Prabowo Minta Maaf, Sebut Intensitas Koordinasi Tinggi hingga Dini Hari

banner 468x60

DETIKMERDEKA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada para menterinya karena mengakui dirinya kerap terlalu mengontrol atau melakukan micromanagement dalam menjalankan pemerintahan.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam forum Indonesia-Japan Business Forum yang berlangsung di Tokyo, Jepang, pada Senin (30/3/2026).

banner 336x280

Dalam kesempatan itu, Prabowo menggambarkan gaya kepemimpinannya sebagai sosok manajer yang terjun langsung hingga ke detail pekerjaan para bawahannya. Ia bahkan mengakui sering menghubungi para menteri di luar jam kerja untuk memastikan berbagai hal berjalan sesuai rencana.

“Saya adalah manajer yang terjun langsung. Para menteri saya, maafkan saya karena terlalu micromanage. Saya akui, saya seorang manajer yang terlalu mengontrol,” ujarnya.

Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya tidak segan menghubungi para menteri pada waktu-waktu yang tidak biasa, bahkan dini hari, untuk menanyakan perkembangan terkini, termasuk hal-hal yang sangat detail seperti harga kebutuhan pokok.

“Saya bisa menelepon menteri saya pukul dua pagi atau lima pagi, hanya untuk menanyakan harga telur hari ini,” katanya.

Menurut Prabowo, kebiasaan tersebut berangkat dari keinginannya untuk memastikan seluruh kebijakan pemerintah berjalan efektif dan responsif terhadap kondisi di lapangan, terutama terkait kebutuhan masyarakat.

Namun, di balik komitmen tersebut, ia mulai menyadari adanya dampak terhadap kondisi para pembantunya di kabinet. Prabowo mengaku menyesal karena gaya kepemimpinannya yang sangat intens berpotensi memengaruhi kesehatan para menteri.

Ia mengungkapkan adanya laporan mengenai beberapa pejabat yang mengalami kelelahan hingga harus mendapatkan perawatan medis.

“Saya merasa sedikit menyesal, karena beberapa menteri saya pingsan di depan umum. Bahkan ada laporan pejabat senior dirawat di rumah sakit karena masalah jantung,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat Prabowo melakukan refleksi terhadap gaya kepemimpinannya. Ia menilai pendekatan yang terlalu detail dan intens dalam mengawasi pekerjaan bisa memberikan tekanan berlebih bagi jajaran di bawahnya.

“Jadi saya merasa bersalah. Mungkin itu karena atasan mereka terlalu mengontrol,” lanjutnya.

Meski demikian, pernyataan ini juga menunjukkan komitmen Prabowo dalam menjaga kinerja pemerintahan tetap optimal, terutama dalam mengawasi isu-isu strategis seperti stabilitas harga pangan dan kesejahteraan masyarakat.

Ke depan, Prabowo mengisyaratkan perlunya keseimbangan antara pengawasan langsung dan pemberian ruang kerja yang lebih fleksibel bagi para menteri, agar kinerja tetap maksimal tanpa mengorbankan kesehatan dan daya tahan kerja.

Pernyataan ini sekaligus menjadi gambaran gaya kepemimpinan Prabowo yang dikenal tegas, detail, dan berorientasi pada hasil, namun kini mulai disertai evaluasi untuk menciptakan ritme kerja yang lebih berkelanjutan di lingkungan kabinet.

banner 336x280