Pejuang Demokrasi Dua Era, Begini Kedekatan Soe Hok Gie dan Prabowo

Pejuang Demokrasi Dua Era, Begini Kedekatan Soe Hok Gie dan Prabowo 

DETIKMERDEKA.COM- Siapa yang tidak mengenal nama Soe Hok Gie? Para pecinta alam tentu saja sangat mengenal Soe Hok Gie. Namanya kerap kali diidentikkan dengan gunung. Hal tersebut, karena kegemaran memuncak dan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya.  

Gie adalah seorang aktivis berketurunan Tionghoa Indonesia yang lahir pada 17 Desember 1942. Masa kecilnya sangat melekat dengan lingkungan Indonesia. Ayahnya bernama Soe Lie Piet atau dikenal dengan nama Salam Sutrawan. Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara. Kakaknya adalah Soe Hok Djie atau dikenal dengan nama Arif Budiman, seorang Guru Besar di Universitas Melbourne.

Ia adalah seorang aktivis pergerakan di Universitas Indonesia pada masa era Orde Lama dan Orde Baru. Sebagian hidupnya, banyak ia habiskan dalam dunia tulis menulis. Tulisannya yang kritis di berbagai media massa, membuat banyak pemerintah pada saat itu dibuat gerah olehnya. Hal ini, karena Gie kerap kali mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah dengan kritis dan tajam. 

Bahkan, karena tulisannya yang kritis itu, konon yang membuat Orde Lama runtuh oleh Gie dan aktivis-aktivis pergerakan lainnya. Ia juga dikenal banyak memprotes Presiden Soekarno dan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang pada saat itu sedang dalam masa kejayaannya. 

Nah, banyak yang belum tahu, ternyata Soe Hok Gie sendiri punya kedekatan dengan Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI), Prabowo Subianto. Hal tersebut dibuktikan dalam salah satu tulisannya. Nama Prabowo ternyata pernah disebut sepintas oleh Soe Hok Gie, dalam bukunya “Catatan Seorang Demonstran” yang muncul pada tahun 1969 dengan sebutan “Bowo.”

“Dari pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai,” tulis Gie pada Kamis 29 Mei 1969.

Dalam catatannya tersebut, Prabowo Subianto digambarkan sebagai sosok yang kanak-kanak namun cerdas dan tanggap. “Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naif. Kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah,” kata Gie, sebagaimana terekam dalam catatan Soe Hoek Gie 25 Mei 1969.

Sebagaimana dalam keterangan “Pinter Politik” (2020), pada tahun 1967, sebuah proyek sukarelawan pembangunan di seluruh Indonesia yang disebut proyek “Pioneer Corps” menarik sejumlah mahasiswa dari Gerakan Pembaharuan Indonesia (GPI), termasuk Soe Hok Gie, untuk ikut terlibat di dalamnya. 

Proyek tersebut diinisiasi oleh anak dari Soemitro Djojohadikoesoemo, yang tak lain adalah Prabowo Subianto sendiri. Dari sinilah sebetulnya hubungan kekerabatan antara Prabowo dan Gie dimulai. Namun, nampaknya Gie dan Prabowo punya pandangan yang berbeda. Gie lantas meragukan kemampuan Prabowo untuk merealisasikan proyek tersebut secara efektif. 

Meskipun Gie tak terlibat lagi dalam proyek tersebut sejak 1969, namun hubungan kekerabatan antara Gie dan Prabowo tak memudar karena hal itu. Konon, kesamaan antara Gie dan Prabowo dalam bidang sosial politik, membuat persahabatan keduanya sangat kental. 

Kedekatan tersebut menurut wartawan senior Sinar Harapan, Daud Sinjal, yang dikutip dari rmol.id, tampak terlihat ketika sepatu yang digunakan almarhum Soe Hok Gie pada saat wafat di gunung Semeru adalah sepatu yang dipinjamnya dari Prabowo Subianto. “Karena mereka dekat, jadi ada cerita sepatu So Hok Gie naik gunung yang dipinjamnya dari Prabowo,” kata Daud. 

Prabowo yang saat itu masih berusia 18 tahun juga turut menjemput jenazah almarhum Soe Hok Gie dan mengusung bersama ribuan mahasiswa lainnya ke tempat persemayaman terakhir sang aktivis sosial politik tersebut 

sumber mypresident.id