DETIKMERDEKA.COM — Kegiatan belajar mengajar berlangsung antusias pada sore itu (22/02/2026), di sebuah rumah sederhana di Gang Pelita II No.46, Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Tempat itu dikenal sebagai Sanggar Pelita, sebuah ruang belajar non-formal bagi anak-anak di kawasan bantaran Sungai Deli.
Pada kesempatan tersebut, mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Jurusan Pendidikan Sejarah, datang untuk melaksanakan praktik mengajar dalam mata kuliah Pengembangan Materi IPS. Dalam kegiatan itu, para mahasiswa memperkenalkan materi tentang pahlawan nasional kepada anak-anak yang hadir.
Sekitar 30 anak mengikuti kegiatan tersebut. Para mahasiswa mengenalkan sekitar 10 tokoh pahlawan nasional kepada anak-anak, mulai dari tokoh proklamasi hingga pahlawan pendidikan. Materi disampaikan melalui media visual yaitu pop-up book agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik.
Kegiatan belajar tidak hanya berisi penjelasan materi. Setelah sesi pembelajaran, anak-anak diajak mengikuti ice breaking dalam bentuk permainan kelompok sebagai evaluasi hasil belajar. Salah satu permainan yang dimainkan adalah flash card bergambar pahlawan nasional.
Anak-anak diminta menunjukkan gambar pahlawan yang sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Permainan berikutnya adalah menyusun puzzle gambar pahlawan. Setelah puzzle tersusun, anak-anak diminta mendeskripsikan tokoh pahlawan tersebut berdasarkan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya.
Metode pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan ini menggabungkan pendekatan kooperatif dan model pembelajaran deep learning. Tujuan kegiatan tersebut adalah agar peserta didik mampu memahami konsep pahlawan nasional, mengenal perjuangan para tokoh, serta meneladani nilai-nilai perjuangan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Sanggar Pelita sendiri memiliki cerita panjang sebelum menjadi ruang belajar seperti sekarang. Sanggar ini berdiri pada 11 Oktober 2020 di masa pandemi COVID-19. Narasumber dalam kegiatan wawancara, Teuku Muhammad Taslim, menceritakan bahwa awal berdirinya sanggar merupakan kolaborasi dua komunitas.
“Untuk sejarahnya, kami berdiri pada 11 Oktober 2020. Saat itu saya masih mahasiswa bersama teman-teman, dan momentumnya bertepatan dengan masa COVID-19,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini berawal dari perpaduan Komunitas Medan Bernalar dan Komunitas Masyarakat Peduli Sungai Deli. Komunitas Medan Bernalar sendiri bergerak di bidang literasi, terutama dalam menumbuhkan minat baca di kalangan muda.
Setiap hari Minggu, komunitas tersebut biasanya membuka lapak baca di Lapangan Merdeka Medan dengan menggelar tikar dan memajang buku-buku untuk dibaca masyarakat.
Dari aktivitas literasi itu, Taslim kemudian bertemu dengan seorang temannya yang aktif dalam kegiatan kepemudaan di kawasan bantaran Sungai Deli. Temannya tersebut terlibat dalam komunitas yang bergerak di bidang konservasi sungai.
“Ketika saya datang, saya bertemu dengan teman saya tersebut dan mengajak untuk berkolaborasi. Saya menawarkan agar komunitas kami dan komunitas kepemudaan di lingkungan ini bekerja sama, sehingga program kerja kami tidak hanya sebatas membaca buku di kalangan kami dan tidak hanya konservasi sungai di kalangan mereka. Kami ingin menghadirkan program baru berupa kegiatan belajar dan mengajar untuk kampung ini,” katanya.
Kolaborasi itu kemudian melahirkan program belajar mengajar yang hingga kini dikenal sebagai Sanggar Pelita.
Nama “Pelita” sendiri diambil dari nama gang tempat kegiatan tersebut berlangsung.
“Nama Sanggar Pelita sendiri diambil dari nama gang ini, yaitu Gang Pelita,” jelas Taslim.
Pada masa awal berdiri, pendekatan kepada anak-anak dilakukan secara persuasif. Salah satu kegiatan pertama yang diadakan adalah lomba mewarnai di pinggir Sungai Deli untuk menarik minat mereka.
“Setelah kegiatan selesai, kami bertanya kepada adik-adik apakah mereka ingin melanjutkan kegiatan seperti ini dan apakah mereka senang. Ternyata mereka antusias menyambut kehadiran kami,” ujarnya.
Sejak saat itu kegiatan dipindahkan ke rumah temannya yang dikenal anak-anak sebagai rumah Bang Memet, dan tempat tersebut kemudian menjadi lokasi tetap Sanggar Pelita hingga sekarang.
