DETIKMERDEKA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Indonesia. Program ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan status gizi anak-anak sekolah, tetapi juga dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal serta menciptakan lapangan kerja baru.
Sebagai kebijakan publik di sektor sosial, MBG menjadi contoh nyata program yang menghasilkan multiplier effect. Dampaknya meluas dari aspek kesehatan hingga ekonomi, terutama di daerah-daerah tempat program ini dijalankan.
Manfaat utama MBG dirasakan langsung oleh anak-anak sekolah sebagai penerima program. Dalam satu tahun pelaksanaan, MBG telah menjangkau sekitar 55,1 juta anak di berbagai wilayah Indonesia. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 82,9 juta anak pada 2026.
Para orang tua siswa pun merasakan perubahan positif. Salah seorang orang tua siswa di Kecamatan Kota Tambulaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran MBG. Menurutnya, sebelum program berjalan, anak-anak kerap berangkat ke sekolah tanpa sarapan.
Kini, anak-anak dapat mengikuti kegiatan belajar dengan kondisi fisik yang lebih baik dan semangat yang meningkat karena mendapatkan asupan makanan bergizi setiap hari.
Dari sisi ekonomi, Program Makan Bergizi Gratis turut mendorong perputaran ekonomi daerah. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai pembentukan dapur sehat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berpotensi memperkuat ekonomi lokal karena memanfaatkan bahan pangan dari produk setempat.
“Multiplier effect dari program makan bergizi gratis ini adalah terciptanya lapangan pekerjaan baru dan pangsa pasar baru bagi masyarakat sekitar lokasi pelaksanaan program,” ujar Eliza, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (25/1).
Dengan berbagai manfaat tersebut, Program Makan Bergizi Gratis dinilai memiliki tujuan strategis bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus penguatan ekonomi nasional. Evaluasi secara berkelanjutan tetap diperlukan agar pelaksanaan program semakin optimal, tanpa mengurangi keberlanjutannya.













