Pertanian Dinilai Bisa Jadi Penopang Ekonomi Saat Rupiah Melemah

DETIKMERDEKA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang diperkirakan berpotensi menembus Rp17.522 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai tidak selalu berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut justru disebut bisa menjadi momentum memperkuat sektor pertanian nasional.

Menurut Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kadin Indonesia, Devi Erna Rachmawati, tekanan kurs memang membuat biaya impor pangan, pupuk, hingga bahan baku pertanian meningkat. Namun, situasi itu juga membuka peluang bagi penguatan produksi dalam negeri.

“Ketika dolar naik, negara pengimpor akan terpukul. Tetapi negara dengan sektor pertanian yang kuat justru bisa bangkit. Karena itu, krisis kurs harus diubah menjadi momentum memperkuat fondasi ekonomi nasional berbasis pangan dan pertanian,” ujar Devi.

Devi menilai langkah paling mendesak saat ini adalah mempercepat swasembada pangan nasional. Komoditas strategis seperti beras, kedelai, jagung, hingga sumber protein nabati lokal perlu diperkuat produksinya agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor.

Harga pangan impor yang semakin mahal akibat pelemahan rupiah dinilai bisa membebani masyarakat dan industri pangan nasional. Karena itu, pemerintah didorong meningkatkan cadangan pangan strategis untuk menjaga stabilitas harga di pasar.

Selain memperkuat produksi pangan, Devi juga menyoroti pentingnya hilirisasi sektor pertanian. Menurut dia, Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada ekspor bahan mentah.

Produk pertanian dinilai harus diolah menjadi barang bernilai tambah agar mampu meningkatkan devisa negara. Ia mencontohkan singkong yang bisa diolah menjadi tepung mocaf, kedelai menjadi protein nabati, hingga kelapa dan sawit yang dikembangkan menjadi produk bioenergi dan oleochemical.

“Ketika dolar tinggi, produk olahan ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global. Ini peluang besar untuk meningkatkan devisa dan memperkuat industri pangan nasional,” katanya.

Pelemahan rupiah juga disebut memberi keuntungan bagi eksportir karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah. Sejumlah komoditas pertanian Indonesia dinilai memiliki peluang besar memperluas pasar ekspor.

Komoditas seperti kopi, kakao, rempah-rempah, sawit, produk organik, hingga hortikultura tropis disebut masih diminati pasar internasional. Pemerintah pun didorong memperluas akses pasar, mempercepat sertifikasi global, dan memperkuat branding produk pangan Indonesia di luar negeri.

Devi juga menilai ketergantungan Indonesia terhadap pupuk impor dan bahan baku pakan ternak harus segera dikurangi. Penguatan dolar AS membuat harga pupuk dan pakan melonjak sehingga biaya produksi petani ikut meningkat.

Sebagai solusi, ia mendorong pengembangan pupuk organik, biofertilizer, fermentasi pakan lokal, hingga pertanian regeneratif yang dinilai lebih efisien dan berkelanjutan.

“Momentum ini juga bisa membuka industri baru berbasis pertanian lokal dan bioeconomy,” ujarnya.

Modernisasi pertanian juga dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi produksi nasional. Devi mendorong penerapan smart farming, drone pertanian, precision agriculture, kecerdasan buatan (AI), greenhouse modern, hingga digitalisasi distribusi pangan.

Menurut dia, teknologi akan membantu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi petani.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan sejumlah kajian internasional. Food and Agriculture Organization dan World Bank menilai negara dengan basis pertanian kuat cenderung lebih tahan menghadapi gejolak global dan volatilitas mata uang dibanding negara yang bergantung pada impor pangan.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang ekonomi nasional. Pada kuartal I-2026, sektor pertanian tumbuh sekitar 4,97 persen secara tahunan dan berkontribusi sekitar 12,67 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Devi menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi lumbung pangan Asia jika momentum pelemahan rupiah dimanfaatkan dengan tepat.

“Strategi terbaik saat dolar tinggi adalah memperkuat produksi pangan nasional, mempercepat hilirisasi, dan membangun ekspor pertanian berbasis teknologi. Krisis kurs bisa berubah menjadi peluang besar jika pertanian dijadikan fondasi utama ekonomi nasional,” katanya.[]