Prabowo Jadi Cerminan Demokrasi yang Sejuk dan Damai

Prabowo Jadi Cerminan Demokrasi yang Sejuk dan Damai

DETIKMERDEKA.COM- Pesta demokrasi yang seharusnya menjadi momentum untuk bertarung gagasan para pemimpin, berubah menjadi kontestasi “politik identitas” yang kurang beradab. Hal ini terjadi, lantaran banyaknya para provokator yang ingin memecah belah bangsa Indonesia

Namun, Prabowo yang pada saat itu maju menjadi calon Presiden RI, mampu meredam sejumlah massa  para pendukungnya. Dengan kerendahan hatinya, Prabowo mengakui dan menerima hasil Pemilu yang dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI).

Padahal jika ingin memaksa, Prabowo dan massa pendukungnya bisa saja terus melakukan perjuangan dalam menggugat KPU yang saat itu, diduga melakukan manipulasi suara. Namun, seorang prajurit tahu kapan ia harus berjuang dan kapan ia harus berhenti untuk kepentingan yang lebih besar.

Dari pada harus menelan korban manusia Indonesia yang berharga, kata Prabowo, lebih baik mengalah untuk melindungi rakyat-rakyat yang dicintainya. 

Ketua Umum Partai Gerindra itu pernah berujar begini kira-kira; “satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit.” Artinya, Prabowo tak mau, kehidupan demokrasi di Indonesia ini, harus diwarnai dengan permusuhan seperti dikutip dari laman mypresident.id, Minggu (12/3/23)

Keputusan itu menjadi titik balik hubungan antara Jokowi dan Prabowo. Dua pemimpin dan kader bangsa ini, mampu memberi gambaran kepada kita bahwa demokrasi tak melulu soal pertarungan, konflik dan lain-lain. Demokrasi juga bisa menjadi ajang kesejukan, kedamaian, dan kerja sama yang saling membangun.

Jokowi kemudian memutuskan mengajak Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) di kabinet “Indonesia Maju.”

Karena menurutnya, orang yang paling tepat untuk membantunya membangun pertahanan adalah Prabowo Subianto. Dan terbukti hari ini, pertahanan kita, perlahan tapi pasti, mengalami kemajuan dan dipandang oleh negara lain.

Namun, siapa sangka, keputusan untuk masuk ke kabinet, bukanlah keputusan yang mudah bagi Prabowo. Keputusan itu, ternyata menjadi salah satu keputusan yang berat bagi mantan Pangkostrad itu.

Dalam podcast “Total Politik,” Wakil Ketua Umum Bidang Penggalangan Massa DPP Partai Gerindra, Ferry Juliantono, pernah bercerita salah satu keputusan terberat Prabowo dalam politik adalah, saat harus bergabung dengan pemerintahan.

Ferry bercerita mengenai ketegangan masyarakat pasca Pilpres 2019 yang cukup tajam, terutama saat demonstrasi sengketa hasil pemilu 2019. Menurutnya, Prabowo menjadi simbol utama dalam meredam ketegangan tersebut.

“Beliau (Prabowo) menyampaikan bahwa sudah terlalu banyak korban yang ada dan berjatuhan, dan pada saat itu kita diminta untuk membubarkan diri, dan kemudian beliau akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Pak Jokowi,” katanya

“Dan kita bisa merasakan sekarang, polarisasi yang terjadi, di masyarakat pada saat menjelang pemilu 2019 atau setelahnya, berangsur pelan-pelan tereduksi dan landai sekali. Dan itu juga salah satunya berkat keputusan politiknya Pak Prabowo dengan segala konsekuensinya,” tandas Ferry.