Kementan Salurkan Benih Unggul untuk 870 Ribu Hektare Lahan

DETIKMERDEKA – Kementerian Pertanian (Kementan) mulai memperluas program bantuan benih unggul untuk sejumlah komoditas perkebunan strategis. Program ini menyasar komoditas yang memiliki nilai ekspor tinggi, seperti tebu, kelapa, kopi, kakao, mete, pala, dan lada.

Pemerintah menilai kualitas benih menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas perkebunan dalam jangka panjang. Langkah ini juga diharapkan dapat mendukung pengembangan industri hilir berbasis hasil perkebunan nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan program tersebut merupakan bagian dari rencana multitahun 2025-2027. Pemerintah menargetkan bantuan benih menjangkau lahan seluas 870 ribu hektare di berbagai daerah.

“Targetnya total adalah 870 ribu hektare seluruh Indonesia. Komoditasnya adalah kopi, kakao, tebu, kelapa, mete, pala. Ini komoditas strategis yang demand-nya tinggi di tingkat dunia,” kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Selatan, pada Selasa, 17 Juni 2026.

Program itu didukung anggaran sebesar Rp 9,95 triliun selama tiga tahun. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan benih, biaya tanam, serta berbagai kebutuhan pendukung lainnya.

Amran menjelaskan, setiap petani akan mendapatkan bantuan benih untuk lahan seluas 2 hingga 5 hektare.

“Totalnya 3 tahun ini 870 ribu hektare. Anggarannya Rp 9,95 triliun, kurang lebih Rp 10 triliun. Kelapa, tebu, kakao, kopi, mete, pala, lada, ya semua,” jelasnya.

“Jadi jatahnya itu biasanya 2 hektare sampai maksimal 5 hektare untuk satu orang. Tetapi kalau di atas itu, itu sudah pengusaha,” sambung Amran.

Kementan juga menggandeng berbagai pihak untuk mengawal pelaksanaan program tersebut. Pengawasan dilakukan bersama Satgas Pangan, TNI, Polri, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut Amran, kualitas benih akan menentukan produktivitas tanaman dalam jangka panjang. Kesalahan pada tahap pembibitan bisa berdampak selama puluhan tahun.

“Ini kita kawal bersama, tadi ada Satgas, TNI, Polri, dan KPK. Kami minta ini dikawal, kita kawal bersama. Karena ini adalah masa depan anak cucu kita. Satu kali tanam, seperti kelapa itu bisa panen 30 sampai 60 tahun,” ujar Amran.

“Jadi ini kita kawal betul, kenapa? Kalau salah di pembibitan, akan salah 30 tahun. Salah di pembibitan, akan salah 60 tahun. Jadi kami pengalaman, pada saat pembibitan itu nggak boleh salah,” tegasnya.

Data Kementan menunjukkan anggaran program tersebut dicairkan secara bertahap. Tahun 2025 dialokasikan sebesar Rp 2,54 triliun. Anggaran meningkat menjadi Rp 5,63 triliun pada 2026, lalu Rp 1,58 triliun pada 2027.

Sebagian besar anggaran digunakan untuk komoditas yang memiliki prospek pasar besar, baik di dalam negeri maupun ekspor.

Komoditas kakao mendapat alokasi terbesar, yakni Rp 2,49 triliun. Anggaran untuk kopi mencapai Rp 2,16 triliun. Program pengembangan tebu memperoleh Rp 1,52 triliun, termasuk biaya tanam dan pengadaan benih.

Kelapa mendapat alokasi Rp 1,16 triliun. Komoditas mete memperoleh Rp 500 miliar. Sementara lada dan pala mendapatkan anggaran sekitar Rp 350 miliar.

Kementan berharap program peremajaan dan penguatan benih ini dapat meningkatkan produktivitas perkebunan nasional. Peningkatan produksi dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing ekspor Indonesia di pasar global.

Sejumlah komoditas yang menjadi sasaran program tersebut selama ini menjadi sumber pendapatan utama petani di berbagai daerah. Produktivitas yang lebih tinggi diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi sektor perkebunan dalam beberapa tahun mendatang.[]