DETIKMERDEKA – Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, memaparkan pengamatannya mengenai lubang raksasa di Jalan Buter, Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah.
Menurut Dwikorita, lubang tersebut berbeda dengan sinkhole atau lubang amblas.
“Kalau saya melihat dari video dan foto-foto gambar itu, ini nampaknya agak berbeda dengan Sinkhole yang pernah ditemukan di Sumatera Barat dan di beberapa wilayah lainnya,” ujarnya, pada Selasa, 3 Februari 2026.
Ia menjelaskan lubang raksasa di Aceh Tengah berbentuk memanjang dengan kedalaman sekitar 20–30 meter.
“Ini kan memanjang, jadi memang dalam, tapi dalamnya hanya sekitar 20, atau 30 meter, tidak sedalam Sinkhole yang merupakan corong mulut masuknya sungai bawah tanah,” kata Dwikorita.
Fenomena ini disebut mirip mahkota longsoran. “Ini seperti mahkota longsoran. Longsoran pada tanah pasir, saya lihat itu tanahnya seperti pasir dan/atau batu pasir yang lapuk. Ini kan memanjang, kayak lembah, alur sungai,” jelasnya.
Ia menambahkan longsor terjadi karena kohesi material tebing sangat lemah.
“Itu runtuh terus karena kohesi material tebingnya sangat lemah, seperti pelapukan batu pasir, atau bahkan sudah menjadi tanah pasir.”
Dwikorita menduga longsor dipicu getaran gempa maupun getaran kendaraan berat.
“Kenapa longsor terus-menerus? Karena barangkali pernah ada getaran gempa di sekitarnya. Dugaan saya pernah ada getaran gempa meskipun tidak dirasakan oleh manusia tapi seismograf mencatat, dan tanah ini kohesinya sangat lemah sehingga mudah runtuh,” katanya.
Ia menambahkan getaran kendaraan juga bisa mempercepat runtuhan.
Sementara itu Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Ikhlas, mengatakan ukuran lubang raksasa itu terus membesar.
“Kemudian pada tahun 2022, kami pantau sudah mencapai 28.000, sekarang sudah di atas 30.000 meter persegi,” ujarnya. Padahal pada 2021 luasnya hanya 7.000 meter persegi.
Dalam sepekan terakhir, longsor telah memakan badan jalan raya, menghilangkan sebagian areal perkebunan, dan mengancam rumah warga. Ikhlas menjelaskan wilayah Aceh Tengah didominasi batuan vulkanik berupa tufa dan aliran piroklastik dari formasi Geureudong. Material tersebut bersifat lepas, mudah menyerap air, dan rawan jenuh saat hujan. Siklon Tropis Senyar pada akhir November 2025 disebut mempercepat pergerakan longsoran.
Ikhlas menyarankan penguatan tebing, penanaman vegetasi, serta perubahan jalur drainase untuk mencegah longsor meluas. Jalan alternatif kini dibuat di sisi kanan jalan karena jalur utama sudah terputus.
PLN juga memindahkan tower SUTET berkapasitas 150 kilovolt sejauh 150 meter dari lokasi rawan bencana. Proses relokasi menggunakan *emergency tower* berlangsung 3,5 jam dan menyebabkan pemadaman listrik sementara.
Pemerintah daerah masih melakukan pemantauan intensif. Fenomena lubang raksasa ini menjadi perhatian serius karena terus berkembang dan berpotensi mengganggu akses jalan serta pemukiman warga di Aceh Tengah.[]






