DETIKMERDEKA – Presiden Prabowo Subianto membuka peluang lebih besar bagi Rusia untuk terlibat dalam pengembangan sektor energi strategis Indonesia. Pemerintah tidak hanya membutuhkan tambahan investasi, tetapi juga pengetahuan dan teknologi untuk memperkuat fondasi energi nasional.
Hal tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). Dalam forum tersebut, Prabowo menegaskan bahwa kerja sama ekonomi Indonesia-Rusia perlu diarahkan pada investasi yang memberikan manfaat lebih luas bagi perekonomian nasional.
Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah energi. Indonesia membuka ruang kerja sama dengan Rusia dalam pengembangan energi terbarukan, jaringan listrik cerdas atau smart grid, hingga teknologi nuklir.
“Kami mencari pengetahuan dan investasi di bidang energi terbarukan, smart grid, dan tenaga nuklir, termasuk teknologi modular maupun teknologi skala penuh,” kata Prabowo.
Menurut Prabowo, kebutuhan terhadap teknologi dan investasi tersebut sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperkuat industri nasional. Kerja sama dengan mitra internasional diharapkan tidak berhenti pada masuknya modal, tetapi juga meningkatkan kemampuan teknologi dan kapasitas industri di dalam negeri.
Dorongan tersebut datang ketika investasi Rusia di Indonesia telah mencapai USD 726 juta sepanjang periode 2021 hingga semester I 2026. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, investasi tersebut tersebar di sejumlah sektor, termasuk perumahan, kawasan industri dan bangunan gedung, jasa lainnya, serta hotel dan restoran.
Prabowo menginginkan agar investasi Rusia ke depan dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar. Salah satu caranya adalah menghubungkan investasi dengan agenda hilirisasi yang sedang dikejar pemerintah Indonesia.
Hilirisasi dinilai penting agar sumber daya alam Indonesia tidak sekadar dikirim ke luar negeri dalam bentuk bahan mentah. Dengan pengolahan di dalam negeri, pemerintah berharap tercipta industri bernilai tambah sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.
“Pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang. Pembangunan harus diukur dari manfaat yang dirasakan oleh keluarga-keluarga biasa,” ujar Prabowo dikutip Jumat (4/9/2026).
Pesan tersebut memperlihatkan arah investasi yang ingin dibangun pemerintah. Besarnya nilai modal yang masuk bukan menjadi satu-satunya ukuran, karena investasi juga dituntut memberikan dampak terhadap masyarakat melalui penciptaan pekerjaan, peningkatan keterampilan, dan penguatan industri.
Kerja sama energi dengan Rusia juga berpotensi memperluas hubungan ekonomi kedua negara yang selama ini terus berkembang. Prabowo melihat perbedaan karakter ekonomi Indonesia dan Rusia sebagai peluang untuk membangun hubungan yang saling melengkapi.
Rusia memiliki keunggulan dalam sejumlah sektor strategis, termasuk energi, ilmu pengetahuan, teknologi rekayasa, dan berbagai komoditas. Sementara Indonesia memiliki sumber daya alam, pasar domestik yang besar, tenaga kerja muda, serta akses ke pasar ASEAN.
Karena itu, pemerintah ingin hubungan ekonomi kedua negara tidak berhenti pada perdagangan dan investasi konvensional. Transfer pengetahuan serta penguasaan teknologi menjadi bagian penting agar kerja sama tersebut dapat mendukung transformasi industri Indonesia.
Dengan pendekatan tersebut, investasi Rusia di Indonesia diharapkan tidak hanya menambah nilai penanaman modal, tetapi juga mempercepat pengembangan sektor strategis. Pemerintah membuka peluang bagi perusahaan Rusia untuk ikut membangun kapasitas industri dan teknologi Indonesia, khususnya pada sektor energi yang membutuhkan investasi jangka panjang.






