Sampah Ciputat dan Alarm bagi Manajemen Operasional Perkotaan

TANGERANG SELATAN – Penumpukan sampah di sejumlah kawasan Ciputat kembali menjadi perhatian publik. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya volume sampah, tetapi juga mengungkap persoalan dalam sistem pengelolaan kebersihan perkotaan, terutama pada aspek perencanaan, pengawasan, serta efektivitas manajemen operasional yang belum berjalan optimal.

Tumpukan sampah di beberapa kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, menjadi sorotan publik dalam kurun waktu terakhir. 

Di sejumlah ruas jalan dan Tempat Pembuangan Sementara (TPS), tumpukan sampah terlihat menumpuk hingga menutup sebagian badan jalan. Kondisi tersebut menimbulkan bau tidak sedap yang mengganggu aktivitas warga sekitar serta memicu keluhan masyarakat. 

Situasi ini ramai diperbincangkan melalui media sosial dan diberitakan oleh berbagai media massa nasional maupun lokal, yang menunjukkan bahwa persoalan sampah telah menjadi isu publik yang mendesak untuk segera ditangani.

Persoalan ini sebetulnya bukan sekadar tentang banyaknya sampah yang menumpuk di ruang publik. Lebih dalam dari itu, krisis sampah di Ciputat menyingkap masalah serius dalam sistem manajemen operasional, khususnya terkait bagaimana perencanaan, pengorganisasian, dan pengawasan proses kerja di lapangan dijalankan. 

Ketika seluruh elemen tersebut tidak berfungsi secara optimal dan tidak terintegrasi dengan baik, dampaknya dapat terlihat jelas dalam bentuk operasi kebersihan yang tidak berjalan efektif dan cenderung macet di tengah jalan.

Di Mana Peran Manajemen Operasional?

Dalam teori manajemen operasional, Heizer dan Render menjelaskan bahwa manajemen operasional merupakan proses mengelola sumber daya agar kegiatan organisasi dapat berjalan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Jika konsep ini diterapkan pada konteks pengelolaan sampah perkotaan, maka proses manajemen operasional mencakup rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan sampah dari rumah warga, pengangkutan menuju TPS, hingga pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Masalah muncul ketika rantai operasional tersebut tidak berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. 

Di kawasan Ciputat, berbagai laporan menunjukkan adanya keterlambatan pengangkutan sampah, kondisi TPS yang mengalami kelebihan kapasitas, serta keterbatasan jumlah armada dan petugas kebersihan. Hal ini mengindikasikan adanya kelemahan dalam fungsi planning dan organizing. 

Tanpa perencanaan jadwal yang efisien dan pembagian tugas yang jelas, sistem pengelolaan sampah akan sulit berjalan secara optimal dan berkelanjutan.

Selain itu, koordinasi antar unit kerja juga menjadi tantangan tersendiri dalam manajemen operasional kebersihan. Pengelolaan sampah melibatkan berbagai pihak, mulai dari petugas lapangan, dinas terkait, hingga pihak pengelola TPA. Ketika koordinasi ini tidak berjalan dengan baik, proses operasional di lapangan menjadi tidak sinkron dan berujung pada penumpukan sampah di berbagai titik.

Lebih parah lagi, fungsi controlling atau pengawasan juga terlihat belum berjalan secara konsisten. Idealnya, pemerintah daerah memiliki mekanisme evaluasi rutin untuk memastikan setiap proses operasional kebersihan berjalan sesuai target dan standar pelayanan. 

Namun, dalam praktiknya, evaluasi sering kali baru dilakukan setelah permasalahan membesar dan menjadi sorotan publik. Akibatnya, penanganan yang dilakukan terkesan bersifat reaktif dan terlambat, bukan preventif dan terencana sejak awal.

Saat Manajemen Tak Berjalan, Dampaknya Terasa

Manajemen operasional yang belum berjalan optimal di sektor publik seperti ini memiliki dampak yang luas. Dampak paling nyata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari terganggunya kenyamanan lingkungan hingga meningkatnya risiko kesehatan. 

Sampah yang menumpuk berpotensi menjadi sumber penyakit, mencemari saluran air, serta menurunkan kualitas hidup warga yang tinggal di sekitar lokasi penumpukan.

Dari sisi ekonomi, inefisiensi dalam pengelolaan sampah juga berdampak pada meningkatnya biaya operasional. 

Pemerintah daerah harus mengerahkan tenaga dan anggaran tambahan untuk membersihkan tumpukan sampah yang sudah terlanjur menggunung. Selain itu, kondisi lingkungan yang tidak terkelola dengan baik dapat berdampak pada menurunnya citra kota. 

Kepercayaan masyarakat terhadap kinerja instansi publik pun ikut tergerus ketika permasalahan yang sama terus berulang tanpa solusi jangka panjang yang jelas.

Masalah Terus Berulang, Manajemen Perlu Dievaluasi

Jika akar permasalahan terletak pada aspek manajemen, maka solusi yang ditawarkan juga harus berbasis pada perbaikan manajerial. 

Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional kebersihan, mulai dari perencanaan jadwal armada pengangkut, penambahan sumber daya manusia yang proporsional, hingga peningkatan kapasitas dan pelatihan petugas kebersihan agar koordinasi di lapangan berjalan lebih tertata.

Pengawasan juga perlu ditingkatkan melalui pemanfaatan teknologi dan digitalisasi sistem pelaporan. Masyarakat dapat diberikan akses untuk melaporkan lokasi penumpukan sampah melalui aplikasi yang terintegrasi langsung dengan Dinas Lingkungan Hidup. 

Dengan sistem tersebut, penanganan dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat sasaran, dan transparan. Partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam mendukung efektivitas manajemen operasional kebersihan kota.

Selain itu, dukungan kebijakan dan alokasi anggaran yang memadai menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan pengelolaan kebersihan perkotaan. Tanpa dukungan tersebut, upaya perbaikan sistem manajemen operasional akan sulit berjalan secara maksimal. Evaluasi berkala dan pengawasan yang konsisten perlu dilakukan agar permasalahan serupa tidak terus berulang di masa mendatang.

Krisis sampah di Ciputat bukan hanya persoalan tumpukan limbah di jalan dan TPS melainkan cerminan dari sistem kerja yang belum efisien dan terkelola dengan baik. Keberhasilan pengelolaan kota tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi sangat ditentukan oleh seberapa efektif manajemen operasional dijalankan dalam praktik sehari-hari. 

Dengan perencanaan yang matang, pengawasan yang kuat, dukungan kebijakan yang jelas, serta partisipasi aktif masyarakat, pengelolaan sampah dapat berjalan lebih optimal sehingga lingkungan perkotaan tetap bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga.

Penulis: 
– Novia Shintania (0301524041)
– Nafisa Naila Firdaus (0301524037)
– Qinaya Nur Amalia (0301524043)

Penulis adalah Mahasiswa Manajemen, Universitas Al Azhar Indonesia (UAI)
Dosen: Prof. Dr. Dewi Elfidasari, S.Si., M.Si.