DETIKMERDEKA.COM- Partai Gerindra pernah menggelar kampanye di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat pada tahun 2014 lalu. Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto datang dengan menunggang kuda dan membawa keris.
Saat itu Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membeberkan alasan Prabowo datang dengan mengenakan keris di pinggang. Ahok mengatakan Prabowo merupakan salah satu keturunan Pangeran Diponegoro sehingga wajar memakai keris tersebut.
” Beliau kan memang turunan Pangeran Diponegoro,” ujar Ahok di Balai Kota kala itu.
Lalu apakah betul Prabowo memiliki trah Pangeran Diponegoro? Kakek Prabowo, Margono Djojohadikusumo menuliskan asal usul keluarganya dalam bukunya ‘Kenang-kenangan dari Tiga Zaman’. Tulisan Margono ini dulu dimuat di koran milik Mochtar Lubis Indonesia Raya pada kurun April sampai Agustus 1969 hingga kemudian dibukukan. Ini asal usulnya seperti dirangkum detikmerdeka.com berikut ini
Jalur Banjak Lebar
Dalam bukunya kakek Prabowo, Margono Djojohadikusumo menjelaskan asal usul keluarganya. Menurut Margono, hubungan keluarganya dengan Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825-1830) agak sulit dipahami. Margono menjelaskan, pada saat masih kanak-kanak mendapat cerita dari ayahnya (buyut Prabowo) bahwa kakeknya (leluhur Prabowo) adalah Raden Tumenggung Kartanegara. Di banyak keluarga, nama itu lebih dikenal sebagai Banjak Wide.
Banjak Lebar ini adalah salah satu hulubalang Pangeran Diponegoro dan salah seorang keturunan Keraton Paku Buwono III di Solo. Berbulan-bulan lamanya Banjak Wide mempertahankan bentengnya setelah Pangeran Diponegoro ditawan Belanda ke Manado lantas Makassar. Akhirnya Banjak Wide menghentikan perlawanan dan membuang Belanda ke Ternate.
Jalur Djojodiningrat
Jalur lain dari leluhur Ibu Margono juga mempertautkan ada hubungan antara dia sebagai kakek Prabowo dengan salah satu pengikut Diponegoro. Kakek Margono dari jalur ibu (leluhur Prabowo) bernama Raden Mas Adipati Djojodiningrat. Dia adalah putra dari Pangeran Moerdodiningrat. Sebagai pemuda, Djojodiningrat memakai nama Djojoprono dan berpihak pada Diponegoro. Dia menjadi kawan seperjuangan Banjak Wide.
Karena luka-lukanya, Djojodiningrat dibebaskan dari tugas perlawanan. Sesudah itu dia diangkat oleh Belanda menjadi bupati Karanganyar (Kedu Selatan). Sementara Banjak Wide setelah diasingkan ke Ternate pulang ke Jawa dan menjadi bupati Roma, juga di Kedu Selatan, sekarang masuk wilayah selatan Kebumen.
Margono menjelaskan, Banjak Wide dan Djojodiningrat lantas berbesanan satu sama lain. Putra Banjak Wide menikah dengan putri Djojodiningrat. Dari pernikahan itu lahirlah buyut Margono, Pangeran Murdoningrat (canggah Prabowo). Ada yang menarik dari besanan leluhur Prabowo itu. Mereka pernah berpamali, siapapun yang keturunannya dilarang mengikat tali kekeluargaan dengan keturunan Sentot Alibasja Prawirodirdjo. Sentot adalah salah satu opsir Diponegoro yang sangat ditakuti meskipun baru berusia 18 tahun saat melakukan pembunuhan. Sentot kemudian dibujuk Belanda untuk meletakkan senjata pada tanggal 17 Oktober 1829 dan dikirim ke Sumatera Barat untuk melawan pemberontakan para ulama dalam Perang Padri.
Menurut Margono, dua kali larangan itu dilanggar dan keluarganya mendapat musibah. Seorang saudari ayahnya kawin dengan keturunan Sentot tidak lama kemudian bercerai. Kakak Margono yang tertua menikah dengan gadis keturunan Sentot, keduanya meninggal di dunia dalam usia muda. “Seorang berpendidikan barat boleh mengangkat bahu mendengar, tapi saya hanya mengungkapkan fakta-fakta seperti yang telah dituturkan kepada saya,” tulis Margono.
Margono Djojohadikusumo
Margono Djojohadikusumo adalah kakek dari Prabowo Subianto. Dia adalah pendiri Bank Negara Indonesia. Margono merupakan orangtua dari Begawan Ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo, dan juga ayah dari dua pemuda yang gugur dalam peristiwa “Pertempuran Lengkong”: Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna Soejono Djojohadikusumo. “Pikiran saya ditelan dalam lautan kepiluan,” kenang Margono saat mendengar kabar meninggalnya dua anak itu.
Dikutip wikipedia, Margono Djojohadikusomo menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI pada tanggal 29 April 1945. Sehari setelah pelantikan Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wapres, dibentuk Kabinet Presidensil dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Sebagai Ketua DPAS yang pertama ditunjuklah Margono Djojohadikusomo. Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia hak angket pertama kali digunakan DPR pada tahun 1950-an. Ihwalnya berawal dari usul ketetapan oleh Margono Djojohadikusomo agar DPR mengadakan hak angket atas usaha memperoleh devisa dan cara penggunaan devisa.
Soemitro Djojohadikusumo
Soemitro Djojohadikoesoemo yang lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 29 Mei 1917 adalah ayah dari Prabowo Subianto. Dia dikenal sebagai salah satu tokoh ekonomi Indonesia yang terkenal. Murid-muridnya banyak yang berhasil menjadi menteri pada era Soeharto seperti JB Sumarlin, Ali Wardhana, dan Widjojo Nitisastro. Dalam pemerintahan, posisi yang pernah diembannya adalah sebagai Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Riset.
Saat kedua adiknya meninggal dalam pertempuran Lengkong, Sumitro sedang belajar di luar negeri. Setelah pulang dari luar negeri, Sumitro mengawali baktinya kepada negara dengan diperbantukan kepada PM Sutan Sjahrir.
Sumber asli merdeka.com






