DETIKMERDEKA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga daging sapi di tingkat konsumen yang beredar di pasaran masih berada dalam koridor Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah. Pernyataan ini disampaikan menyusul munculnya informasi mengenai kenaikan harga daging sapi di sejumlah daerah.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menjelaskan bahwa informasi harga daging sapi yang disebut melampaui HAP umumnya merujuk pada daging sapi kualitas super.
“Kabar mengenai harga daging sapi di beberapa pasar yang disebut melampaui HAP di tingkat konsumen, itu adalah jenis daging sapi kualitas super,” ujar Ketut dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, daging kualitas super merupakan daging tanpa lemak atau yang sering disebut sebagai daging polosan. Sementara itu, ketentuan HAP yang diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024 mengacu pada daging sapi kualitas standar, yaitu potongan paha belakang segar yang masih memiliki sedikit tempelan lemak.
Dalam regulasi tersebut, harga acuan di tingkat konsumen berada pada kisaran Rp105.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Rinciannya, paha belakang segar maksimal Rp140.000 per kilogram, paha depan segar Rp130.000 per kilogram, dan paha depan beku Rp105.000 per kilogram.
“Jadi yang Rp160.000 per kg itu adalah daging kualitas super. Itu tidak kami atur. Yang pemerintah atur adalah harga daging sapi yang standar, yaitu paha belakang yang masih sedikit ada lemaknya. Maksimal harganya Rp140.000,” tegas Ketut.
Bapanas juga meminta Satuan Tugas Pangan di daerah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai perbedaan kualitas daging sapi beserta rentang harga yang berlaku di pasar.
“Pengawasan digencarkan karena minggu ini adalah minggu yang sangat krusial. Puncak kenaikan permintaan diprediksi terjadi mulai besok hingga Rabu depan,” kata Ketut.
Data Badan Pusat Statistik mencatat adanya kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging sapi di 90 kabupaten/kota pada minggu pertama Maret 2026. Namun setelah dilakukan analisis lebih lanjut, mayoritas harga masih berada dalam koridor HAP.
Dari jumlah tersebut, 32 daerah tercatat memiliki harga di atas HAP, sementara 58 daerah lainnya masih berada di bawah batas harga acuan pemerintah.
“Setelah kita bedah kembali, daerah yang di atas harga itu bisa kita kendalikan,” imbuh Ketut.
Sementara itu, Kepala Posko Satgas Pangan Polri, Zain Dwi Nugroho, menyampaikan bahwa tren kenaikan harga di tingkat provinsi mulai menunjukkan penurunan.
“Ini termasuk dampak dari kegiatan pemantauan yang kita lakukan,” kata Zain.
Bapanas mencatat selama periode 5 Februari hingga 11 Maret 2026 telah dilakukan lebih dari 47 ribu kegiatan pemantauan pasar. Selain itu, Satgas Pangan juga menerbitkan ratusan surat teguran, melakukan koordinasi pengisian stok, hingga penegakan hukum untuk menjaga stabilitas harga pangan.
Upaya pengawasan juga dilakukan di daerah. Di Kota Yogyakarta, Dinas Pertanian dan Pangan memperketat pengawasan daging sapi di sejumlah pasar tradisional menjelang Idulfitri.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Ashardini Eka Setianingsih, mengatakan pengawasan dilakukan untuk memastikan kualitas daging yang beredar memenuhi standar keamanan pangan.
“Pengawasan ini kami lakukan untuk memastikan bahwa daging sapi yang beredar berada dalam kondisi Asuh, yaitu aman, sehat, utuh, dan halal,” ujarnya.
Petugas juga memeriksa asal-usul daging yang dijual di pasar untuk memastikan produk berasal dari rumah pemotongan hewan bersertifikat dan memiliki nomor kontrol veteriner.
Di Kota Makassar, Wali Kota Munafri Arifuddin juga melakukan pemantauan harga bahan pokok di pasar tradisional dan ritel modern. Ia menilai secara umum harga bahan pangan masih relatif stabil menjelang Lebaran.
“Melihat kondisi di pasar masih agak slow di H-8 ini. Tapi secara umum, semua yang terkontrol oleh pemerintah berjalan sangat baik,” ujar Munafri.
Pemerintah Kota Makassar juga menggelar program pasar murah di sembilan titik untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau serta menekan potensi kenaikan harga menjelang Hari Raya Idulfitri.













