasi dan peristiwa politik di atas, sejatinya cerita mimpi SBY tersebut tidak bisa dianggap sebagai mimpi yang serampangan.
Terlebih cerita mimpi tersebut muncul saat kondisi partai Demokrat sedang mengalami cobaan yang cukup berat. Hal ini diperkuat lagi dengan adanya lukisan SBY dengan bertuliskan “No Justice, No Peace”. Serta adanya aksi massal oleh kader Demokrat secara simbolik dengan stempel darah dalam menuntut keadilan atas apa yang dialami oleh partai Demokrat di masa kepemimpinan Jokowi sebagai presiden RI
Yang masih menjadi misteri dari cerita mimpi SBY tersebut adalah siapakah presiden ke-8 yang sudah menunggu dan telah membelikan karcis kereta api di Stasiun Gambir? Meskipun SBY tidak menyebut nama siapa presiden ke-8 tersebut, namun dari cerita SBY tersebut mereka berempat (SBY, Megawati, Jokowi dan presiden RI ke-8) sempat minum kopi bersama sambil berbincang-bincang santai
“Di Stasiun Gambir, sudah menunggu Presiden Indonesia ke-8 dan beliau telah membelikan karcis kereta api Gajayana ke arah Jawa Tengah & Jawa Timur. Karena masih ada waktu, sejenak kami berempat minum kopi sambil berbincang-bincang santai. “SBY”
Cerita mimpi SBY tersebut dapat dianggap sebagai seni komunikasi politik SBY yang elegan, sejuk dan demokratis. Meskipun ada dugaan makna yang tersirat di dalamnya bahwa mengapa mereka yang pernah menjadi persiden RI seperti tidak langgeng atau cenderung jalan masing-masing dalam mengurus arah bangsa dan negera ini. Terutama dalam hal mengelola partai politik hingga penentuan komposisi koalisi capres dan cawapres pada pilpres 2024
Dugaan makna terkait tidak langgeng atau cenderung jalan masing-masing tersebut secara tidak langsung dapat kita rasakan melalui satu kesimpulan cerita dari banyak kesimpulan politik yang terpapar melalui cerita SBY tersebut. Sehingga pada akhirnya politk SBY, Megawati dan Jokowi tampak menuju tujuannya masing-masing
Sebagai penulis, setelah mimpi SBY, saya tidak ingin menduga bahwa menjelang pilpres 2024, tiga nama yang pernah menjabat sebagai presiden tersebut memiliki tujuannya yang berbeda tanpa dapat disatukan dalam menentukan arah masa depan bangsa
Sederhananya, yang pernah menjadi presiden RI pun sulit bersama membangun negeri, bagaimana pula dengan yang tidak pernah menjadi presiden RI? Akhir uraian, marilah renungi penggalan akhir dari cerita SBY berikut
” Sampai di Solo, pak Jokowi dan saya turun dari kereta. Pak Jokowi kembali ke kediamannya, saya terus ke Pacitan dengan bus. Sedangkan Ibu Megawati melanjutkan perjalanan ke Blitar untuk berziarah ke makam Bung Karno. “SBY”
Oleh : Zulfata (Direktur Sekolah Kita Menulis/SKM)






