DETIKMERDEKA – Badan Energi Internasional (IEA) mendorong percepatan pelepasan sekitar 100 juta barel minyak dari cadangan darurat guna menekan kenaikan harga energi global. Langkah ini dilakukan menyusul konflik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Negara-negara anggota IEA sepakat mempercepat penyaluran cadangan minyak yang telah dijanjikan sebelumnya. Pasokan diesel menjadi prioritas karena ketersediaannya di pasar global masih terbatas, dilansir dari CGTN, Kamis (8/10/2026).
Sejak kesepakatan pada Maret lalu, sekitar 325 juta barel minyak telah dilepas ke pasar internasional. Sebelumnya, pada 11 Maret, sebanyak 32 negara anggota IEA menyetujui pelepasan 400 juta barel minyak, yang menjadi langkah terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut.
Saat ini, negara-negara anggota IEA masih memiliki sekitar 1,1 miliar barel cadangan minyak darurat, termasuk lebih dari 200 juta barel diesel. IEA menyatakan siap menambah pasokan apabila kondisi pasar membutuhkan.
Sementara itu, pemerintah Prancis juga berencana melepas 10 juta barel solar dari cadangan strategis nasional. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu mengatakan kebijakan tersebut diharapkan mampu menurunkan harga bahan bakar sekitar 12 hingga 18 sen euro per liter.
Program yang direncanakan berlangsung selama tiga bulan itu bertujuan mengurangi beban masyarakat dan dunia usaha akibat tingginya harga energi.
Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa tekanan harga energi berpotensi berlangsung hingga 2027.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, saat berbicara di Singapura pada Rabu (7/10/2026), menyebut gangguan pasokan dan tingginya biaya transportasi masih menjadi tantangan bagi pasar energi global.
Menurut Georgieva, meskipun pasokan energi dari kawasan Teluk mulai pulih, harga minyak dunia masih berada di kisaran 100 dolar AS per barel. Sementara itu, harga diesel dan bahan bakar olahan tetap tinggi akibat terbatasnya kapasitas penyulingan global.
Ia juga mengingatkan bahwa Asia dan Eropa menjadi kawasan yang paling terdampak gangguan pasokan energi, terutama akibat ketidakpastian pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz.
“Tekanan harga mungkin akan meningkat lebih lanjut karena negara-negara mengisi kembali cadangan dan permintaan meningkat seiring dengan datangnya musim dingin di Belahan Bumi Utara,” kata Georgieva, sebagaimana dikutip CGTN.






