Penulis: Samsuddin Alamsyah, Mahasiswa Sosiologi, UIN Sunan kalijaga
Pemenang tidak berpihak pada siapa yang jahat atau baik, benar atau salah, pemenang berpihak pada mereka yang lebih kuat. Polemik konflik Iran – Israel menuai berbagai opini publik yang saling melontarkan dalihnya masing-masing. Salah satu sudut pandang yang ramai diperbincangkan ialah sektor ekonomi.
Berdasarkan perspektif Karl Marx disebut “determinisme Ekonomi”, bahwa konflik terjadi karena adanya perebutan kekuasaan di sektor ekonomi. Dalam konteks konflik Iran – Israel dapat ditinjau dari sisi penutupan jalur Selat Hormuz sebagai salah satu jalur perdagangan minyak terbesar di dunia.
Hal ini menguntungkan Amerika Serikat karena harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi US$ 72 per barel dari US$ 65-67 per barel.
Ditinjau dari teori konflik Max Weber, bahwa konflik tak hanya dipengaruhi oleh sektor ekonomi, namun juga dipengaruhi oleh apa yang disebut Max Weber sebagai prestise sosial dan pengaruh politik. Jika dikontekskan pada konflik Iran-Israel dalam ranah prestise sosial, menunjukkan bahwa keuntungan pemenang dari konflik tersebut akan mengakuisisi pengakuan prestise sosial dimata internasional.
Bagi Israel yang disokong oleh Amerika Serikat akan semakin mengafirmasi statusnya sebagai negara adidaya. Sebaliknya jika Iran yang memenangkan konflik tersebut akan meneguhkan status Iran sebagai bangsa Persia yang dikenal sebagai bangsa yang besar. Siapapun pemenang dari konflik tersebut akan memiliki pengaruh politik yang kuat ditingkat internasional.
Prestise Sosial dan Pengaruh Politik Amerika Serikat
Kepemimpinan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat mengalami banyak persoalan yang mendegradasi prestise sosialnya yang jika tidak diatasi dengan baik akan menggorogoti pengaruh politiknya. Sebagaimana yang dinarasikan oleh Center on Budget and Policy Priorities bahwa Presiden Trump dan pemerintahannya telah merusak dan mengkorupsi banyak fungsi dasar pemerintahan, termasuk alokasi dana yang tepat dan tepat waktu yang disetujui oleh Kongres, yang menyebabkan lebih banyak gangguan dan kerugian. pemotongan besar-besaran terhadap jaminan kesehatan, bantuan pangan, dan program kebutuhan dasar lainnya, ditambah dengan kenaikan tarif yang menambah tantangan keterjangkauan bagi keluarga. Masyarakat sudah merasakan dampak dari beberapa pemotongan dan kebijakan ini, dan tekanan akan semakin meningkat seiring dengan implementasi pemotongan lainnya dalam beberapa tahun mendatang menyebabkan rapuhnya prestise sosial Trump dan buruknya dampak dari pengaruh politiknya sebagai Presiden Amerika Serikat.
Akibat dari persoalan kepemimpinan Trump tersebut membuatnya mesti mengambil alternatif dalam menaikkan prestise sosialnya. Amerika Serikat yang menyokong Israel dalam konflik dengan Iran berimplikasi terhadap meningkatnya Prestise Sosial maupun Pengaruh Politik Amerika Serikat. Satu pekan pasca perang dengan Iran, Amerika Serikat tampaknya telah menetapkan empat tujuan utama: (1) menghancurkan angkatan laut Iran, (2) mengancurkan kemampuan rudal Iran, (3) mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, (4) Mencegah Iran mendukung kelompok proksi, seperti Hizbullah di Lebanon atau Houthi di Yaman. Para pejabat pemerintah terutama Trump dalam pernyataan awalnya mengenai perang telah mengisyaratkan bahwa perubahan rezim juga termasuk diantara tujuan mereka, tetapi secara konsisten mengesampingkan pesan ini dalam beberapa hari terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat berupaya mengonstruksi kerapuhan prestise sosial dan pengaruh politiknya dengan memanfaatkan konflik Iran-Israel.
Tiga Akuisisi Kekuasaan Menurut Max Weber
Potret kekuasaan dapat ditinjau dari bagaimana kekuasaan itu diraih. Max Weber membaginya dalam tiga bentuk. Pertama, Tradisional. Kekuasaan yang diperoleh dari tradisional ialah kekuasaan yang diwariskan secara keturunan yang biasanya dipegang oleh Kerajaan. Kedua, Legal-Rasional. Pemerolehan kekuasaan secara legal-rasional ialah kekuasaan diraih berdasarkan sistem yang tertuang dalam undang-undang, seperti pemilihan umum yang dijalankan oleh negara-negara yang demokrasi. Ketiga, Kharisma. Seseorang dapat memperoleh kekuasaan karena memiliki kharisma. KH. Ahmad Dahlan, salah satu contoh dari pemimpin yang dengan kharismanya memperoleh kepercayaan Masyarakat untuk dijadikan pememimpin.
Klasifikasi pemerolehan kekuasaan yang digagas oleh Max Weber dapat menjadi pisau analisis terhadap konflik yang terjadi antara Iran-Israel. Khususnya dalam hal kharisma, jika Israel memenangkan konflik maka berimplikasi terhadap eskalasi kharismanya dimata para pendukungnya serta membuat segan lawan-lawannya. Begitupun dengan Iran yang sejak ribuan tahun dikenal sebagai bangsa Persia yang perkasa akan semakin unjuk gigi tatkala percaturan konflik tersebut ditaklukkannya.
Dunia menyoroti bahwa apa yang dilakukan Amerika-Israel dalam meraih khariswa dimata global dengan cara menindas, memerangi dan segala macam bentuk kejahatannya, sebaliknya banyak yang berpihak pada Iran yang membela tanah air serta menolak tunduk pada Amerika-Israel. Akan tetapi, perlu diingat bahwa yang lebih kuatlah yang akan menjadi pemenang. Jika ingin kebaikan atau kebenaran yang menjadi pemenang maka jadilah yang lebih kuat. Ini bukan hanya berlaku pada Iran semata, tapi berlaku dalam segala lini kehidupan kita.
(***)