Kehadiran anak-anak di sanggar tidak pernah dipaksakan. Menurut Taslim, terkadang jumlah peserta memang menurun, tetapi selalu ada anak-anak yang tetap datang setiap minggu.
“Belajar tidak selalu menyenangkan, dan ada kalanya anak-anak merasa bosan karena setiap Minggu bertemu dengan orang yang sama,” katanya.
Namun semangat anak-anak biasanya kembali muncul ketika ada tamu atau relawan baru yang datang dengan kegiatan atau materi berbeda.
Sanggar Pelita memiliki slogan yang menjadi pegangan para relawan, yaitu “belajar mengajar, mengajar belajar.”
“Kami belajar sambil mengajar dan mengajar sambil belajar,” ujar Taslim.
Dalam menjalankan kegiatan ini, sanggar tidak memiliki pendanaan tetap maupun donatur resmi. Mereka juga tidak pernah mengajukan proposal pendanaan karena belum memiliki badan hukum atau legal standing. Meski demikian, beberapa pihak sering memberikan bantuan secara sukarela untuk mendukung kegiatan sanggar.
Salah satu sosok yang dianggap penting dalam perjalanan Sanggar Pelita adalah Abah Hasan, seorang figur yang menjadi pembina dan inspirasi bagi para relawan.
“Beliaulah yang menjadi barometer awal pergerakan kami,” kata Taslim.
Di Sanggar Pelita, para relawan berperan sebagai pendamping pendidikan non-formal. Fokus utama mereka adalah menumbuhkan minat anak-anak terhadap pendidikan.
“Kami ingin adik-adik memiliki keinginan untuk mengenyam pendidikan. Itu yang pertama kami kejar,” ujarnya.
Pendekatan yang digunakan menyesuaikan dengan gaya dan kesenangan anak-anak, sehingga kegiatan belajar sering dikombinasikan dengan aktivitas menyenangkan seperti permainan dan ice breaking. Mayoritas anak yang datang merupakan siswa sekolah dasar, terutama kelas 1 hingga kelas 6. Selain pendidikan dasar, Sanggar Pelita juga mulai fokus mengembangkan bakat seni anak-anak, seperti menggambar dan melukis.
“Kami ingin mereka bisa tampil dan dikenal melalui jalur pendidikan seni,” kata Taslim.
Beberapa karya lukisan bahkan digunakan sebagai bagian dari kegiatan penggalangan dana untuk operasional sanggar.
Namun perjalanan Sanggar Pelita tidak selalu mudah. Kawasan tempat sanggar berdiri sering mengalami banjir besar. Bahkan dalam salah satu bencana, ketinggian air mencapai sekitar tujuh meter dan hampir menenggelamkan rumah tempat kegiatan berlangsung.
“Buku-buku dan alat belajar kami habis terbawa air,” ujarnya.
Setelah bencana tersebut, Sanggar Pelita mendapat bantuan dari sebuah lembaga perfilman di Sumatra yang sedang menggarap film tentang kearifan lokal. Dana dari pemutaran film tersebut kemudian disalurkan sebagai donasi bencana, dan Sanggar Pelita menjadi salah satu penerimanya. Bantuan itu digunakan untuk membeli kembali buku serta memperbaiki fasilitas belajar yang rusak akibat banjir.
Taslim mengatakan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah membantu anak-anak memperoleh pendidikan dasar yang kuat.
“Jika pendidikan dasarnya bisa kami bantu dan perkuat, insya Allah mereka akan mampu membawa diri sendiri dan memiliki karya yang bernilai,” katanya.
Ia juga berharap kegiatan Sanggar Pelita dapat lebih dikenal, khususnya di kalangan mahasiswa di Kota Medan. Dalam kesempatan itu, Taslim juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar memanfaatkan masa kuliah dengan sebaik-baiknya.
“Pesan saya, tetap semangat kuliah. Tidak semua orang punya kesempatan duduk di bangku kuliah, dan kalian termasuk yang terpilih. Manfaatkan kesempatan itu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa masa kuliah seharusnya menjadi waktu untuk membangun pengalaman dan cerita hidup melalui berbagai kegiatan sosial.
Bagi Taslim dan para relawan, Sanggar Pelita bukan sekadar tempat belajar. Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi, tempat relawan dan anak-anak sama-sama belajar dari pengalaman. Ia juga mengingatkan bahwa dalam erakan sosial, perubahan anggota adalah hal yang wajar.
“People come and go. Penumpang boleh naik turun, yang penting kapal tetap berlayar,” ujarnya.
Melalui kegiatan sederhana setiap hari Minggu, Sanggar Pelita terus berusaha menjadi ruang belajar dan ruang harapan bagi anak-anak di bantaran Sungai Deli.
Penulis: Fifi Fathia – Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Medan













