DETIKMERDEKA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menilai skema penyajian prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpeluang diterapkan di Aceh. Namun, penerapannya perlu menyesuaikan kesiapan dapur penyedia makanan dan kondisi sekolah.
Sudaryono menyampaikan hal tersebut saat meninjau pelaksanaan MBG di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cot Meuraja, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar, pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Menurut Sudaryono, skema prasmanan saat ini telah diterapkan oleh 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah Indonesia. Penerapan tersebut menjadi bagian dari uji coba untuk melihat efektivitas sistem penyajian makanan bagi para penerima manfaat MBG.
“Sangat mungkin [skema prasmanan MBG dilakukan di Aceh]. Sudah 62 SPPG seluruh Indonesia, di antaranya Meurauke, Madura, Jawa, dan Riau,” kata Sudaryono.
Sudaryono menjelaskan, BGN sedang menguji coba sistem prasmanan selama dua pekan. Uji coba ini bertujuan untuk melihat manfaatnya sekaligus mengidentifikasi kendala yang mungkin muncul selama pelaksanaan.
“Insya Allah, tidak ada masalah signifikan. Kami menargetkan hingga akhir tahun ini setidaknya 1.000 sampai 5.000 dapur dapat melaksanakan MBG dengan sistem prasmanan,” jelasnya.
Sudaryono menilai sistem prasmanan menunjukkan hasil yang relatif positif. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah tingkat konsumsi makanan oleh siswa serta kondisi makanan saat disajikan.
“Selain itu, makanan dibawa ke kelas dalam keadaan hangat sehingga lebih segar dan lebih enak disantap,” ungkapnya.
Meski demikian, penerapan sistem prasmanan tidak akan dilakukan secara serentak di semua sekolah. BGN akan memulai dari dapur yang mampu dan bersedia menjalankan sistem tersebut, serta sekolah yang memiliki kesiapan untuk menerapkannya.
“Kami ingin menguji coba sesuatu yang baik. Harapannya, sekolah dan dapur lain yang belum menerapkannya dapat melihat hasilnya, kemudian mengikuti praktik yang sudah berjalan dengan baik,” katanya.
Penerapan sistem ini juga perlu mempertimbangkan kondisi setiap sekolah. Ketersediaan ruang makan, jumlah siswa, serta usia peserta didik menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses makan berlangsung tertib.
Kepala SDN Cot Meuraja, Elliyana, mengatakan sistem prasmanan memang dapat memudahkan penyajian makanan. Namun, ia menilai ada tantangan jika konsep tersebut diterapkan di sekolah dasar, terutama bagi siswa kelas awal.
“Tetapi untuk anak-anak SD, apalagi kelas 1 mungkin agak sulit. Kalau prasmanan, harus ada ruangan besar untuk tempat makan. Sementara di sekolah kami, lahannya sudah tidak tersedia lagi kalau harus membangun ruang makan yang besar,” ujar Elliyana.
Kendala lahan menjadi salah satu pertimbangan bagi sekolah yang ingin menerapkan sistem prasmanan. Karena itu, penerapan skema tersebut perlu disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.[]






