DETIKMERDEKA – Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan menangguhkan sementara operasi evakuasi ratusan kapal yang terjebak di kawasan Teluk setelah terjadi dugaan serangan terhadap sebuah kapal kargo di Teluk Oman. Informasi ini dilansir Al Jazeera.
Sebuah kapal kargo dilaporkan menjadi sasaran serangan saat melintasi Selat Hormuz pada Kamis (26/6). Menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), kapal tersebut dihantam proyektil yang mengenai sisi kanan lambung kapal ketika berada sekitar 14 kilometer di tenggara Pelabuhan Dahit, Oman.
Sumber keamanan maritim yang dikutip kantor berita Reuters menyebut kapal tersebut kemungkinan diserang menggunakan drone. Namun hingga kini belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Insiden itu membuat IMO menghentikan sementara rencana evakuasi yang sebelumnya telah dimulai pada Selasa (24/6). Program tersebut bertujuan mengevakuasi sekitar 600 kapal dan 11.000 pelaut yang terjebak akibat penutupan Selat Hormuz selama konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam pelaksanaannya, IMO menyiapkan dua jalur evakuasi, yakni melalui perairan Iran dan perairan Oman dengan pengawasan Amerika Serikat, guna membantu kapal-kapal keluar dari kawasan Teluk secara aman. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, mengatakan keputusan penundaan diambil untuk memastikan seluruh jaminan keselamatan bagi kapal-kapal yang akan dievakuasi tetap terpenuhi.
“Saya telah memutuskan untuk menunda sementara pelaksanaan rencana evakuasi guna menegaskan kembali bahwa jaminan keselamatan yang diperlukan tetap berlaku bagi kapal-kapal dalam daftar evakuasi kami maupun seluruh kapal yang beroperasi di kawasan tersebut,” kata Dominguez dalam pernyataannya.
Dominguez menjelaskan, sebelum operasi dimulai, IMO telah memperoleh jaminan keamanan dan melakukan verifikasi bahwa kondisi pelayaran dinilai aman. Namun, munculnya laporan serangan terhadap kapal yang baru saja melintasi Selat Hormuz mendorong organisasi tersebut untuk mengevaluasi kembali situasi keamanan sebelum melanjutkan proses evakuasi.
Penangguhan ini menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan energi paling strategis di dunia, yang hingga kini masih dibayangi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.






