Ade Armando Blak-blakan soal Mundur dari PSI, Singgung Desakan dari Internal Partai

DETIKMERDEKA – Pegiat media sosial sekaligus mantan politikus Ade Armando mulai terbuka soal alasan pengunduran dirinya dari Partai Solidaritas Indonesia. Pengunduran diri itu berkaitan dengan kasus hukum dugaan penghasutan dan ujaran kebencian yang menjerat dirinya.

Ade resmi mundur dari PSI pada 5 Mei 2026 melalui konferensi pers di kantor DPP PSI, Jakarta. Saat itu, ia menyebutkan pelaporan hukum terhadap dirinya telah menyeret nama partai terlalu jauh dan dikhawatirkan berdampak terhadap elektabilitas PSI menuju Pemilu 2029.

Namun dalam wawancara di kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking, pada Senin, 11 Mei 2026, Ade mengungkap alasan lain di balik keputusannya hengkang dari partai yang dipimpin Kaesang Pangarep tersebut.

“Kalau Anda bilang ada enggak tekanan gitu ya. Sebetulnya, saya udah dengar suara-suara di dalam PSI yang mengatakan bahwa saya harus diberhentikan, dikeluarkan,” ujar Ade.

Ade mengaku telah mengizinkan isi wawancara itu untuk dikutip. Ia menyebutkan ada pihak di internal PSI yang menilai keberadaannya mengganggu proses rebranding partai. Meski begitu, Ade mengaku belum memahami sepenuhnya arah citra baru PSI.

Menurut Ade, keberadaannya di PSI dianggap menyulitkan partai untuk menarik pemilih muslim. Ia mengaku sudah lama mendengar bisik-bisik agar dirinya tidak lagi berada di partai.

“Nah itu dikatakan bahwa saya sebaiknya tidak lagi berada di PSI. Itu saya sudah dengar walaupun belum ada orang yang ngomong langsung ke saya,” kata Ade.

Ade juga menilai PSI mulai melakukan perubahan strategi politik untuk memperbaiki elektabilitas partai agar bisa lolos ke parlemen pada Pemilu 2029.

Ia meyakini kekuatan politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menarik dukungan masyarakat kepada PSI.

“Yang perlu dilakukan adalah menggunakan kekuatan Pak Jokowi itu untuk menarik para pendukung Jokowi untuk melirik dan mendukung PSI. Di situ yang mesti kita lakukan,” ujarnya.

Ade kemudian menyoroti perubahan arah partai yang menurutnya mulai meninggalkan nilai-nilai pluralisme dan penghargaan terhadap kebhinekaan.

Ia juga menyinggung cara sebagian kader baru merespons isu-isu yang berkaitan dengan kelompok Islam.

“Masalahnya itu ditafsirkan dengan cara begini, pokoknya begitu ada keributan dengan kelompok yang menyebut mereka kelompok Islam ini harus langsung ditanggapi tapi dengan tidak cara yang elegan,” kata Ade.

Kasus hukum yang menjeratnya disebut menjadi titik puncak yang membuat posisinya di PSI semakin sulit. Ade merasa partai tidak lagi memberikan dukungan penuh terhadap dirinya.

“Saya tidak ingin menyalahkan. Tapi ketika itu, PSI sendiri tidak mendukung saya jadinya. Karena tadi saya katakan, saya sudah dengar ada kalimat-kalimat Ade Armando mengganggu sekali, udah dilepasin aja,” ujarnya.

Pernyataan Ade kemudian mendapat tanggapan dari Ketua DPP PSI Bidang Politik Bestari Barus. Ia menegaskan Ade kini bukan lagi bagian dari PSI sehingga persoalan hukumnya menjadi tanggung jawab pribadi.

Bestari juga menyebut Ade tidak pernah lagi dilibatkan dalam aktivitas internal partai setelah Kongres PSI di Solo. Menurutnya, Ade hanya berstatus anggota biasa yang pernah menjadi calon legislatif PSI.

“Menjadi penting untuk diketahui masyarakat umum juga bahwa armando tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan PSI pasca kongres Solo. Sekedar anggota biasa yang kebetulan pernah diberi kesempatan untuk jadi Caleg PSI,” ujar Bestari.

Ia meminta Ade tidak lagi ikut campur dalam urusan internal partai dan fokus membenahi dirinya sendiri.

“Ketimbang itu, ada baiknya saudara ade armando introspeksi diri dan menata diri sendiri dan tidak turut campur mengurusi institusi PSI dari sini dan ke depan,” kata Bestari.[]