Kagumi Suhario Padmodiwiryo atau Hario Kecik, Begini Cerita Prabowo

Kagumi  Suhario Padmodiwiryo atau Hario Kecik, Begini Cerita Prabowo

DETIKMERDEKA.COM- “ Saya terkesan dengan riwayatnya Suhario Padmodiwiryo (Hario Kecik). Ia seorang pelajar kedokteran yang tidak terlalu mengerti politik tapi akhirnya menjadi pejuang,” tulis Prabowo Subianto, seperti dikutip dalam akun facebook, Kamis (6/4/23)

Menurut Prabowo, Hario Kecik adalah pelaku langsung pertempuran rakyat Surabaya melawan Inggris pada Oktober-November 1945. Ia (Hario Kecik) adalah bagian dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) dan menjadi salah satu pimpinannya. la adalah komandan Corps Mahasiswa Djawa Timur (CMDT).

Beliau memimpin hanya beberapa belas orang, tetapi terlibat dalam peristiwa- peristiwa yang menegangkan, yang merupakan pertempuran paling dahsyat yang dialami oleh Bangsa Indonesia dalam perang kemerdekaan.

Cerita Hario Kecik sangat sangat menarik. “ Saya sangat menganjurkan setiap anak muda Indonesia untuk baca memoarnya Hario Kecik. Terutama, bagaimana peran beliau dari siswa, menjadi mahasiswa kedokteran, dan akhirnya menjadi pejuang dan terus menjadi perwira tinggi TNI,” masih dikatakan Prabowo

Dalam memoarnya, menjelang detik-detik serangan 10 November, Hario mengatakan:

“Kami siap menghadapi kenyataan apapun yang akan diperagakan oleh musuh. Kami semua bukan ahli militer atau tentara profesional. Kami hanya ingin tetap merdeka,” ungkap Hario Kecik dalam memorinya

Keputusan dan penentuan di atas diambil dalam suasana yang sulit untuk digambarkan. Ketegangan, optimisme, keharuan, semangat, bercampur dengan kemarahan yang bersih di dalam hati para pemuda yang berkumpul di tempat itu, tidak mudah bisa diterangkan hanya dengan kata- kata.

Pada waktu itu saya juga terbawa oleh suasana. Hal itu sudah mulai waktu saya bersama-sama dengan para pemuda, menggali parit-parit pertahanan di halaman markas kami di Pasar Besar, di waktu kami mendengar kapal-kapal perang Inggris tiba di perairan Tanjung Perak.

Pikiran rasional atau lebih tepat ‘pikiran intelektual’ saya mengatakan bahwa markas kami sulit dipertahankan terhadap serangan musuh karena letak, bentuk, dan faktor-faktor lainnya. Tapi para pemuda bertekad mempertahankan markas. Hingga titik darah penghabisan.

Akhirnya saya sependapat dengan mereka, setelah ‘pikiran intelektual’ kalah dalam pergulatan sengit melawan ‘emosi’ atau ‘semangat’. Kami hanya punya waktu beberapa jam saja untuk bersiap 

Malam itu kami tidak bertele-tele membicarakan bagaimana garis komando, logistik, dan lain-lainnya. Kami semua merasa sudah siap dan tidak seorang pun diantara kami yang berkumpul itu menunjukkan keraguan.

Strategi-strategi yang rumit telah kami peras menjadi satu semboyan merdeka atau mati. Tidak ada yang mempersoalkan kekuatan musuh, dan tidak ada pula diantara kami yang menghitung kekuatan pihak kita.

Mungkin di bawah sadar, kami semua dengan cepat memutuskan bahwa hal itu sudah terlambat untuk diperhitungkan. Toh kita harus bertempur melawan musuh pada keesokan harinya.”

Begitu merinding saya membaca memoar ini. Inilah semangat yang membuat kita berhasil mempertahankan kemerdekaan kita. Inilah semangat yang membuat kita sebagai bangsa berhasil lulus ujian pertama dan mungkin ujian terberat setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Kepahlawanan, heroisme yang terwakili dalam sosok Hario Kecik sangat jelas dan pantas menjadi contoh bagi semua generasi penerus, contoh bagi semua anak-anak bangsa Indonesia.