FAO Jadikan Tri Hita Karana Bali Contoh Pertanian Berkelanjutan untuk Dunia

DETIKMERDEKA – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste menjadikan filosofi Tri Hita Karana yang hidup di masyarakat Bali sebagai salah satu contoh penerapan sistem pertanian berkelanjutan.

Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, mengatakan nilai-nilai yang terkandung dalam Tri Hita Karana telah diterapkan secara turun-temurun dan menjadi contoh nyata hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual.

“Tri Hita Karana berjalan lintas generasi dan itu contoh klasik yang kami ingin dunia menyadarinya,” kata Rajendra Aryal secara virtual dalam Dialog Global Transformasi Padi Berkelanjutan di Sanur, Denpasar, pada Senin, 22 Juni 2026.

Tri Hita Karana merupakan filosofi masyarakat Bali yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga diterapkan dalam sistem pertanian tradisional di Pulau Dewata.

Salah satu penerapannya dapat dilihat pada sistem Subak di Bali. Sistem ini mengatur pengelolaan air dan lahan pertanian secara kolektif oleh petani.

Kawasan Subak Jatiluwih di Kabupaten Tabanan menjadi salah satu contoh yang dikenal luas. Selain menjadi kawasan pertanian produktif, wilayah tersebut juga ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dan menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

Rajendra mengatakan para delegasi dari berbagai negara akan mempelajari langsung praktik tersebut. Sebanyak puluhan peserta dari 12 negara di Asia dan Afrika dijadwalkan mengunjungi Subak Jatiluwih untuk melihat sistem pertanian berkelanjutan yang diterapkan masyarakat setempat.

Kunjungan itu menjadi bagian dari agenda Dialog Global Transformasi Padi Berkelanjutan yang membahas berbagai tantangan dan peluang pengembangan pertanian ramah lingkungan.

Menurut Rajendra, pengelolaan sumber daya air menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan. Tantangan lain meliputi upaya menekan emisi karbon, mengurangi degradasi tanah, serta meningkatkan kemampuan sektor pertanian menghadapi perubahan iklim.

“Praktik seperti penyiraman dan pengeringan bergantian bisa menurunkan emisi metana 20-30 persen sekaligus mengurangi konsumsi air,” ujar dia.

Selain pengelolaan air, FAO juga menyoroti pentingnya penggunaan varietas unggul dan penerapan sistem pertanian yang terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan dampak lingkungan.

Rajendra menilai kebijakan pemerintah, dukungan pembiayaan, dan insentif pasar juga memiliki peran penting dalam mendorong pertanian yang lebih berkelanjutan. Langkah tersebut dinilai dapat membantu petani menerapkan praktik ramah lingkungan secara lebih luas.

FAO juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai kelompok masyarakat dalam proses transformasi pertanian. Perempuan, generasi muda, dan kelompok rentan dinilai perlu mendapatkan akses yang lebih besar dalam pengembangan sektor pertanian.

“Transformasi terjadi lebih cepat ketika negara-negara saling belajar, ketika pendekatan yang berhasil bisa diadaptasi dan ditingkatkan skalanya dan ketika tantangan diatasi secara kolektif dibandingkan dilakukan sendiri,” katanya.

Dialog Global Transformasi Padi Berkelanjutan menjadi forum pertukaran pengalaman antarnegara dalam mencari solusi menghadapi tantangan pangan global. Forum tersebut juga membahas cara meningkatkan produksi pangan dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan dan sumber daya alam.[]