Iran Kritik AS Jelang Piala Dunia 2026, Amir Ghalenoei Sebut Ketegangan Politik Rusak Semangat Sepak Bola

DETIKMERDEKA – Ketegangan politik antara Iran dan Amerika Serikat mulai membayangi pelaksanaan Piala Dunia 2026. Tim nasional Iran mengeluhkan sejumlah hambatan yang mereka hadapi menjelang turnamen, mulai dari persoalan visa hingga penempatan markas tim yang berada di Meksiko, bukan di wilayah Amerika Serikat sebagai salah satu negara tuan rumah.

Pelatih kepala Iran, Amir Ghalenoei, menilai situasi tersebut bertentangan dengan semangat persatuan yang selama ini diusung FIFA melalui ajang sepak bola terbesar di dunia itu.

Dalam konferensi pers tim pada Senin (15/6/2026), Ghalenoei mengatakan berbagai kebijakan yang diterapkan terhadap timnya berpotensi mengganggu atmosfer kompetisi dan mengurangi nilai-nilai sportivitas yang seharusnya menjadi identitas Piala Dunia.

“Perilaku seperti ini akan berdampak negatif pada semangat sepak bola. Baik kita menang maupun kalah, ini adalah perasaan yang sulit,” kata Ghalenoei seperti dikutip Al Jazeera, Senin (15/6/2026).

Pernyataan tersebut muncul di tengah sorotan terhadap hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat yang masih diwarnai ketegangan. Isu penolakan visa bagi sejumlah warga Iran serta potensi aksi protes selama turnamen diperkirakan akan menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara.

Sebelumnya, pejabat FIFA telah mengingatkan para jurnalis untuk memfokuskan pertanyaan kepada pemain dan staf tim pada aspek olahraga. Namun, isu politik tetap menjadi topik yang sulit dihindari karena dinilai memiliki dampak langsung terhadap persiapan tim.

Penyerang Iran, Mehdi Taremi, juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi yang berkembang menjelang Piala Dunia 2026. Menurutnya, atmosfer yang biasanya identik dengan kegembiraan dan persatuan kini terganggu oleh berbagai ketegangan di luar lapangan.

“Kami tidak memiliki pengalaman indah yang selalu kami bicarakan, yaitu kedamaian dan kegembiraan,” ujar Taremi, dikutip Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa antusiasme yang biasanya menyertai perhelatan Piala Dunia kini terasa berbeda karena adanya faktor-faktor nonteknis yang membayangi perjalanan tim nasional Iran.

“Perasaan yang biasanya dirasakan orang-orang saat menantikan Piala Dunia, saya rasa kali ini mungkin mereka tidak mengalaminya dengan cara yang sama. Ketegangan semacam ini merusak kegembiraan itu. Ini merusak pesan FIFA,” kata Taremi.

Kritik dari kubu Iran menjadi ujian tersendiri bagi FIFA dan penyelenggara Piala Dunia 2026 yang selama ini mengusung pesan inklusivitas, persatuan, dan perdamaian melalui sepak bola. Situasi tersebut juga menunjukkan bahwa dinamika geopolitik masih dapat memengaruhi penyelenggaraan ajang olahraga global, termasuk turnamen sebesar Piala Dunia.