Menko Pangan: Sinergi Koperasi Desa Merah Putih dan MBG Pastikan Buka Pasar Baru

DETIKMERDEKA – Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mulai terhubung dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sinergi tersebut dinilai membuka kepastian pasar bagi hasil budi daya masyarakat melalui penyerapan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pola itu telah diterapkan di KDMP Kamolan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Koperasi tersebut memasok lele bersih ke empat SPPG sebagai bahan baku sumber protein untuk menu Program MBG.

“Inilah yang kita bangun, sebuah closed-loop economy. Warga memiliki kepastian pasar, koperasi menjadi penggerak ekonomi desa, dan anak-anak memperoleh sumber protein berkualitas melalui Program MBG,” kata Zulhas dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, pada Senin, 4 Agustus 2026.

Menurut Zulhas, kolaborasi tersebut membentuk rantai ekonomi desa yang saling terhubung. Warga membudidayakan ikan, koperasi mengelola hasil produksi, sedangkan SPPG menjadi pembeli tetap yang menyerap hasil panen untuk kebutuhan Program MBG.

Model itu ditinjau langsung Zulhas bersama Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Menteri Kelautan dan Perikanan, anggota DPR RI, serta Bupati Blora di unit budi daya bioflok KDMP Kamolan.

Saat ini, KDMP Kamolan memasok lele bersih ke empat SPPG dengan harga Rp25.000 per kilogram. Setiap SPPG rata-rata memesan sekitar 250 kilogram lele dalam satu kali pengambilan.

Menurut Zulhas, pola tersebut memberikan kepastian permintaan bagi para pembudidaya. Petani ikan dapat mengatur jumlah produksi dan jadwal panen sesuai kebutuhan dapur MBG.

Unit budi daya bioflok Kamolan mulai beroperasi pada Februari 2026. Pada siklus pertama, unit usaha tersebut menghasilkan sekitar 1,04 ton lele.

Produksi terus meningkat pada siklus berikutnya. Pengelola telah melakukan panen parsial sekitar 605 kilogram dan masih melanjutkan proses pemeliharaan ikan di kolam lainnya.

Saat ini, 22 dari 24 kolam bioflok telah terisi dengan sekitar 92.000 benih lele. Penebaran benih dilakukan secara bertahap agar waktu panen dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasokan empat SPPG.

Zulhas menilai keterhubungan antara produksi masyarakat, koperasi, dan SPPG menjadi model yang dapat memperkuat ekonomi desa sekaligus mendukung penyediaan pangan bergizi.

“Integrasi KDMP dengan MBG menjadi bukti bahwa program pemerintah kini terhubung dari hulu hingga hilir. Produksi masyarakat terserap, ekonomi desa bergerak, dan manfaatnya kembali kepada masyarakat melalui penyediaan pangan bergizi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Zulhas.

Menurutnya, peran koperasi tidak lagi sebatas lembaga simpan pinjam, tetapi berkembang menjadi pengelola usaha produktif yang membantu masyarakat memperoleh akses pasar secara berkelanjutan.

Pemerintah berharap model seperti di Kamolan dapat diterapkan di daerah lain yang memiliki potensi perikanan maupun komoditas pangan lainnya. Pola tersebut dinilai mampu menciptakan rantai pasok yang lebih pendek, menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan pembudidaya, serta memastikan kebutuhan bahan baku Program MBG dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Secara nasional, pemerintah menargetkan produksi ikan budi daya pada 2026 mencapai 7,15 juta ton. Target tersebut didukung melalui Program Budi Daya Tematik Bioflok yang dirancang untuk meningkatkan produksi ikan, membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi desa, dan memasok kebutuhan protein bagi Program Makan Bergizi Gratis.