Masalah Banjir dan Sampah di Kota Denpasar

banner 468x60

Penulis: I Gusti Ngurah Bagus Nurlastama, Praktisi Sumber Daya Air dan Mahasiswa Program Magister Universitas 17 Agustus Surabaya

Banjir di Kota Denpasar bukan lagi fenomena alam semata, melainkan cerminan dari persoalan tata kota dan pengelolaan lingkungan yang belum optimal. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian banjir bahkan semakin meluas dan berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat serta perekonomian kota.

banner 336x280

Secara alami, curah hujan tinggi memang menjadi pemicu utama banjir. Namun, kondisi di Denpasar menunjukkan bahwa faktor manusia memiliki peran yang tidak kalah besar. Sungai-sungai seperti Tukad Badung kerap meluap saat hujan deras karena tidak mampu menampung debit air yang meningkat . Hal ini diperparah dengan kondisi drainase yang tidak berfungsi optimal.

Salah satu akar masalah yang paling nyata adalah sampah. Sampah yang menyumbat saluran air, baik dari aktivitas lokal maupun kiriman dari hulu, menyebabkan aliran air terhambat sehingga mudah meluap ke permukiman . Bahkan, krisis pengelolaan sampah disebut sebagai salah satu pemicu utama banjir parah di Bali . Ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya isu kebersihan, tetapi juga berkaitan langsung dengan bencana.

Kenapa sampah dapat menyumbat aliran tidak terlepas dari pengelolaan sampah dan kebijakan pengelolaan sampah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali yang menutup TPA Suwung sedangkan masyarakat belum mendapat bantuan dalam  melakukan pengolahan sampah secara mandiri yaitu berupa “TEBE MODERN” , sehingga terjadi penumpukan sampah di pinggir jalan yang ada di kota Denpasar karena larangan buang sampah organik ke TPA Suwung.

Di sisi lain, perkembangan kota yang pesat juga memperburuk keadaan. Alih fungsi lahan secara masif—dari lahan terbuka menjadi permukiman dan kawasan komersial—mengurangi daya resap air tanah. Selain itu, adanya penutupan atau penyempitan saluran drainase demi kepentingan pembangunan turut memperparah risiko banjir . Kota menjadi semakin kedap air, sehingga limpasan permukaan meningkat drastis saat hujan.

Menurut saya, permasalahan banjir dan sampah di Denpasar adalah contoh nyata dari kurangnya keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Pembangunan yang tidak diiringi dengan perencanaan drainase serta pengelolaan sampah yang berkelanjutan oleh pemerintah daerah dalam  menyiapkan fasilitas pengolahan sampah yang baik serta kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah hanya akan menciptakan masalah berulang.

Solusi yang diperlukan tidak bisa parsial. Pemerintah perlu memperkuat sistem drainase kota, menertibkan tata ruang, serta membantu masyarakat dalam membuat tebe modern dan juga pengolahan sampah residu dan daur ulang. Di sisi lain, masyarakat juga harus mengubah perilaku, terutama kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Saat ini pemerintah Provinsi Bali terkesan tidak serius dalam membantu masyarakat dalam menyiapkan “Tebe Modern” dan cenderung lepas tangan untuk sampah organik khususnya dan pengolahan sampah lainnya sehingga sampah menumpuk di depan rumah warga yang mengakibatkan pada saat musim  hujan masuk kedalam saluran dan terbawa sampai ke sungai sehingga terjadi penyumbatan sungai seperti yang terjadi pada tanggal 10 september 2025, pemerintah Provinsi Bali harus mengambil langkah nyata dan tidak hanya wacana, gelontorkan dana untuk membuat ‘Tebe Modern di rumah warga atau di lingkungan warga dengan memanfaatkan fasilitas umum yang ada, jangan membebani masyarakat yang sudah hidup susah untuk membuat “tebe Modern” sendiri sehingga sampah tidak  mengalir ke saluran dan sungai yang mengakibat banjir akibat sumbatan sampah.

banner 336x280