Don Muzakir: Pesan Wamentan Sudaryono dalam Bahasa Jepang Jadi Inspirasi Baru bagi Generasi Tani Muda

DETIKMERDEKA — Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir, menilai pidato Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI Sudaryono saat wisuda doktor IPB University sebagai momentum inspiratif bagi lahirnya generasi muda pertanian yang percaya diri, berilmu, dan siap menghadapi tantangan global. Menurutnya, pesan yang disampaikan Sudaryono bukan sekadar motivasi akademik, tetapi juga refleksi perjalanan sosial anak petani yang berhasil menembus panggung nasional.

Dalam prosesi wisuda di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Rabu (11/2/2026), Sudaryono sempat mengejutkan ribuan wisudawan ketika menyampaikan perkenalan diri menggunakan bahasa Jepang. Ia memperkenalkan dirinya sebagai anak petani asal Grobogan, Jawa Tengah, yang kini menjabat Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia.

Bagi Don Muzakir, momen tersebut memiliki makna simbolik yang kuat. Ia melihat penggunaan bahasa Jepang bukan hanya bentuk kemampuan akademik, tetapi pesan bahwa anak petani Indonesia mampu bersaing di level global.

“Mas Dar menunjukkan bahwa latar belakang bukan penghalang. Dari anak petani di desa, beliau bisa menembus pendidikan tinggi dunia dan kini berada di posisi strategis negara. Ini pesan penting bagi generasi muda tani Indonesia bahwa mereka bisa naik kelas,” ujar Don Muzakir.

Menurut Don, pernyataan Sudaryono yang menyebut para wisudawan sebagai the chosen one mencerminkan tanggung jawab sosial kaum terdidik terhadap masyarakat, khususnya sektor pertanian. Ia menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus berujung pada kontribusi nyata, bukan hanya pencapaian pribadi.

“Gelar akademik bukan tujuan akhir. Itu amanah untuk memikirkan solusi bagi rakyat, bagi petani, dan bagi masa depan pangan bangsa. Apa yang disampaikan Mas Dar sejalan dengan semangat Tani Merdeka, yaitu membangun pertanian berbasis ilmu dan keberpihakan pada petani,” katanya.

Don Muzakir juga menyoroti pesan Sudaryono agar generasi muda tidak terjebak dalam keraguan dan overthinking. Ia menilai, dalam konteks pertanian modern, keberanian mengambil peluang dan kesiapan meningkatkan kapasitas diri menjadi kunci transformasi sektor pangan.

“Pertanian hari ini membutuhkan anak muda yang siap belajar, siap bekerja keras, dan siap berubah. Ketika Mas Dar mengatakan ‘future is mystery’ dan ‘menjemput takdir’, itu bukan slogan, tapi filosofi perjuangan. Masa depan pertanian Indonesia ditentukan oleh generasi yang mau bergerak,” tegas Don.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan bahasa asing sebagaimana disampaikan Wamentan. Dalam era pertanian global, kemampuan tersebut dinilai menjadi syarat mutlak agar petani Indonesia tidak tertinggal dalam inovasi dan persaingan internasional.

Menutup pernyataannya, Don Muzakir menegaskan bahwa pendekatan sains dan akademik harus menjadi fondasi pembangunan pertanian nasional. Ia menyebut pesan Sudaryono relevan dengan arah transformasi pertanian yang berbasis data, riset, dan teknologi.

“Pertanian tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama. Sains, riset, dan pendekatan akademik adalah jalan masa depan. Apa yang disampaikan Wamentan Sudaryono menjadi pengingat bahwa pendidikan, ilmu, dan kerja keras adalah kunci membangun kedaulatan pangan Indonesia,” pungkasnya.