DETIKMERDEKA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa dampak nyata bagi petani di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain meningkatkan gizi anak sekolah, program ini juga membantu penyerapan hasil pertanian warga.
Samuel Surodadi, petani asal Desa Kadiwano, Kecamatan Umalulu Timur, mengaku sebelum ada MBG, hasil panen sayurnya kerap tidak terjual di pasar. Kondisi itu membuat sebagian hasil tani membusuk, bahkan terpaksa dijadikan pakan ternak.
Kini situasi tersebut berubah. Sejak adanya dapur MBG di wilayahnya, seluruh hasil panen bisa terserap dengan baik.
“Kami bersyukur hasil tani kami bisa laku, anak-anak kami bisa makan dengan teratur,” ujar Samuel.
Ia menuturkan, sebelumnya penghasilan dari bertani kacang-kacangan tidak menentu, bahkan paling tinggi hanya sekitar Rp100 ribu per hari. Setelah memasok kebutuhan dapur MBG, pendapatannya meningkat hingga tiga kali lipat menjadi sekitar Rp300 ribu per hari tanpa biaya distribusi tambahan.
Menurut Samuel, keberadaan MBG juga berdampak pada semangat belajar anak-anak. Mereka kini berangkat sekolah tanpa harus menahan lapar.
Sebagai Ketua Gapoktan Bina Kasih, Samuel berinisiatif mengatur pola tanam petani agar penyerapan komoditas lebih merata dan berkelanjutan. Para petani dibagi untuk menanam berbagai komoditas seperti kacang panjang, buncis, sawi, wortel, kol, mentimun, jagung, labu siam, hingga kentang dan buah-buahan.
Total terdapat 21 petani yang tergabung dalam Gapoktan Bina Kasih yang tersebar di sembilan desa. Saat ini mereka memasok kebutuhan sayuran ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kadi Wano.
Kebutuhan rutin dapur MBG tersebut meliputi buncis 70 kg, kacang panjang 70 kg, wortel 40 kg, jagung manis 40 kg, labu siam 80 kg, sawi 100 kg, kentang 10 kg, dan mentimun 80 kg.
Samuel berharap program MBG dapat terus berlanjut sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas, baik bagi petani maupun bagi pemenuhan gizi anak-anak di NTT.













