Gelap-Terang Sejarah Prabowo Subianto di Timor Timur

Gelap-Terang Sejarah Prabowo Subianto di Timor Timur

DETIKMERDEKA.COM- Lepas dari Akabri, Prabowo Subianto masuk ke satuan elite korps baret merah. Dia pun menjalani hidup sebagai serdadu, seperti yang pernah dijalani pamannya yang mati muda sebagai letnan pada 1946. Nama sang paman, Subianto, kemudian menjadi nama tengah Prabowo.

Di satuan baret merah, siapapun harus siap dikirim ke daerah konflik. Prabowo akhirnya kebagian tugas ke Timor Timur. Dalam Buku Putih Prabowo: Kesaksian Tragedi Mei 1998 (2000: 38) disebutkan Prabowo tiba di sana pertama kali pada Maret 1976 sebagai komandan peleton. Nyawanya pun bisa terancam kapan saja.

“Hei, kalau saya tertembak, mudah-mudahan di pagi hari. Sebab kalau tertembak setelah pukul dua siang, tidak ada helikopter yang bisa datang menolong,” kenang Prabowo seperti dicatat dalam buku putih itu.

Seingat Prabowo kala itu jumlah helikopter ABRI di sana tidak banyak dan belum tentu bisa menjemputnya di lokasi jika dia tertembak dalam cuaca buruk. Prabowo selamat dalam tugas pertamanya itu. Dia tidak mati muda dengan pangkat letnan seperti pamannya.

Membunuh Lobato, Berkawan dengan Hercules

Pada penugasan kedua tahun 1978, Letnan Prabowo sudah menjadi Komandan Kompi Nanggala 28. Menjelang akhir tahun, Letnan Prabowo memberi laporan kepada Mayor Yunus Yosfiah: sekutu lokal mereka melihat pasukan Fretilin berjumlah besar bergerak ke arah selatan. Laporan itu sampai juga ke Kolonel Sahala Rajagukguk. Sahala lantas memerintahkan Yunus Yosfiah untuk segera mengambil tindakan. Perintah itu akhirnya sampai ke Prabowo.

Bersama kompi Nanggala 28, Prabowo bergerak dan terlibat pertempuran dengan Fretilin. Pasukan lain, dari Batalion 744, disiagakan untuk mencegat rombongan Fretilin itu. Dalam pertempuran jarak dekat, Sersan Satu Jacobus Maradebo berhasil menembak orang penting di pihak lawan. Orang tersebut adalah Nicolau dos Reis Lobato (saat itu 37 tahun), Presiden Fretilin.

Laporan pun sampai ke Jakarta, ke Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf. Dia lalu melapor ke presiden dan minta izin untuk mengecek langsung ke Timor Timur.

“Jangan kau apa-apakan dulu jenasahnya sampai aku melihat sendiri,” perintah Jusuf kepada Brigadir Jenderal Dading Kalbuadi lewat telepon, seperti dikisahkan Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit (2006: 370-371).

Hari itu juga Jusuf terbang ke Dili dan melihat langsung korban buruan ABRI.

Menurut Ken Conboy dalam Kopassus: Inside Indonesia’s Special Forces (2003: 290), keterlibatan Prabowo dalam pasukan yang membunuh Nicolau Lobato membuat atasannya terkesan pada pemuda ambisius itu. Prabowo tentu jadi lebih bersemangat dan merasa tidak salah memilih karier untuk dirinya sendiri.

Timor Timur tidak hanya jadi masa penting dalam karier Prabowo, tapi juga menjadi awal persahabatannya dengan pemuda asal Ainaro—yang kala itu menjadi Tenaga Bantuan Operasi (TBO)—bernama Rosario de Marshall alias Hercules. Mereka bersahabat sampai di Jakarta. Hercules jadi kepala preman dan Prabowo jadi komandan jenderal pasukan elite baret merah seperti dikutip dari Tirto.id